Istri Harus Bisa Masak?

By dudukpalingdepan - 9:48:00 PM


Dalam rumah tangga pasti ada yang namanya konflik dan drama, dari yang kecil sampai yang besar, dari yang bikin senewen sampai yang bikin sakit kepala. Bahkan kalau drama rumah tangga tersebut terus berlanjut bisa-bisa bikin stres. Eit, ngomongin soal stres di blog Uda Fadli ada artikel Cara Menghindari Stres lho, dibaca ya.

Drama Mertua vs Menantu

Balik lagi ke topik drama rumah tangga, salah satunya adalah konflik mertua dan menantu perempuannya. Pasti pernah dengar (atau mengalami) kan ada mertua yang ngomel karena menantunya nggak bisa masak, atau masakannya nggak enak. 

Kalau omelannya sesekali sih okelah, anggap saja bagian dari perhatian. Tapi kalau ngomelnya sering, di depan anggota keluarga lainnya, terus dibanding-bandingkan pula dengan ipar lain, serta dibilang nggak becus ngurus suami, wah itu sih pasti sakiiiiiiiiiiiiiiiit banget ya kan. Berasa kayak kehujanan, tapi hujannya hujan paku.


Padahal apakah ada aturan tertulisnya bahwa istri harus bisa atau jago masak? Rasanya saya belum pernah baca kalau memang ada. Bahkan di dalam Agama Islam pun, nafkah makanan itu dari bahan mentah sampai matang harusnya menjadi tanggung jawab suami.

Namun jika istri ikhlas membantu tanggung jawab suami dengan cara mengolah uang pemberian suami untuk dibuatkan makanan, maka itu akan menjadi pahala bagi istri. Pahala yang bisa diraih berkali-kali sepanjang hidup dalam pernikahan tersebut.

Sayangnya orang-orang tua yang memang keras berpegang pada budaya turun menurun menganggap bahwa memasak dan menyiapkan makanan adalah kewajiban utama seorang istri. Bahkan dalam adat suku tertentu, laki-laki sangat pantang masuk ke dapur.

Paling nggak enak lagi kalau kelakuan suami yang ketahuan selingkuh malah dikaitkan dengan istri yang katanya nggak jago ngurus suami dan rumah. Itu adalah pembelaan paling munafik *tapi beneran ada guys, huhuhu*.

Memasak Bukan Hanya Kewajiban Perempuan

Bukan suami saya. Soalnya terlalu ganteng. (Pic by Canva)
Kalau mau ditelaah lagi, sebenarnya memasak adalah salah satu skill bertahan hidup yang harus dimiliki setiap orang baik itu laki-laki maupun perempuan. Dalam kegiatan pramuka, semuanya pasti diajarkan cara memasak nasi di atas batu, membersihkan ikan yang ditangkap dari sungai, dan merebus sayur yang bisa dimakan.

Lagi pula kalau kegiatan memasak hanya dibebankan kepada istri, saat istri sakit, justru suami akan kelimpungan karena sama sekali nggak pernah masuk dapur. Bisa-bisa bikin kopi aja campur garam. 

Syukur sih kalau punya kemampuan untuk beli makan di luar atau bayar orang buat masak, tapi kalau nggak, gimana? Akhirnya istri yang sedang sakit pun terpaksa menguatkan diri hanya untuk sekedar menyiapkan makanan bagi anak dan suami.

Makanya kalau memang sekedar tahu cara menghidupkan kompor, rebus air, masak mie, masak nasi di rice cooker, bikin telur dadar atau ceplok, manasin makanan, itu sih harusnya kemampuan basic yang wajib diketahui setiap orang ya. Meski sederhana, minimal bisa menyelamatkan dikala darurat kelaparan tapi yang biasa masak lagi nggak ada di rumah.

Saya Bukan Orang yang Jago Masak,,,

saya jagonya makan aja

Saya sendiri jujur nggak jago masak. Awal nikah malah nggak bisa masak. Tapi syukurlah hal tersebut nggak jadi drama karena waktu itu saya terbuka dengan calon suami bahwa saya bukanlah orang yang handal dalam urusan memasak. 

Saya jelaskan pula kenapa saya nggak bisa memasak karena didikan orang tua saya dari zaman sekolah dulu adalah harus belajar yang benar, terus kerja. Jadi nggak apa nggak bantu mama di dapur asalkan belajar. 

