√ Review Pembalut Kain, Cegah Iritasi Saat Menstruasi - Duduk Paling Depan

Review Pembalut Kain, Cegah Iritasi Saat Menstruasi

Review Pembalut Kain



Sebenarnya dari pertama saya dapat menstruasi pas SMP dulu, sudah diajarin sama mama saya untuk pakai pembalut sekali pakai. Diajarin juga untuk mengganti pembalut beberapa jam sekali, dan mencuci pembalut sampai bersih, pakai sabun, baru dibuang ke tong sampah. 


Bertahun-tahun pakai pembalut sekali pakai sebenarnya nggak ada masalah berarti. Paling ada beberapa merk pembalut yang saya nggak cocok karena mudah bocor, atau terasa pengap dan panas *cewek pasti ngerti ini*. 


Alhamdulillah nggak ada iritasi sampai akhirnya saya merasakan masa nifas. Kalau menstruasi kan siklusnya 5-7 hari, paling lama kalau saya itu 10 hari. Jadi pakai pembalut selama siklus itu ya nggak ada masalah. 


Bedanya waktu nifas kan 40 hari, dan darahnya lebih banyak. Pada minggu kedua, saya mulai ngerasain iritasi karena pembalut. Gesekan bagian tepi pembalut bikin kulit jadi kemerahan, gatal, dan perih. Sekalipun saya sudah ganti pembalut tiap beberapa jam sekali. 


Akhirnya saya coba browsing-browsing, gimana cara mengatasi iritasi karena pembalut. Kebanyakan artikel merekomendasikan mengganti pembalut sekali pakai dengan alternatif lainnya. 


Salah satunya adalah pembalut kain. Bedanya dengan pembalut sekali pakai, pembalut kain bahannya lebih lembut, lebih adem, sehingga ketika bergesekan dengan kulit nggak menimbulkan iritasi.

 

Yaudah waktu itu saya coba order, dan ternyata nyaman banget memang pakai pembalut kain. Keterusan sampai sekarang, saya masih mengandalkan pembalut kain ketika datang bulan. 


Hanya saja ada plus minus juga pakai pembalut kain ini. 


Review Pembalut Kain


pembalut kain nadhif



Meski dirasa lebih nyaman daripada pembalut sekali pakai, tapi pembalut kain nggak sekuat pembalut sekali pakai untuk menahan darah menstruasi terutama pas hari pertama dan kedua yang lagi banyak-banyaknya. Pakai pembalut kain harus lebih sering ganti dibanding pakai pembalut biasa. 


Pembalut kain juga harus dicuci. Beda dengan pembalut sekali pakai, bisa kita cuci atau digulung aja dan dibuang. Kalau pembalut kain ya harus dicuci kan. Bakalan repot saat perjalanan jauh.


Mencuci pembalut kain juga nggak susah kok. Selama bertahun-tahun saya pakai pembalut kain, nggak pernah ada noda yang nggak bisa hilang. 


Cara mencucinya tinggal siram terus pembalut dengan air sampai nodanya berkurang banyak. Sisanya oleskan pakai detergen cair lalu kucek. Kalau belum hilang juga, oleskan lagi detergen cair, diamkan satu jam atau lebih, lalu kucek lagi dan bilas hingga bersih. 



Kemudian perbedaan pembalut kain dengan pembalut biasa, dari segi ketebalannya. Belum dipakai aja pembalut kain jelas lebih tebal dari pembalut biasa apalagi ketika sudah menampung cairan menstruasi. Jadi memang bakal berasa banget saat dipakai. 


Meski begitu saya setia pakai pembalut kain karena nggak menimbulkan iritasi. Rata-rata menspad pembalut kain ini dibuat dari bahan katun  yang lembut dan adem. 


Lalu sama halnya dengan pembalut biasa, pembalut kain ini juga ada berbagai ukuran yang bisa dipilih. Bahkan ada ukuran panty yang untuk dipakai saat hari-hari akhir pas tinggal sedikit.




Saya pernah cerita juga di blog ini pengalaman saya pakai KB Implan yang menimbulkan efek saya jadi menstruasi dua kali sebulan dengan siklus 7-10 hari setiap menstruasi. Dengan gonta ganti antara pembalut sekali pakai dengan pembalut kain, syukurnya saya nggak iritasi lagi meski harus mengalami menstruasi lebih lama dan lebih sering. 


Sampai sekarang sebenarnya saya masih pakai keduanya. Misal hari pertama sampai ketiga itu saya pakai pembalut sekali pakai karena khawatir bocor kalau pakai pembalut kain. Apalagi kalau keluar rumah, kan repot urusannya kalau sampai bocor๐Ÿ˜ž. 


