Kasih Sayang yang Harus Dibiasakan

By dudukpalingdepan - January 13, 2021


Dulu waktu masih SD, tapi saya lupa tepatnya kelas berapa saya sering main ke rumah salah satu teman. Saking seringnya, tentu saya sering pula ketemu ayah dan ibunya. Dua-duanya pribadi yang ramah sama saya dan teman-teman lain yang main kesitu. 

Tapi, yang saya heran banget teman saya itu jarang banget ngobrol sama ayahnya. Biasanya dia hanya akan menegur ayahnya kalau disuruh ibunya untuk mengingatkan makan misalnya. 

Kenapa saya heran? Karena di rumah saya dengan papa saya itu sering berinteraksi. Cerita tentang apa yang terjadi di sekolah, atau bergelayut manja untuk minta duit. Belum lagi tanya-tanya soal pelajaran di sekolah. Jadi kedekatan saya dengan mama sama halnya dekat dengan papa.

Sampai saya benar-benar kepo dan akhirnya memberanikan diri bertanya kenapa teman saya itu jarang ngobrol bareng ayahnya. Apakah ternyata ayahnya itu galak? Nggak seperti yang biasa saya lihat?

Jawabannya hanya "Nggak ada apa-apa kok. Cuma nggak biasa aja ngobrol sama ayah". Saya harus cukup puas dengan jawaban itu. 

Pertanyaan yang Susah Dijawab


Kejadian yang sama nggak cuma saya temukan sekali dengan teman semasa SD. Tapi ketika saya kuliah dan kerja, saya juga melihat keadaan yang sama dengan teman yang berbeda.

Bahkan karena sering jadi tempat curhat, saya jadi tahu bahwa mereka sebenarnya juga sangat ingin bisa dekat sama sosok ayah. Bahkan ada yang rasanya iri banget karena ayahnya itu bisa ramah dan akrab sama anak orang lain, tapi nggak bisa sama anaknya sendiri. 

Ketika saya tanya, kira-kira kenapa bisa begitu? Teman saya hanya bisa mengangkat bahu dan menggelengkan kepala. Saya juga bisa melihat raut kesedihan pada matanya. 

Kasih Sayang yang Tidak Dibiasakan


Saya tetap masih penasaran kenapa ada anak yang nggak dekat sama salah satu ortunya padahal ortunya ke orang lain bisa ramah banget. Lain cerita kalau bawaannya emang galak gitu ya. 

Lalu saya coba mengingat apa yang saya alami dari kecil. Yaitu kedua orang tua saya membiasakan memberikan kasih sayang yang sama. 

Mama dan papa sama-sama suka nanya dan ajak ngobrol, dua-duanya bisa diajak bermain, dua-duanya tempat saya bertanya ini itu. Hal itu dilakukan sedari saya masih kecil sampai sekarang saya dewasa. 


Saya juga membaca buku-buku psikologis dan parenting yang mana ada anggapan yang salah, yaitu ayah biasanya dinilai sebagai sosok yang berwibawa dan dingin, sehingga sulit menunjukkan kasih sayang di depan anaknya. 

Padahal anak akan membawa perasaan itu (merasa diabaikan) sampai dia dewasa. Bahkan teman saya ada yang bilang di hidupnya kalau orang yang paling penting dalam hidup adalah ibunya.

Dia akan memedulikan ibunya sampai akhir hayat, sedangkan dengan ayahnya masa bodoh karena ayahnya juga cuek ke dia. Huhuhu. 

Pentingnya Membiasakan Kasih Sayang



Ada lagi yang membuat saya keheranan ketika menonton film keluarga luar negri. Masak ada anak yang mau pamit berangkat ke sekolah aja dia bilang begini "I have to go now. See you, mom, dad. I love you" lalu orang tuanya juga akan membalas dengan ungkapan cinta juga.

Saya langsung ngebatin "kok bisa sih orang luar itu enteng banget ngucapin I love you ke ortunya? Kalau saya disuruh begitu bisa-bisa lidah ini kayak ditaruh es batu alias bakal membeku."

