Duduk Paling Depan: RelationTips
Date With Me

Date With Me



Bisa dibilang saya ini korban novel teenlit yang suka saya baca waktu SMA. Makanya yang kegambar di pikiran saya ngedate itu pergi nonton, makan, dan main di arena permainan di mall kayak Timezone/Amazone, plus foto-foto di Photobox.

Bersama Tapi Tak Bahagia

Bersama Tapi Tak Bahagia

Setiap pasangan yang menikah pasti ingin bahagia, tapi jalan hidup nggak ada yang tahu, kan? Apa lagi sering kali setelah menikah, seluruh sifat asli pasangan dan keluarganya akan terbuka. 

Bisa jadi hal itu membuat kita menjadi nggak nyaman dan sadar, bahwa kita nggak cocok dengan sifat-sifat tersebut. 

Terus kalau pernikahan yang dijalani nggak bikin bahagia, kenapa terus-terusan mempertahankannya? 

Kasih Sayang yang Harus Dibiasakan

Kasih Sayang yang Harus Dibiasakan


Dulu waktu masih SD, tapi saya lupa tepatnya kelas berapa saya sering main ke rumah salah satu teman. Saking seringnya, tentu saya sering pula ketemu ayah dan ibunya. Dua-duanya pribadi yang ramah sama saya dan teman-teman lain yang main kesitu. 

Tapi, yang saya heran banget teman saya itu jarang banget ngobrol sama ayahnya. Biasanya dia hanya akan menegur ayahnya kalau disuruh ibunya untuk mengingatkan makan misalnya. 
5 Hal Tentang Seks yang Perlu Dibahas Bersama Suami/Istri

5 Hal Tentang Seks yang Perlu Dibahas Bersama Suami/Istri



Sebelumnya saya tekankan dulu tulisan ini ditujukan untuk teman-teman yang sudah menikah, atau belum menikah tapi mau open mind dan bertujuan untuk edukasi.

Awalnya saya juga maju mundur untuk menulis topik ini. Tapi setelah diskusi dengan suami, dia setuju karena memang sebenarnya seks ini adalah topik yang penting dibahas dalam rumah tangga, namun sayangnya masih banyak yang menganggap kalau ngomongin seks itu tabu dan nggak pantas. 

Bagi saya dan suami, mengelola rumah tangga itu ada seninya. Bukan cuma perkara pembagian tugas cari duit, urus rumah, dan anak, tapi juga bagaimana menjaga agar hubungan suami istri tetap harmonis sebagai sepasang kekasih yang memadu asmara (duhhh ile kalimatnya udah kayak novel-novel roman, wkwkwk). 

Seks atau bercinta adalah satu satu cara yang paling manis dalam menjaga hubungan suami istri. Masalahnya apakah selama menikah, seks sudah dijalankan pakai hati? Atau hanya sekedar menunaikan hasrat semata? 

Apakah suami/istri tahu kalau pasangannya sudah puas atau belum? Apakah masing-masing pasangan tahu apa yang pasangannya rasakan setelah bercinta? Sakit kah? Senang kah?

Untuk itu perlunya duduk santai bersama dan ngobrolin beberapa hal berikut terkait seks.

1. Kepuasan masing-masing 

Pernah nggak sih nanyain ke suami istri dia sudah puas atau belum, setelah kalian bercinta? Terlihat lemas dan orgasme belum tentu tanda kepuasan. Harus ada rasa lega dan bahagia yang dirasakan, dan itu butuh pengakuan.

Kalau orgasme tapi ternyata prosesnya dirasa menyakitkan, atau salah satu hanya dianggap sebagai objek semata tentu nggak adil, kan.

Kalau ternyata jawabannya belum puas, komunikasikan apa yang perlu diperbaiki? Gaya kah? Penampilan? Durasi? 

Karena bercinta itu berdua, selalu pikirkan kalian harus puas bersama. Meski kita tahu ya kebutuhan akan seks pada perempuan dan laki-laki itu berbeda, tapi soal kepuasan harus adil. 


Jangan mikir mentang-mentang perempuan nggak perlu sering "mengeluarkan" seperti lelaki, lantas merasa nggak penting dia mau ngerasain enak/nggak, yang penting suami keluar, suami puas. 

