√ Pengalaman Pertama Jadi Anggota KPPS - Duduk Paling Depan

Pengalaman Pertama Jadi Anggota KPPS

Pengalaman Pertama Jadi Anggota KPPS


Pesta demokrasi akhirnya sudah terlaksana. Selain sebagai pemilih, tahun ini saya juga menjadi bagian dari panitia KPPS (Kelompok penyelenggara pemungutan suara).

Apa rasanya menjadi anggota KPPS?

Jawabannya adalah : capek banget 😭.

Kenapa Bisa Jadi Anggota KPPS?

Saya kan kerja di Lapas, dimana warga binaan itu masih mempunyai hak pilih. Jadi tentunya pegawai di sini harus ada yang menjadi panitia untuk menyelenggarakan pemilihan umum.

Pemilu-pemilu sebelumnya saya nggak ikutan, tetapi tahun ini di Lapas tempat saya itu TPSnya bertambah menjadi dua TPS, sehingga butuh lebih banyak orang untuk menjadi anggota KPPS, maka saya terpilih juga.

Karena ini tugas dari kantor, saya terima aja. Apalagi kan memang ada honornya. Terus kerjanya itu kerja tim, jadi saya pikir Semua pasti bisa berjalan lancar.

Apa saja tugas anggota KPPS?

Jadi setelah terpilih dari kantor saya dan anggota KPPS lainya diharuskan ikut pelantikan. Kemudian ada bimbingan teknis yang diselenggarakan oleh KPU setempat, tentang bagaimana alur pemungutan suara, pengertian formulir-formulir yang harus diisi, dan diajarin juga cara mengisi formulir perhitungan suara tersebut.

Jujur pas bimtek aja udah capek, karena acaranya itu dari pagi sampai sore. Tapi masih oke-oke aja lah ya, karena kerja hari biasa pun juga kerja dari pagi sampai sore.

Tugas anggota KPPS itu selain menyelenggarakan pemungutan suara, kita juga melaksanakan perhitungan plus perekapan surat suara yang dilakukan secara manual (tulis tangan) dan melalui aplikasi Sirekap.

Pengalaman menjadi anggota KPPS

Nah pada tanggal 14 Februari 2024, Saya bangun subuh lalu masak buat sarapan  dan makan siang, apalagi anak saya mau ditinggal barang pengasuhnya.

Sekitar jam  07.00 saya sampai kantor dan TPS harus sudah dibuka. Diawali sumpah anggota KPPS terus dilanjutkan dengan pembukaan kotak surat suara.

Masih pagi masih bisa senyum dan selfie, pas udah malam udah nggak kepikiran lagi buat selfie karena udah kucel πŸ˜…


Sebanyak itu ditulis manualπŸ˜–


Nah ini nih mulai terasa berat pekerjaannya karena saya harus menulis semua surat suara dengan nama Kabupaten, Kecamatan, Kelurahan, Nomor TPS, dan nama ketua KPPS pada seluruh surat suara untuk 5 kategori pemilihan, jumlahnya sekitar 815 surat suara. 

Semua itu ditulis satu persatu secara manual. Saya melakukannya bareng satu orang teman. Sepanjang menulis saya menghela nafas panjang karena pegel juga nulis tangan sebanyak itu.

Kenapa nggak pakai stempel aja? Kalau disini sudah ditanyain ke KPU setempat katanya nggak boleh pakai stempel jadi harus pakai tangan. Kebayang nggak tuh jari sampai keriting nulisnya πŸ˜‘.



Kurang lebih proses pemungutan suara selesai sekitar 13.00 WIB. Kemudian semua anggota istirahat sholat dan makan. Sekitar pukul dua siang dilanjutkan dengan proses penghitungan suara. 

Awalnya masih semangat, Perhitungan suara disaksikan bersama sama sambil saya menulis berita acaranya, kemudian ada juga yang mengisi formulir C yang jumlahnya 20 lembar dan harus ditandatangani di setiap lembarnya.

Karena nggak boleh salah, jadi proses perhitungan dan rekapan suara ini harus dilakukan dengan teliti sehingga memang memakan waktu. Sehabis Ashar aja kami baru selesai menghitung satu kategori pemilihan.

Semua proses terus dikerjakan sampai nggak terasa hari sudah malam. Bahkan saya dan anggota lainnya baru sempat makan malam sekitar jam 21.00 WIB, karena memang masih berkutat dengan perhitungan dan rekapan surat suara.


Itu kondisi saya sebenarnya udah capek banget, saya sampai minum obat sakit kepala dan obat asam lambung. Terus saya juga sempatin beli Plosa dan koyo’ Salonpas. Karena badan sudah berasa pegel banget duduk dari pagi.