Barulah kemudian saya tahu kalau memang itu hal yang biasa dilakukan di sana. Beda dengan kita khususnya keluarga saya yang jarang banget ngucapin "I Love you" dari ortu ke anak atau sebaliknya.

Saya sendiri baru berani bilang "Enny sayang mama/papa" biasanya lewat tulisan dan kalau pas ulang tahun atau hari ibu aja, hehehe. Kalau bilang langsung ya itu tadi, lidahnya rasa kelu. 

Begitu juga dengan saudara saya, duh jarang banget kita bilang "sebagai saudara, aku sayang dan peduli sama kamu" nulisnya aja ini saya geli. Apa lagi diucapin langsung.

Tapiiiiiiiiiiiiii, kenapa kita bisa enteng ngucapin I love you ke orang lain? Pacar atau sahabat misalnya. Padahal yang lebih berhak kan keluarga. 

Saya simpulkan karena kita nggak membiasakannya dari awal. Sesuatu yang nggak pernah kita lakukan dari awal, tiba-tiba harus dilakukan pasti sulit apalagi kalau kita bukan tipe orang yang bahasa cintanya lewat kata-kata. 

Memulai Membiasakan Kasih Sayang Dengan Keluarga Baru


Ketika saya menikah, saya bertekad ingin membentuk keluarga yang penuh kasih sayang. Baik antara saya dan suami maupun antara kami dan anak. 

Hal-hal kecil seperti panggilan sayang, ungkapan cinta, kami sepakati untuk dibiasakan dari awal menikah dan awal anak kami lahir. 

Saya bilang ke suami, buang rasa gengsi untuk mengucapkan "I love you" "sayang kamu" kepada pasangan dan anak. Karena pasangan dan anak berhak akan hal itu. 




Saya sampaikan juga bahwa jika anak bisa merasakan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya, semoga kelak dia remaja nanti nggak melakukan hal-hal menyimpang hanya karena merasa kurang kasih sayang. 

Serta bisa menghargai kedua orangtuanya karena merasa diberikan kasih sayang yang cukup.

Sekarang anak saya sudah tiga tahun lebih umurnya. Sering banget dia ngucapin kalimat sweet tanpa saya minta seperti "Mumu pergi dulu ya, mama di rumah aja. Bye bye, I love you mama". 

Lain waktu dia metik bunga di halaman dan kasih ke saya sambil bilang "Bunganya indah. This is for you mama" yang mana membuat hati saya turut berbunga-bunga.

Tentu hal itu karena saya yang mengawalinya, setiap hari saya peluk dan cium dia  sambil mengucapkan kata-kata cinta. Bagi saya pribadi, cinta nggak cukup hanya dengan tindakan namun kita perlu meyakinkan orang yang kita cintai dengan ucapan pula.

Begitu pula hubungan dengan suami. Menurut saya kalau kita mau "alay" ya harus dari awal. Akan aneh rasanya kalau dari awal nikah nggak pernah ngomong ungkapan cinta dan sayang, terus di tahun kelima diminta untuk ngucapin hal itu.

Lagi pula saya percaya anak akan menyerap apa yang dia lihat sehari-hari dari orang tuanya. Kalau dia lihat orang tuanya berkasih sayang baik dari ucapan dan tindakan, maka dia pun akan meresapi dalam otak dan hatinya bahwa keluarga adalah tempat yang tepat untuk mencurahkan kasih sayang. 

Jadi, kalau dulu kita nggak dapat kasih sayang itu dari orang tua kita, atau kita susah banget untuk dekat dengan salah satu atau kedua ortu. Maka bertekadlah untuk memulainya dengan keluarga baru kita sendiri.

Salah satu caranya adalah dengan mencari teman hidup yang satu visi dan kita nyaman banget untuk mengungkapkan perasaan kita kepadanya.


Kalian ada pengalaman yang sama nggak? Coba cerita di kolom komentar, ya.




Follow Instagram @dudukpalingdepan untuk cerita dan tips-tips inspiratif lainnya.