2. Penampilan dan Kebersihan Badan

Bisa jadi ada pasangan yang baik-baik aja kalau nggak cukuran bulu-bulu di badan, tapi ada juga yang berharap badan pasangannya bersih dari bulu yang mengganggu.
 
Begitu juga dengan riasan, wewangian, pakaian, dan sebagainya. Hal-hal kecil seperti itu juga bisa mempengaruhi mood dan kepuasan bercinta. 

Jadi komunikasikan ya, suami suka istri pakai apa saat bercinta. Begitu juga sebaliknya. Nggak semua lelaki suka perempuan pakai lingerie kok (suami saya contohnya), jadi daripada beli-beli tapi ternyata bukan selera pasangan, kan sayang duitnya, enaknya dikomunikasikan dulu. 

Bapak-bapak juga jangan cuma ngarep istrinya yang pakai pakaian seksi dan wangi, emangnya perempuan nggak suka keindahan juga😍? Coba tanya istri apakah ada pakaian yang disuka untuk dipakai saat bercinta? Parfum favorit? Apa perlu makan permen dengan rasa dan aroma tertentu?

Kenapa sih penampilan juga penting? Toh kan nanti pas ngelakuin sama-sama buka?
Nah, yang bikin beda itu sensasinya. Pasti beda deh rasanya bercinta dimulai dengan masing-masing pakai pakaian rapi, wangi, foreplay, dengan ngobrol dan mengutarakan kalimat indah, dibanding yang ujug-ujug buka baju, hap hap hap, udah selesai gitu aja. 

Balik lagi harusnya bercinta itu kegiatan yang menyenangkan dan memuaskan hasrat satu sama lain.

3. Waktu Bercinta Favorit

Pernah nggak sih diajak pasangan untuk berhubungan intim, tapi waktunya nggak pas? Pasti beda rasanya dibanding dimana waktu favorit kita. Kalau waktunya pas, moodnya juga lebih enak. 

Maksudnya begini lho, misalnya suami saya sering ngajak itu setelah subuh. Cuacanya sih memang enak ya, dingin-dingin sejuk. Anak juga masih tidur. 

Tapi..... Saya ngerasa nggak rileks. Karena kepikiran takut anak bangun, mikirin belum bikin sarapan, mikirin persiapan ke kantor, mikirin takutnya bablas dan telat ke kantor. Belum lagi subuh itu mau mandi dulu tapi dingin banget, alhasil cuma sikat gigi dan pakai parfum aja😖. 

Badan juga kerasa kurang segar karena baru bangun. Belum lagi pakaiannya piyama, dimana bagi saya pakaian juga mempengaruhi mood. 

Cuma memang kalau kondisi masih mampu dan memungkinkan, saya turuti aja karena suami pasti akan sedih kalau "ditolak".

Lain waktu pernah saya ajak suami saat sore hari. Anak baru tidur, jadi kemungkinan dia bangun masih lama. Saya juga punya waktu buat dandan, pilih pakaian, dan pakai parfum. 

Alhasil sesi bercinta jadi lebih lama dan menyenangkan. Setelahnya saya tanya suami bisa lihatkan perbedaannya? Karena saya lebih rileks disore hari dibandingkan pagi atau malam. 

Meskipun disaat tertentu dengan kondisi tertentu, adanya waktu cuma itu ya nggak apa-apa dijalani aja. Tapi tetap komunikasikan waktu favorit biar lain kali bisa melakukannya dengan lebih santai dan menyenangkan. 

4. Variasi

Ini sih penting banget, apalagi buat yang nikahnya sudah cukup lama. Kalau begitu-begitu saja pasti bosan. 

Ajak pasangan untuk ngobrolin variasi dalam bercinta. Mungkin perlu tambahan musik? Ganti warna lampu? Pakai gaya baru? Utarakan ide-ide yang kalian punya, lalu sepakati mana yang nyaman untuk dijalani. 



Kuncinya kenyamanan ya. Jangan paksakan pasangan atas ide liar yang ternyata bikin dia nggak nyaman. Misalnya kan ada tuh dimana pasangan bercinta dengan cara yang "kasar". Kalau keduanya oke-oke aja, ya silahkan, tapi kalau salah satu nggak nyaman jangan dipaksa

Untuk cari refrensi, jangan dari blue film 🗙🗙🗙. Itu nanti malah bikin kita ngebandingin pasangan kita sama aktor/aktris di film itu.
 