Hari ketiga dan seterusnya saya ganti-ganti, misalnya pagi-siang pakai pembalut biasa. Malam pakai pembalut kain. Begitu juga kalau hari-hari terakhir sudah mulai sedikit-sedikit yang keluar, nah itu saya bisa pakai pembalut kain mulai dari pagi, dan tetap diganti beberapa jam sekali.


Kalau lagi traveling, saya tetap bawa dan pakai pembalut biasa karena nggak mau repot cuci-cuci pembalut kain. 


Dari segi ekonominya memang jadi lebih hemat pemakaian pembalut. Memang awalnya aja beli agak mahal, tapi bisa dipakai bertahun-tahun. Pemakaian pembalut sekali pakai saya juga berkurang 50% daripada sebelum kenal pembalut kain. 


Ngomongin pembalut kain ini sebenarnya versi lebih modern aja karena saya dapat cerita zaman mama saya remaja atau zaman nenek saya, ya pakai pembalutnya dari kain yang dibuat sendiri dari handuk kecil yang dilipat lalu dilapisi kain perca. 


Baru seiring berjalannya waktu, banyak pembalut sekali pakai yang dijual dan dinilai lebih praktis. 


Sebenarnya banyak alternatif pembalut yang lebih ramah lingkungan ya. Ada menstrual cup misalnya. Caranya memasukkan cup silikon ke dalam vagina untuk menampung darah menstruasi. 


Saya cari-cari reviewnya, banyak pengguna menstrual cup yang ngerasa nyaman pakainya karena kayak nggak berasa pakai apa-apa. Selain itu bersihinnya juga gampang dan awet bertahun-tahun, plus ramah lingkungan karena meminimalisir sampah. 


Hanya saja saya belum punya nyali buat pakai menstrual cup. Mikirin masukinnya dan mengeluarkannya saya udah parno sendiri. Mungkin nanti deh kalau sudah siap mental.

 

Sementara saya baru bisa ganti sebagian pemakaian pembalut saya ke pembalut kain. Yah, berawal dari nggak mau lagi ngalamin iritasi kulit, sedikit-sedikit ikut membantu meminimalisir sampah pembalut sekali pakai walau belum sepenuhnya. 


Pembalut kain yang pernah saya pakai itu merk Nadnad dan Nadhif. Dua-duanya lembut, adem, dan awet. Link produk ada di bawah ini ya klik aja nama produknya. 


Pembalut Kain Nadnad


Pembalut kain Nadhif


Kalau untuk pembalut sekali pakai saya biasanya pakai yang merk Laurier atau Charm. 


Oh ya kalau dilihat, pembalut kain ini desainnya cerah, warna-warni dan rame kayak baliho acara dangdut. Dipikir-pikir kenapa desainnya dibuat begitu ya? Kan nggak ada yang lihat ini selain kita sendiri. 


Tapi lumayanlah kalau ada yang suka matchingin outfit, nah pas menstruasi juga bisa dimatch sekalian warna pakaian dalamnya sama warna pembalut kainnya. Bisa juga pakai warna yang lagi sesuai dengan suasana hati ๐Ÿ˜.


Nah semoga sharing pengalaman kali ini bisa bermanfaat buat perempuan yang ngerasa nggak nyaman pakai pembalut sekali pakai terus menerus apalagi kalau siklus mentruasinya cukup lama. 


Kalau ada rekomendasi alternatif pembalut lainnya, boleh sharing di kolom komentar ya. 


Get notifications from this blog

2 comments

  1. Udah lama ga bw2 kesini tampilan makin kece aja blog mba hehehe btw aku dulu beli pembalut kain pas zaman anak pake clodi.. Ceritanya biar ramah lingkungan dan aku masih takut pake menscup, suami juga ngga izinin lol yaudah pake pembalut kain aja lumayan bisa hemat apalagi dipake pas 3 hari setelah haid, cuma emang yg aku bahannya agak panas tapi awet banget ngga rusak wkwk pengen beli merek nad nad ini deh kayaknya lembut

    ReplyDelete
  2. Wah kayaknya lebih aman dan nyaman dipakai kalau kain daripada pembalut biasanya yang berisiko iritasi. Sering banget risau masalah pembalut yang kadang bikin ga nyaman karena mudah geser dan kadang bikin gatal-gatal. Eh sekarang udah ada pembalut kain, solusi nih. Terima kasih reviewnya!

    ReplyDelete

Jalan-jalan ke rumah caca, mampir sebentar beli kedondong, jangan cuma dibaca, kasih komentar juga dong.