Kawin Lari

By dudukpalingdepan - 10:00:00 AM


Bukan, ini bukan artikel review film atau novel yang berjudul "Kawin Lari". Tapi saya mau menceritakan kisah masa kecil saya sebagai anak kepala KUA (Kantor Urusan Agama) yang menyaksikan orang-orang yang datang ke rumah ingin bertemu papa saya untuk berkonsultasi entah itu tentang pernikahan atau perceraian.

Hampir setiap hari di rumah kami kedatangan tamu. Walau pun sebenarnya mereka seharusnya datang saja ke kantor KUA setiap hari kerja, tapi entah kenapa mungkin ada persoalan yang sifatnya terlalu personal sehingga butuh datang ke rumah kami.

Papa juga nggak pernah menolak tamu yang datang, kalau pun lagi tidur, beliau akan bangun, cuci muka dan menemui mereka. Bahkan kalau sedang makan juga diburu-buruin agar cepat bisa melayani tamu.


Cerita Tentang Kak Dita

source : Canva

Suatu hari, waktu itu seingat saya sore jam 5-an, ada yang mengetuk pintu rumah kami. Karena papa saya lagi mandi, dan mama di dapur, akhirnya saya yang bukakan pintu. Ternyata yang datang seseorang yang saya kenal.

Sebut saja namanya kak Dita (bukan nama sebenarnya), saya kenal kak Dita ini karena sama-sama sering nongkrong di warung tekwan yang sama. Di warung itu juga saya sering dengar dia suka cerita yang lucu-lucu. Saya menganggap dia orang yang ceria.

"Bapak ada, dek?"

Saya kaget karena kak Dita menanyakan bapak saya dengan keadaan mata sembab dan membawa tas besar. Terlebih biasanya orang datang ke rumah kami untuk konsultasi tentang pernikahan atau perceraian, tapi setahu saya kak Dita belum menikah.

Waktu itu saya nggak berani nanya apa-apa cuma nyuruh dia bersama pria yang saya nggak kenal itu siapa untuk masuk dan duduk, sementara saya memanggil papa.

Nah, berhubung rumah kami waktu itu dari kayu, dan batas antara ruang tv dan ruang tamu hanyalah bufet kayu, maka saya bisa mendengar apa yang terjadi.

Ternyata kak Dita berniat minta dinikahkan saat itu juga. Meski pun tanpa orang tua dan sanak saudara lainnya. Setelah menikah, dia dan pacarnya berniat pergi yang jauh, makanya dia bawa tas besar berisi baju-baju.

Ceritanya, kak Dita sudah cukup lama pacaran sama pria disampingnya. Tapi orang tuanya nggak setuju dengan alasan ekonomi dan suku. Alasan yang memang sering kali saya dengar di lingkungan saya waktu itu. Bahkan sampai saya besar, alasan itu masih terjadi di keluarga besar kami.

Tentu saja papa saya menolak menikahkan, karena nikah itu ada syarat dan rukun tertentu. Bukan ujug-ujug datang-nikah-pulang, emangnya lagi beli fried chicken drive thru?!

Papa saya juga menenangkan mereka dan bilang akan memanggil kedua belah pihak keluarga, biar papa saya bantu mediasi.

Sehabis magrib keluarganya datang, awalnya nggak nyangka anaknya bakal kabur kirain cuma mau pergi sebentar aja. Disitu terjadilah diskusi yang cukup alot.

Papa saya sebagai Kepala KUA bantu menjelaskan bahwa kedua anak tersebut sudah cukup umur, dan mereka punya keinginan yang kuat. Kalau dilarang, takutnya justru mereka nekat dan terjadi hal yang nggak diinginkan (zina, kabur, dll).

Terlebih dalam agama Islam yang paling utama adalah melihat kebaikan calon suami dari sisi agamanya, dan bagaimana dia bertanggung jawab memberikan nafkah lahir dan batin.

Saya lupa detailnya seperti apa, tapi akhirnya berujung damai. Kak Dita nggak jadi kawin lari bareng pacarnya dan memilih pulang dengan keluarga masing-masing.

Beberapa minggu kemudian Kak Dita, Pacarnya, dan Keluarganya datang lagi untuk mengurus pernikahan secara baik-baik dan akhirnya mereka pun menikah. Saya turut senang dan lega berujung dengan baik. Tapi karena tahun 2008 orang tua saya pindah dari sana, maka saya nggak tahu lagi kabar kak Dita sekarang.