Saran saya bisa konsultasi dengan seksolog, baca artikel atau buku yang mengajarkan teori tentang variasi gaya pasutri untuk bercinta. 

Kalau di Instagram ada selebgram yang sering bahas tentang variasi gaya dalam bercinta plus tips-tips buat pasutri lainnya. Namanya @olevelove, coba deh dibaca-baca highlight storynya. Dia juga sudah nulis buku judulnya "Uncensored".

Bisa juga nonton sesi Tonight Clinic bersama dokter Boyke di acara Tonight Show di Net TV. Tapi saya sih seringnya nonton di youtube. Seru banget, karena banyak dapat ilmu langsung dari ahlinya. Lagian acara ini dibawakan oleh Vincent Desta, jadi pasti ada aja tingkah yang bikin ngakak pas sesi bareng dokter Boyke.

Selain itu variasi tempat dan posisi juga perlu untuk selingan. Nggak melulu harus sambil berbaring. Coba deh berdiri, duduk, jungkir balik, salto, kayang, wkwkkw 😅. 

Nggak harus selalu di kamar juga, bisa di ruang tamu, dapur (di sini jangan heboh banget, takutnya kecolok garpu), di dalam mobil, dll. Tapi perlu diingat jangan sampai kepergok anggota keluarga lainnya ya, apalagi sampai kepergok tetangga. 

Kalau ada budget sesekali boleh lah check in di hotel. Anak titipin dulu ke neneknya atau saudara yang lain. Di hotel, pasutri bisa eksplor sudut-sudut kamar. Kalau ada bathupnya juga bisa dipakai.

Biar kata nikah udah lama, kalau selalu bervariasi kan bisa berasa pengantin baru lagi. 

5. Treatment After Sex



Siapa yang kesal kalau setelah memadu kasih, eh malah langsung ditinggal tidur😡? Walau sebenarnya tidur adalah reaksi yang wajar, terutama pada pria karena mengeluarkan sperma memberikan sensasi lemas dan rileks yang membuat mengantuk.

Tapi coba dikomunikasikan lagi, perlakuan apa yang bisa membuat pasangan senang setelah bercinta. Apakah dilanjut mandi bareng? Makan indomie? Atau sesederhana pelukan, ngobrol, dan elus-elus rambut?

Kalau saya sih biasanya minta makan, terserah suami mau masakin atau beliin. Kenapa ya reaksi saya habis begitu malah laper? Wkwkwk. 

Perlakuan setelah bercinta yang baik, bisa membuat pasangan kita merasa istimewa karena dianggap telah memberikan kepuasan satu sama lain. Sebaliknya, kalau ditinggal tidur, rasanya tuh kecewa seolah-olah "habis manis sepah dibuang" *ya ini agak dramatis sih*.

Balik lagi semuanya perlu dikomunikasikan agar pasangan nggak kecewa. Kita perlu memberikan yang terbaik bukan karena takut pasangan cari yang lain ya, kita melakukan yang terbaik karena memang sudah seharusnya seperti itu. Tujuan menikah kan salah satunya untuk menyenangkan dan memuaskan satu sama lain.
 
Tapiiiiiiii, yang perlu diingat usaha memberikan yang terbaik itu harus KEDUAnya yaaa, nggak bisa suami aja atau istri aja. 

Kalau ternyata pasanganmu yang memulai duluan, apresiasi usaha dia, terus tanyain apa yang dia harapin dari kamu? Karena saya tahu nggak semua orang bisa inisiatif duluan. 

Lagi pula memang harus diakui, hubungan rumah tangga nggak cukup cuma modal perasaan atau juga keuangan yang stabil. Urusan "kepuasan duniawi" ini juga salah satu pemicu untuk merekatkan hubungan atau justru menjauhkan. 

Jadi buang jauh-jauh rasa sungkan untuk membahas poin-poin di atas bersama suami/istri. 

Semoga bermanfaat 😃. 

Baca tulisan "relationtips" lainnya juga ya.