Ketika saya sudah kerja pun malahan mama saya nggak mau saya tambah capek. Pas pulang makanan sudah tersedia, pas mau berangkat malah dibekalin lagi. Saya dididik memang harus bisa mandiri secara finansial nggak hanya tergantung pada suami. 

Meski nggak jago masak tapi saya suka bereksperimen bikin kue. Menurut saya lebih mudah bikin bolu daripada bikin sambal. Kalau bikin sambal selalu ada yang berasa kurang pas.

Syukurnya suami saya mengerti dan dia memang nggak hanya menilai saya dari satu sisi saja. Oh ya, saya juga minta dia untuk ceritakan tentang saya apa adanya kepada orang tuanya. Agar ortunya bisa menimbang untuk memberikan restu. Karena saya nggak mau drama disindir mertua hanya karena nggak jago masak itu terjadi.

Alhamdulillah orang tuanya mengerti banget. Karena katanya ibu mertua awal nikah juga nggak bisa masak. Butuh waktu yang cukup lama sampai bisa masak ini itu. Pernah bumer nginap di rumah saya, ketika saya masak malah dibilang "kamu nggak capek?" setelah masakan selesai juga dipuji enak, padahal yang saya masak tuh yang gampang banget. 

Tips Meminimalisir Drama "Istri Harus Bisa Masak"


Nah berikut saya rangkum cara agar drama "istri harus bisa masak" ini nggak terjadi, berdasarkan pengalaman saya. 


  • Jujur dari awal tentang kelebihan dan kekurangan pada pasangan, minta dia untuk memikirkan apakah kekurangan kita akan jadi masalah kedepannya?
  • Minta pasangan menceritakan tentang diri kita apa adanya pada keluarganya. Intinya jangan hanya demi pencitraan aja, tapi nanti pas nikah malah dicecar dan disindir.
  • Meski nggak bisa masak, pastikan kebutuhan pangan keluarga tetap berjalan dengan baik. Bisa catering, beli, atau menyewa tenaga tukang masak.
  • Belajarlah memasak atas dasar cinta kepada keluarga, bukan karena terpaksa. Tunjukkan pada keluarga kalau kita memang butuh waktu untuk "bisa".
  • Nggak tinggal satu atap bisa jadi pilihan untuk meminimalisir drama.

Semoga tips di atas bermanfaat ya.

Pada dasarnya suami dan istri harus saling melengkapi. Kalau ternyata suami yang lebih jago masak ya itu juga bukan aib lho. Mungkin memang butuh ekstra usaha untuk menjelaskan kepada orang tua bahwa rumah tangga kita tetap baik-baik saja terlepas istri bukan orang yang lihai di dapur. 

Kalau menurut kalian, gimana? Istri tuh wajib bisa masak atau nggak? Sharing di kolom komentar, ya.

Baca juga :

Bukan Teman Tapi Menikah

6 Tips Untuk Meminimalisir Konflik Keuangan Dengan Pasangan

  • Share:

You Might Also Like

18 komentar

  1. Bener, kak. Harus jujur dari awal saat pertama kenal. Saya pun mengaku kalau ngga bisa masak, ga bisa motong kue, sampe ga bisa motong semangka sama melon. Alhamdulillah jadi ga ada tuntutan. Soalnya saya cuma bisa masak sop dan bayem. Malah terbantu banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kan enak ya kalau dari awal terbuka jadi bisa menghindari drama-drama yang nggak perlu :D

      Delete
  2. aq cuma bisa masak, nasi goreng, mie rebus sama kentang goreng yang lainnya gak bisa. jadi bener2 gak bisa masak makanya alhamdullilah banget suami bisa malah yah jagolah dia masak baking juga bisa cuma malas-malasan.. jadi aq setuju kalo perempuan gak mesti bisa masak tapi harus banget komunikasi sama pasangan biar gak salah paham berkepanjangan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senangnya ada temen, wkwkwk. Ayo kita bikin grup persatuan ibu-ibu nggak bisa masak tapi tetap disayang suami, wkwkwkw