Hikmah yang Bisa Dipetik

Hikmahnya adalah orang tua memang wajib memberikan nasehat dan bimbingan kepada anak dalam memilih pasangan hidup. Tapi biarkan anak memilih sendiri. Karena pernikahan itu kan inginnya sekali seumur hidup. Jangan sampai anak nggak bahagia dengan pilihan orang tuanya. 

Apa lagi kalau cuma masalah suku. Ini saya bingung banget sumpah. Sifat itu biasanya dipengaruhi gen, didikan keluarga, dan lingkungan. Nggak peduli dia mau orang Aceh, Batak, Melayu, dll. Jadi rasanya nggak masuk akal ortu yang melarang anaknya memilih jodoh dari suku tertentu. Tapi pada kenyataannya ada aja lho ortu yang begitu. 

Kalau masalah ekonomi, ajarkan anak untuk mandiri bahkan sebelum bertemu pasangan. Jadi kelak nggak melulu bergantung sama pasangan, kalau memang anak perempuan. Untuk anak laki-laki ajarkan dia sebagai orang yang bisa bertanggung jawab dalam mencari nafkah. Sehingga kelak siapa pun pilihannya dia mampu menafkahinya.


Belajar Dari Kisah Ortu

Ilustrasi by Canva

Ortu saya cerita, mereka juga mulai dari nol. Dari tahun awal pernikahan sampai tahun ke-tujuh, nggak ada bulan yang dilewati tanpa berutang ke warung sembako. Dikarenakan gaji papa saya waktu itu memang kecil.

Tapi mereka berhasil saling menguatkan sampai saya lahir, papa saya naik jabatan, gaji lebih besar, semenjak itu nggak pernah berutang lagi untuk urusan makan. 

Lebih salutnya, saya jarang melihat ortu saya bertengkar karena uang. 25 tahun pernikahan baru papa saya bisa beli mobil. Selama itu nggak pernah saya dengar mama saya ngeluh kesana kemari pakai motor.

Dari cerita mereka saya percaya bahwa yang paling penting memilih pasangan yang mampu bertanggung jawab, merintis saat awal nggak apa-apa, yang penting saling support, saling sayang. Kalau berusaha dan berdo'a, yakin deh nanti Allah berikan jalanNya.

Mungkin dari banyaknya pengalaman beliau lah saya sebagai anaknya nggak ada tuh dipaksa harus ini itu dalam memilih pasangan. Tapi tentu tetap ada nasehat misalnya pilih yang baik, bertanggung jawab, bisa sholat dan ngaji, dari keluarga baik-baik, standar lah ya orang tua bilang begitu. 

Makanya begitu saya kenalkan Mas Agus (suami saya sekarang) waktu itu, restunya dimudahkan banget. Ortu saya nggak masalah mas Agus cuma anak dari keluarga sederhana, sukunya apa, yang penting itu pilihan saya, bisa sholat, ngaji, bertanggung jawab, dan yang paling penting kata mama saya tuh dianya sayang sama saya, hahaha. 

Baca : 

Cerita Menemukan Teman Hidup


Nodong Nikah

Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari cerita saya ini ya. Jangan sampai kelak anak kita nekat kawin lari hanya karena sulitnya mendapat restu. Kalau memang sebagai ortu kita ingin dapat yang terbaik, sampaikanlah dari awal, jangan sampai ketika dia sudah memilih baru larangan itu datang. 

Semoga bermanfaat.




  • Share:

You Might Also Like

3 komentar

  1. Makan kue disore hari, jangan lupa temanya kopy,sungguh keren artikel mba enny isinya sangat menginspirasi 😊

    ReplyDelete
  2. saya rasa nggak ada orang tua yang pengen njerumuskan anaknya. mungkin memang ada beberapa orang tua yang pengen 'derajat' nya naik dengan cara cara tertentu, misalnya ya kudu nikah dengan sesama suku atau liat dari history calon mantunya

    btw, mbak eni, aku kenapa susah ya komen di artikel kalo diartikel itu sebelumnya belum ada yang komen. alias jadi orang pertama yang komen. klik sebelah mana ya kolom komennya, bingung sendiri

    ReplyDelete

Jalan-jalan ke rumah caca, mampir sebentar beli kedondong, jangan cuma dibaca, kasih komentar juga dong.