7 Topik yang Wajib Dibahas Sebelum Menikah

7 Topik yang Wajib Dibahas Sebelum Menikah

topik yang harus dibahas sebelum menikah

Sebelum menikah mungkin kita cuma melihat hal yang bagus-bagus aja dari pasangan. Ketika sudah menikah, terbukalah segalanya. Bisa jadi hal itu dapat diterima, bisa jadi nggak. Untuk mundur tentu nggak bisa lagi. Ngomong cerai juga nggak segampang ngomong "putus" atau "kita break aja dulu ya".
Cinta 200%

Cinta 200%

Cinta 200%
"Kalau cari calon suami itu yang bisa kasih cinta 200%"
 -Bu Nur, alias mama saya-


Mendengar kalimat itu keluar dari mulut wanita istimewa yang melahirkan saya, reaksi pertama saya adalah tertawa. Lagian, gimana ceritanya cinta bisa diukur pakai persentase begitu? Walau pun saya pernah baca di blog mas Agung tentang perbedaan rasa suka, sayang, dan cinta, tetap saja saya bingung bagaimana mengukur kadar cinta seseorang? Apa perlu pakai timbangan?
Kawin Lari

Kawin Lari


Bukan, ini bukan artikel review film atau novel yang berjudul "Kawin Lari". Tapi saya mau menceritakan kisah masa kecil saya sebagai anak kepala KUA (Kantor Urusan Agama) yang menyaksikan orang-orang yang datang ke rumah ingin bertemu papa saya untuk berkonsultasi entah itu tentang pernikahan atau perceraian.
Istri Harus Bisa Masak?

Istri Harus Bisa Masak?


Dalam rumah tangga pasti ada yang namanya konflik dan drama, dari yang kecil sampai yang besar, dari yang bikin senewen sampai yang bikin sakit kepala. Bahkan kalau drama rumah tangga tersebut terus berlanjut bisa-bisa bikin stres. Eit, ngomongin soal stres di blog Uda Fadli ada artikel Cara Menghindari Stres lho, dibaca ya.
Kisah Nyata yang Membuktikan Cinta Sejati Itu Ada

Kisah Nyata yang Membuktikan Cinta Sejati Itu Ada


kisah nyata tentang cinta
source : Pixabay

Beberapa waktu lalu viral cerita #LayanganPutus yang mengundang banyak reaksi warganet. Dari komentar yang saya baca, ada yang menyayangkan kejadian tersebut, ada yang berempati terhadap si penulis, ada juga yang menghujat tokoh-tokoh dalam cerita penulis, dan bagi yang belum menikah malah jadi takut nikah.

Sejujurnya sebelum membaca cerita tersebut saya sudah banyak mendengar atau melihat cerita yang kurang lebih sama. Ya, cerita seperti itu bisa jadi ke siapa saja, termasuk orang-orang sekitar kita, atau bahkan mungkin kita sendiri.

Tapi saya percaya, semua orang nggak sama karakter dan jalan hidupnya. Saya percaya, cinta yang tulus itu ada. Pasangan yang bertahan bersama  meski diterpa banyak cobaan, itu juga nyata adanya.

Saya akan ceritakan salah satunya.

Namanya pak Hanif (bukan nama sebenarnya), saya kenal beliau karena beliau sering ke rumah orang tua saya. Karena ada urusan pekerjaan, lain kali karena ingin silahturahmi biasa.

Kalau beliau ke rumah, selalu bawa buah tangan hasil kebunnya sendiri. Ada pisang, kelapa, nangka, macam-macam deh. Beliau juga tutur katanya lembut dan sopan.

Beliau (status bujang) menikah dengan seorang janda. Semua baik-baik aja, sampai suatu hari istrinya sakit. Banyak usaha yang dia lakukan sebagai suami agar istrinya sembuh.

Kondisi istrinya makin parah karena bagian pinggang dan kaki sudah nggak bisa digerakkan lagi. Akhirnya segala aktifitas istrinya, pak Hanif yang gendong.

Tahun lalu, setelah kami sekeluarga sudah lama pindah dari desa itu, kami kesana lagi karena ada undangan pernikahan teman baik saya. Sekalian kami mampir ke rumah pak Hanif untuk numpang sholat.

Selama ini saya cuma tahu cerita beliau sedikit dari ortu saya. Hari itu saya menyaksikan sendiri kondisi istrinya, dan rumah mereka.

Istri pak Hanif sekarang sudah pakai kursi roda. Beberapa aktifitas kecil sudah bisa dilakukan sendiri.