      Delete
  3. Mau istri mau suami seharusnya bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang paling dasar contoh masak toh ga perlu masak yg sekelas master chef yg penting makanannya bisa dimakan dan sehat bukan masak mie instant wkwkwk.krna namanya berumah tangga pasti ada satu moment dimn pekerjaan dasar istri harus sementara dihandle suami atau sebaliknya jadi ya sama 2 harus bisa sih ya ..untuk mengerjakan pekerjaan dasar ..menurut sy sih gitu hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tos mbak, sepakat kita. Kalau untuk sekedar gorang-goreng, atau ceplok telor kan harusnya nggak laki nggak perempuan ya bisa. :D

      Delete
  4. kalo kata suami saya istri gak perlu pintar masak yang penting tahu bagaimana wudhu yang benar, sholat yang benar, menutup aurat yang benar. karena kalo enggak suami yang berdosa. istri gak bisa masak suami gak berdosa. hihi. jleb banget di saya juga. jadinya kalo saya malas masak ya beli aja, wkwkwk.

    ReplyDelete
  5. Samaan kita kak.
    Dulu aku pun dididik yang penting belajar yang baik.
    Sampe-sampe itu kebawa hingga besar dan efeknya aku jadi gak begitu suka beberes rumah.

    Karena itu gak pernah ada dalam job description di rumah orangtua.

    Akhirnya sekarang aku rombak cara pendidikan anakku. Anak-anak di rumah harus bisa beberes.
    Dan si lelaki usia TK, sudah bisa nyeplok telur buat dirinya sendiri

    ReplyDelete
  6. Baiknya bisa masaaklah. Yah harus bisa masak kegemaran suami :)

    Saay juga bisa masak... air :)

    ReplyDelete
  7. Mba Enni, pinter masak sama bisa masak beda lohh, jd kl istri ga pinter masak sih gpp yang penting bisa masak. Cuma kl kata saya, yang penting itu ada niat buat bisa masak, insyallah lama2 pinter masak.

    ReplyDelete
  8. Wah saya juga masuk tim wanit yang ga pinter masak
    Memang semua harus dikatakan dengan jujur di awal biar pernikahan tetap berjalan dengan bahagia

    ReplyDelete
  9. Toss kita Mbak, saya juga nggak pintar masak. Tapi nggak juga dijadikan drama sama mertua. Malahan mertua seringnya memberikan sayur yang sudah matang buat dimakan anaknya. Atau kalau nggak dikasihnya bumbu yang sudah jadi jadi saya tinggal cemplung cemplung aja wkwkwk.

    ReplyDelete
  10. Dulu waktu masih tinggal bareng ortu, menganggap cewek bisa masak itu gak penting. Tapi setelah tinggal di rumah sendiri, kerasa banget pentingnya punya kemampuan memasak meskipun itu masakan sederhana. Saya menyebutnya memasak sebagai keterampilan untuk bertahan hidup

    ReplyDelete
  11. Kalo aku cari instri gak bisa masak juga gak papa, asal ahklak dan agamanya bagus aja. karena aku ingin membangun rumah tanga bukan membangun rumah makan.

    ReplyDelete
  12. Setuju dengan pandangan memasak bukan hanya tugas istri. Esensi menikah kan hidup bersama, saling mendampingi, saling mengisi,dan menjaga satu sama lain. Bukan cari orang yanh bisa bantuin kerjaan rumah kaan...Yang repot bin ruwet kalo ada pihak ketiga yang ikut campur urusan internal rumah tangga, salah satu contohnya mertua. 😁

    ReplyDelete
  13. Untunglah kita sama hahaa, jadi ceritanya bisa aku gunakan di masa depan biar aman dan sentosa kagak drama-drama ala Korea ya

    ReplyDelete
  14. Istri saya awalnya juga gak terlalu bisa masak, Mbak. Malah kalau mau masak sampai nelpon mertua, tanya resep dan cara memasak suatu menu tertentu. Sebagai suami, saya juga gak menuntut makanannya harus enak macam masakan ibu dan ibu mertua. Wong jam terbangnya beda jauh, yang penting ada yang bisa dimakan dan bersahabat dengan lidah, hehe

    ReplyDelete
  15. Memasak adalah skill bertahan hidup yang semua orang harus punya. Hihii. Ini benar banget loooh. Jadi, memasak itu BUKAN perempuan. Memasak itu YES untuk laki-laki dan perempuan.

    ReplyDelete

Jalan-jalan ke rumah caca, mampir sebentar beli kedondong, jangan cuma dibaca, kasih komentar juga dong.