  • Share:

You Might Also Like

9 komentar

  1. ya mbak, kadang kita ngobrol sama ortu itu waktu perlu aja kalau ane lihat sekarang-sekarang.
    sedih rasanya.
    waktu sama orang tua , ayah dan ibu terasa kurang ketika mereka sudah tidak ada lagi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beneer. Mari manfaatkan waktu dengan baik selagi masih bisa ^^

      Delete
  2. kayanya angkatan kita yah mba yang sekarang lebih mengusahakan kasih sayang anak dan orang tua bisa berjalan dengan membiasakan, suami aq termasuk yang agak kaku tapi yah emang harus kitanya, istri yang memulai karena menurut aq memang baik banget kalo kita membiasakan kasih sayang sedari dini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mungkin karena sekarang informasi lebih mudah diakses mbak jadi banyak yang tercerahkan.

      Delete
  3. Terharu sekali bacanya. Benar, kasih sayang itu butuh diungkapkan. Malah bisa ngasih dampak positif ke keluarga. Sebab keluarga yang hangat dan lekat akan membuat anak selalu ingin pulang ke rumah untuk bercengkrama bersama kedua orangtuanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget mbak. Rumah adalah tempat kita paling nyaman untuk pulang. Dan rumah itu berisikan orang yang kita sayang :)

      Delete
  4. Enny!
    Tengkiu sooo maaaac udah ngebahas ini ya.
    Berarti banget buat saya dong.
    Saya lalu mengingat-ngingat, kapan ya terakhir kali saya bilang I love you ke si kakak?
    Dia masih mau saya peluk, mau banget malah, cuman memang akhir-akhir ini lebih enak meluk adiknya ketimbang si kakak, padahal ya, dulu ketika adiknya belum ada, kami tuh soooo romantic banget.

    Si kakak itu romantisnya minta ampun, si adik mah kalah.
    Dia sering banget cium pipi saya, ai laf yu mi, yu maepiting (I love you Mami, you are my everything), itu tuh dia ucapkan sampai SD dong, sampai adiknya lahir, saya kena baby blues dan si kakak jadi sasaran, hiks.

    Baca ini, semacam pengingat buat saya, masih ada waktu memperbaiki hubungan manis kami, sebelum dia makin berjarak sama saya, huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak cowok emang lebih romantis gitu ke ibunya ya mbak.
      Sama-sama ya mbak, senang kalau tulisan ini bisa bermanfaat.
      Selagi masih ada kesempatan kasih sayang harus kita biasakan ^^

      Delete
  5. Saya sampai sekarang masih selalu mengucapkan sayang kepada istri. Bahkan di depan anak semata wayang kami pun saya akan tetap begitu. Persis seperti yang mbak katakan "rasa sayang" itu harus diungkapkan meski dengan cara-cara kecil.

    Dengan begitu ikatan yang ada tetap terjaga. Cuma, saya pikir tidak selamany harus diungkapkan dalam bentuk kata-kata sayang, cinta, yang sering untuk sebagian orang justru tidak nyaman untuk mengungkapkan kata-kata tersebut.

    Setiap keluarga punya cara yang berbeda dalam hal ungkapan rasa sayang. Tidak semua orang bisa mengungkapkan itu. Disebut salah ya tidak juga karena itu merupakan karakter dirinya.

    Saya sih lebih memandang masalah seperti ini bisa dipecahkan dengan keterbukaan dan perubahan sikap dari orangtuanya. Bila mereka mau mendekat dan bukan hanya mau didekati, maka komunikasi bisa terjalin antar orangtua dan anak.

    Contohnya, antara orangtua lelaki dan anak lelaki, pola hubungannya lebih rumit karena keduanya mengusung "gengsi" sebagai pejantan dalam kelompoknya. Jadi interaksinya tidak bisa disamakan dengan ayah ke anak perempuan. Tapi kalau jalur komunikasi itu terbuka dan bisa berjalan dengan baik, bapak dan anak pun bisa tetap akrab dan cara pengungkapan rasa sayangnya berbeda.

    Kemauan orangtua untuk mendekat dan bukan bersifat statis dan menunggu, saya pikir lebih merupakan kunci dalam menjalin hubungan dengan anak.

    ReplyDelete

Jalan-jalan ke rumah caca, mampir sebentar beli kedondong, jangan cuma dibaca, kasih komentar juga dong.