Itu semua karena pak Hanif memang berjuang menguras tabungan, menyewa satu mobil untuk berangkat berobat ke Jakarta. Biar tahu betul apa penyakit istrinya, sekaligus berharap semoga istrinya bisa jalan lagi.

Ternyata setelah pengobatan di sana memang istrinya harus menggunakan kursi roda untuk selamanya. Pak Hanif cerita dia sedih banget dengarnya, tapi akhirnya beliau terima kenyataan dan terus berusaha ngurus istrinya. Sedikit demi sedikit uang dikumpulkan sampai akhirnya bisa beli kursi roda.

Meski sudah pakai kursi roda, tapi tetap aja aktifitas istri pak Hanif terbatas. Jadi urusan rumah, masak, semua pak Hanif yang lakukan.

Waktu saya kesana rasanya saya kayak lagi ngalamin reality show "Jika Aku Menjadi" yang pernah tayang di salah satu channel TV itu lho.

Karena rumah pak Hanif terbuat dari kayu, lantai ruang depannya memang sudah disemen. Tapi lantai dapur dan kamar mandinya masih dari tanah.

Di kamar mandinya sendiri ada wc jongkok, namun di atas wc jongkok itu adsakursi plastik yang dudukannya dibolongin. Ternyata karena istrinya nggak bisa buang hajat sambil jongkok, untuk ngakalinnya pak Hanif pakai kursi plastik itu.

Setiap hari jika istrinya mandi dan mau buang hajat, pasti pak Hanif bantu dan jaga sampai selesai karena takut terpleset di kamar mandi.

Pak Hanif bilang dia ikhlas menjalani kehidupannya seperti ini semata-mata karena Allah SWT. Tapi satu hal yang masih beliau khawatirkan, beliau takut kalau dia meninggal duluan siapa nanti yang ngurusin istrinya?

Sebenarnya pak Hanif sempat punya anak sama istrinya tapi anak tersebut meninggal dunia. Sedangkan anak dari suami pertama istri pak Hanif punya kehidupan sendiri dan sudah lama nggak ada kabar.


Saya yang ada di sana waktu itu rasanya mau nangis. Tapi nggak mungkin nangis di depan pak Hanif. Di satu sisi saya sedih lihat kondisi mereka, di satu sisi saya terharu dengan ketulusan pak Hanif merawat istrinya sepenuh hati.

Rasanya kalau ada yang pantas pegang tiket surga, bagi saya pak Hanif lah orangnya. Beliau juga ibadahnya rajin, meski hidupnya sangat sederhana beliau sudah haji karena memang bertekad banget ngumpulin duit untuk berangkat haji. Beliau juga sehari-harinya ngajar anak-anak ngaji tanpa dipungut biaya.

Waktu itu saya dan ortu sempat kasih uang seadanya. Tapi mereka berterimakasih berulang-ulang dengan raut wajah senang.

Saya memang sempat kepikiran, gimana kalau itu ortu saya. Hidup dalam keterbatasan ekonomi dan fisik. Anak entah kemana, tetangga juga hanya bisa membantu sekadarnya.

Hati saya juga terenyuh, diantara sekian banyak cerita pengkhianatan suami hanya karena fisik istri berubah, tapi ini ada pria yang tulus ngurusin istrinya yang sakit sepenuh hati.

Terima kasih pak Hanif, atas pelajaran berharganya.

(Maaf nggak ada foto apapun, karena saya merasa nggak sopan untuk memotret keadaan beliau atau isi rumahnya waktu itu. Tapi ini ada foto depan rumah pak Hanif, teman saya yang kirim waktu mau kasih bantuan. Gelap juga karena ambilnya pas malam).



***

Selain kisah pak Hanif, orang tua saya sendiri termasuk panutan saya dalam mempercayai kekuatan cinta.

Kemarin tanggal 9 November, merupakan hari ulang tahun mama saya yang ke-55 sekaligus ulang tahun pernikahan mama papa yang ke-33 tahun.

Selama 33 tahun bersama pasti bukan cuma riak-riak kecil yang mereka lewati, tapi juga ombak besar, karang, badai, topan, bahkan mungkin pernah "kapal" mereka retak atau ada bagian yang rusak.

Tapi syukurlah semua bisa dilalui sampai dengan sekarang. Saya tahu itu nggak mudah.