Syukurnya tim KPPS saya kompak dan mau berbagi tugas. Jadi kami bisa selesai sekitar pukul 00.00 dini hari, Bahkan saya masih sempat ngebantuin tim TPS lain yang ada di kantor juga. 



Walaupun sebenarnya ada satu lagi yang belum selesai, yaitu penginputan dokumen di aplikasi Sirekap dikarenakan memang aplikasinya itu bapuk banget 😀. Loadingnya lama dan kalo input dokumen sering gagal.

Tapi yang penting dokumen-dokumen asli semua sudah selesai.

Saya sampai rumah sekitar pukul setengah satu dini hari, itu anak saya sudah tidur dan mau nggak mau pengasuhnya juga tidur di rumah.

Perasaan saya campur aduk. Lega karena sudah selesai, capek banget juga, dan ada rasa sedih karena meninggalkan anak seharian full.

Besoknya saya izin masuk kantor karena bangun dengan keadaan badan pegel banget dan kepala masih sedikit pusing. Ditambah lagi saya sedang menstruasi jadi badan rasanya nggak karu-karuan.

Jujur aja nih, saya rasanya kapok untuk jadi anggota KPPS. Meskipun ada gajinya itu sekitar 1,1 juta, Tapi tetap aja capeknya luar biasa karena pekerjaannya itu harus diselesaikan pada hari itu juga dengan dokumen seabrek. Belum lagi hati saya galau karena kepikiran anak yang ditinggal di rumah. 

Setelah gajian pun uangnya saya pakai buat ke salon dan spa karena badan pegel-pegel banget jadi harus massage. Sama beli makanan di luar karena beberapa hari itu saya capek banget dan memutuskan untuk nggak masak. Ditambah lagi saya harus bayar pengasuh juga. 

Jadi begitulah rasanya jadi anggota KPPS, capeknya luar biasa bagi saya, padahal banyak juga loh TPS yang selesainya lebih lama, ada yang sampai subuh subuh dan ada yang sampai pagi. 

Kalau aja tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, saya berharap untuk Pemilu selanjutnya petugasnya itu dibagi menjadi beberapa tim dengan sistem piket bergantian. 

Misalnya tim pertama itu hanya bertugas untuk melaksanakan pemungutan suara yaitu dari 07.00 pagi sampai selesai. Selanjutnya ada tim lain yang bertugas melaksanakan perhitungan surat suara, dan yang melakukan perekapan surat suara juga dengan tim yang berbeda, jam kerja juga yang diatur sedemikian rupa sehingga anggota KPPS tidak kelelahan. 

Saya rasa banyak yang nggak masalah kalo gajinya nggak sebesar sekarang, akan tetapi memang jam kerjanya itu manusiawi. Karena nggak semua orang kuat kerja dari pagi sampai dini hari.

Untuk aplikasi Sirekap juga, please pakai vendor yang memang ahli untuk menampung trafik dari seluruh admin pada hari-H pemilu. Kalau nggak, kenapa nggak pakai aja Google drive atau Google sheet. Soalnya nih ya, sampai hari saya nulis blog ini, aplikasinya juga belum berhasil membaca data dokumen yang saya input. Jadinya meski pemilu sudah lewat, saya masih harus berkutat dengan aplikasi ini. 


Pemilu 2024


Yah, semoga aja pesta demokrasi yang menguarkan banyak biaya, menguras tenaga,  waktu, dan pikiran banyak pihak, dapat menghasilkan pemimpin dan anggota legislatif yang benar-benar amanah. Amiiin.

Itulah pengalaman pertama saya menjadi anggota KPPS dan saya berharap Pemilu berikutnya saya jadi pemilih biasa aja. Untuk anggota KPPS di mana pun kalian berada, kalian hebat banget. Terima kasih ya atas kontribusinya untuk mewujudkan demokrasi di Indonesia.




Get notifications from this blog

1 comment

  1. Yaampun, Mbaa. Aku bacanya pun ikutan menghela nafas karena nggak terbayang capeknya kayak apa 😭 Nggak heran ya tiap kali Pemilu tuh banyak petugas KPPS yang tumbang. Aku jadi makin bersyukur dengan kehadiran para petugas KPPS ini. Mana kemarin aku sempat lihat ada yang sampai dekor TPS tema Valentine dan bagi-bagi bunga buat 20 pengunjung pertama. Seru amaat, mungkin biar nggak capek-capek amat, ya XD

    Sekarang sudah sehat lagi kan, Mba?

    ReplyDelete