Bisa jadi karena mereka memulai rumah tangga dari nol, susah bareng-bareng. Saya selalu hapal cerita mereka dimana dulu makan aja susah. Gaji PNS zaman dulu tuh jauh dari cukup, jatah beras yang dikasih juga kualitasnya kurang bagus. Alhasil tiap bulan gali lobang tutup lobang ngutang ke warung.

Bahkan waktu lahir kakak saya, baju-baju bayi yang mampu dibeli cuma sedikit. Jadi papa saya yang tiap hari mencuci biar baju bisa terus dipakai. Nyucinya juga bukan di rumah, tapi harus ke sungai.

Karena nggak bisa beli baju menyusui, mama saya juga rombak sendiri daster-dasternya. Digunting dan dijahit lagi dengan kancing biar bisa mudah dipakai untuk menyusui.

Tinggal diperantauan dengan ekonomi sulit, nggak ada bantuan dari manapun. Tapi ternyata itu semua jadi fondasi yang kuat hingga sekarang.

Do'a saya semoga mama papa dipasangkan di dunia, disatukan pula kelak di SurgaNya. Aamiiin.

Saya sendiri nggak tahu sih apakah kisah cinta saya dan suami juga akan berakhir manis. Tapi sejauh ini selama kami masih bisa melakukan yang terbaik untuk satu sama lain ya kami akan melakukan itu. 


Saya tahu setiap orang bisa berubah. Setiap orang pasti akan merasakan jenuh. Tapi saya percaya setiap orang akan menyikapi hal tersebut dengan cara yang berbeda. Semoga saya dan pasangan  bisa menyikapinya dengan baik.

Nah, semoga dengan cerita di atas jangan ada lagi yang menyamakan semua orang hanya karena ada cerita viral yang menyakitkan. Apalagi bagi yang belum nikah, jangan takut. Justru kalian punya banyak kesempatan untuk memilih dan menemukan yang terbaik.

Bagi yang sudah menikah, ayo terus berjuang agar "kapal" kita nggak hancur sebelum sampai tujuan.

Semoga apapaun yang terjadi kita selalu diberi kekuatan untuk menghadapinya.

Kalau kalian pernah dengar kisah manis seperti di atas, ceritakan juga ya di kolom komentar.

6 Tips Untuk Meminimalisir Konflik Keuangan Dengan Pasangan

6 Tips Untuk Meminimalisir Konflik Keuangan Dengan Pasangan

source : shutterstock

Kalau teman-teman follow instagram saya @dudukpalingdepan mungkin sudah pernah membaca bahasan yang pernah saya bagikan di IG Story. Namun karena IG story spacenya terbatas, ada yang menyarankan untuk ditulis juga di blog. 

Alasan saya mengangkat topik ini, karena memang membahas keuangan itu termasuk hal yang masih sensitif. Uang memang bisa membuat orang bahagia, tapi sebaliknya juga bisa membuat orang menderita.

Membahas keuangan dengan pasangan, khususnya pasangan suami istri juga mengingatkan  dengan masa kecil saya. Jadi, papa saya itu pernah menjabat sebagai Kepala KUA (Kantor Urusan Agama). Sehingga hampir setiap hari ada tamu ke rumah kami, untuk konsultasi pernikahan atau perceraian.
Karena Setiap Rumah Tangga Ada Ujiannya [Tahun Ketiga]

Karena Setiap Rumah Tangga Ada Ujiannya [Tahun Ketiga]

couple

Kalau teman-teman follow saya di instagram @dudukpalingdepan mungkin tahu kemarin saya upload foto cake dan kado dari suami sebagai hadiah anniversary kami yang ketiga tahun ini. Terimakasih untuk teman-teman yang sudah ngucapin selamat dan mendo'akan ^^. Sampai-sampai ada pula teman yang kenal saya sejak lama bilang, kalau saya dan suami bisa dibilang real couple goals. Saya ngakak bacanya. 
Bersahabat Dengan Suami

Bersahabat Dengan Suami

couple

Kata orang kalau kita bisa menikah dengan sahabat sendiri, itu akan menyenangkan. Karena sudah kenal satu sama lain, nyambung ngobrolin apa aja, dan bisa diajak gila-gulana bareng.


Tapi nggak semua orang berjodoh dengan sahabatnya, kan?


Menyikapi Pertanyaan "Kapan Nikah?"

Menyikapi Pertanyaan "Kapan Nikah?"


Lebaran sebentar lagi, sudah pada terima THR belum? kalau saya sih sudah dari seminggu lalu dapat jadwal THR (Tugas Hari Raya) karena Lapas meski lebaran tetap buka. Tapi kali ini saya mau bahas pertanyaan yang mungkin akan jadi momok saat lebaran tiba nanti. Dimana keluarga besar pada kumpul, pasti ada sih yang bakal nanyain pertanyaan yang bikin enak atau bikin eneg, hehe. 

Salah satunya adalah pertanyaan "Kapan Nikah?"
Merencanakan Kembali Bulan Madu yang Pernah Gagal

Merencanakan Kembali Bulan Madu yang Pernah Gagal



Setiap pasangan yang baru menikah pasti memimpikan bulan madu yang indah. Termasuk saya dan suami. Membayangkan dua insan yang saling mencintai menikmati keindahan alam tanpa harus memikirkan pekerjaan dan rutinitas lainnya. Benar-benar berdua memadu kasih, menikmati cinta yang halal. Namun sayangnya ekspetasi nggak selalu berbanding lurus dengan realita. 
Bukan Teman Tapi Menikah

Bukan Teman Tapi Menikah



Disclaimer : ini bukan review film yak, biar nggak salah ekspetasi :p


Dulu saya mikirnya nggak akan bisa menikah dengan orang yang baru saya kenal. Rasanya akan sangat canggung memulai rumah tangga yang seumur hidup dengan orang yang baru dikenal beberapa bulan. Saya pikir tentu akan lebih asik kalau menikah dengan orang yang sudah lama kita kenal perangainya, lingkungannya, keluarganya, ya seperti teman sendiri. "Teman tapi menikah", mengutip istilah pasangan Ayudia dan Ditto. 

Tips Menghemat Biaya Pernikahan

Tips Menghemat Biaya Pernikahan

Banyak yang bilang kalau nikah itu sebenarnya adalah proses sakral yang mudah untuk dilaksanakan. Jika sudah punya kesiapan mental, sudah baligh, sudah bisa menafkahi lahir dan batin, dan yang paling penting sudah punya calonnya maka siapapun bisa menikah. Eits, sayangnya kenyataan nggak semudah FTV pemirsaah. Ada lika-liku yang harus dihadapi, salah satunya adalah biaya resepsi pernikahan.

[RelationTips] Pisah atau Maklumi

[RelationTips] Pisah atau Maklumi

Saya bukan ahlinya, pengalaman saya juga masih seujung kuku. Tapi dari saya single dulu, saya sering dijadikan tempat curhat tentang masalah rumah tangga dari orang-orang yang lebih tua dan berpengalaman. Saya masuk kerja mulai dari umur 19 tahun, otomatis di kantor rekan saya beragam umurnya. Entah apa yang bikin mereka percaya cerita sama saya yang bisa dibilang "masih bocah" di antara mereka.
Nodong Nikah

Nodong Nikah



Aku sayang sama kamu”
“hm.. aku juga. Tapi hubungan kita mau dibawa kemana?”
“jalanin aja dulu, urusan kedepannya gimana nanti”




Nggak asing sama percakapan tersebut? Saya juga mengalaminya ketika dulu menjadi aktivis pacaran. Saya menganggap pacaran adalah aktivitas menuju pernikahan yang sebenarnya tameng dari ketidakmampuan saya menahan nafsu. 
Mengeluh Itu Manusiawi

Mengeluh Itu Manusiawi




Kemarin mas Agus, suami saya tiba-tiba muji katanya saya manis..................... tapi kalau lagi nggak ngomel-ngomel 😅Dia bilang kalau saya lagi marah kayak orang lain, apa aja yang dilakuin dia selalu salah  dimata saya. Gara-gara itu saya jadi instropeksi diri. Apa yang bikin saya seemosi itu? Meskipun nggak sampai ngomong kasar, tapi pasti nyebelin ya kalau diomelin berulang-ulang? *mana suara para suami yang sering kena omel istri? hihi*


Setelah saya ingat-ingat, hari itu saya capek di kantor. Sampai rumah, lihat anak rewel, rumah berantakan, mungkin ditambah kurang istirahat. Alih-alih nggak mau ngeluh capek saya malah ngomel-ngomel ke suami, padahal dia sudah bantu jaga anak hari itu. 😳