Wednesday, August 8, 2018

Pengalaman Mastitis dan USG Payudara


Jadi ibu itu selalu ada kejutan seru. Seperti pengalaman saya seminggu lalu sampai harus izin kerja karena kena Mastitis. Padahal saya merasa sebentar lagi akan lulus jadi ibu menyusui, karena Mukhlas sekarang sudah 1tahun 5bulan tapi ternyata tetap ada cobaannya shaayy. 




Saya ingat banget malam itu saya nidurin Mukhlas sambil menyusui sekitar jam 21.30wib. Seperti emak-emak lainnya dimana ketika nidurin anak si ibu juga ikut tertidur, nah begitu juga saya waktu itu. 

Sekitar jam satu dini hari saya kebangun dan kebelet pipis. Itu saya sudah ngerasa badan kok dingin banget. Saya pikir mungkin karena ACnya terlalu dingin. Sehabis dari toilet saya merasa makin dingin padahal derajat AC sudah saya naikin.  Makin lama makin dingin dan menggigil, sampai saya bangunin suami untuk bantu menyelimuti tumpuk-tumpuk. Mungkin karena saya kasak - kusuk, Mukhlas kebangun. Saya susuin lagi dong biar dia bisa tidur lagi, nah disitu saya ngerasa payudara kiri yang disusui Mukhlas itu terasa nyeri banget. Saya sampai meringis kesakitan. Sudah biasa sih Mukhlas kalau nyusu ngegigitnya kuat banget apalagi giginya sudah banyak. Tapi yang ini sakitnya beda, berkali-kali lipat. 

Saya raba payudara kiri saya memang terasa bengkak banget. Mirip kalau saya nggak nyusuin Mukhlas seharian karena pergi kuliah. Herannya saya baru menyusui Mukhlas beberapa jam lalu waktu mau tidur. Kok, bisa bengkak?. 

Saya berusaha cuekin tapi makin lama nyerinya makin terasa, badan saya makin menggigil. Kalau diraba dahi saya ampun panasnya kalau ditaruh telor mungkin bisa matang jadi telor ceplok. 

Karena sudah nggak tahan saya minum obat pereda nyeri, asam mafenamat. Sebenarnya lebih aman paracetamol tapi lagi nggak ada. Mau ngukur suhu tubuh juga termometer dicari nggak nemu. Entah kenapa barang di rumah tuh kalau lagi dibutuhin susah banget ditemuin, kalau lagi nggak butuh dia geletakan depan mata. Huft. Tapi saya yakin waktu itu suhu tubuh saya lebih dari 38 derajat celcius. 

Memang sejam setelah minum obat saya keringatan dan merasa enakan. Tapi payudara tetap nyeri, bengkak, kalau disentuh sakit banget. Cuma saya paksa tidur karena ngantuk juga, dan sesekali masih menyusui Mukhlas. 

Oh ya saya juga sempat nelpon dokter di aplikasi YesDok, saya ceritakan keadaan saya dan dokternya memang bilang bisa jadi ini mastitis. Cuma dokter nggak bisa pastiin karena nggak periksa langsung. Memang besoknya saya berencana untuk ke rumah sakit supaya lebih yakin. Menjelang ke dokter saya disarankan minum pereda nyeri dan kompres payudara dengan air hangat. 

Besoknya keadaan saya juga belum membaik. Dengan badan mengigil saya ke rumah sakit. Nunggu lama eh dokternya nggak datang-datang. Nyebelin banget karena perawatnya hanya bilang tunggu aja di luar tanpa kejelasan yang pasti jam berapa dokternya datang. Mana saya nggak nafsu makan jadinya maag kambuh. Kebayang nggak? badan menggigil, payudara nyeri, maag kambuh, hati mangkel karena dokternya nggak kunjung datang, dan perawatnya nggak ramah.


Akhirnya saya pulang aja, dan berencana ke rumah sakit kabupatan sebelah keesokan harinya.  Sementara itu saya konsumsi paracetamol dan kompres payudara saja atas saran teman saya yang seorang dokter juga (sayangnya kita tinggal berjauhan). Dia juga memberikan link tentang penjelasan Mastitis dari website IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), bisa dibaca disini.

Dari Artikel itu saya tahu ternyata penyebab Mastitis bukan hanya karena jarang disusui, tapi bisa jadi dari puting yang lecet maka masuklah kuman penyebab infeksi. Penyebab puting lecet karena salah pelekatan. Saya langsung instropeksi diri. Memang kalau diingat-ingat akhir-akhir ini Mukhlas suka menyusu dengan banyak gayanya sendiri. Sambil tengkuraplah, gigi-gigit puting sambil ditarik-tarik, apalagi kalau malam kami terbiasa tidur dengan lampu dimatikan, jadi Mukhlas menyusui sambil tiduran juga, nah disitu saya nggak bisa memastikan apakah pelekatannya sudah benar karena gelap dan saya mengantuk. 
source : web IDAI

Dari yang saya baca-baca, lecet puting bukan terjadi karena anak sudah banyak giginya tapi karena pelekatan yang salah. Saya akui memang makin kesini saya merasa Mukhlas sudah pintar menyusu dalam artian tinggal buka kancing baju, dia sudah bisa langsung nyosor, jadi nggak perlu saya atur lagi posisinya. Gara-gara terlena akan hal itu saya jadi lecet puting.

Selain itu kata dokter juga, bisa jadi karena saluran lactosa tersumbat. Karena saya nggak mengkonsumsi suplemen menyusui. Sebelumnya saya mengira saya hanya butuh suplemen daya tahan tubuh. Tapi kata dokter, suplemen menyusui seperti kandungan ekstrak katuk atau blackmores nggak bisa digantikan dengan suplemen daya tahan tubuh.

Satu hal lagi, bisa jadi karena di kantor saya nggak pumping sama sekali. Karena saya pikir saat siang hari saya pulang ke rumah untuk menyusui. Jadi memang jeda dari jam 6 pagi - 12 siang itu saya nggak menyusui. 

Intinya saya terima semua nasehat dokter dan mengakui kelalaian saya. Sekarang saya mulai pumping lagi dan minum tablet ekstrak katu dan selalu memperhatikan posisi menyusui Mukhlas. Kalau dia cuma gigit ujung puting biasanya saya pencet hidungnya biar lepas dan mengulang pelekatan yang benar. 

Terus, kenapa saya sampai USG Payudara?


Saya nggak puas aja, karena waktu itu bengkaknya menyerupai benjolan. Kalau diraba berasa banget itu seperti bulatan. Lagipula saya kan belum ketemu dokter bedah, jadinya belum dibilang pasti kalau itu Mastitis walau gejalanya mengarah kesana. Yaitu payudara saya bengkak, nyeri, kemerahan, dan disertai demam tinggi.

Jadi saya bela-belain ke kabupaten sebelah tepatnya di Rumah Sakit Sentral Medika Bungo, untuk USG Payudara. Emang kerasa ya bedanya RS swasta, dilayani dengan baik dan ramah. Setelah saya melakukan pendaftaran disuruh tunggu kira-kira setengah jam. Setelah itu saya diajak masuk ke ruang pemeriksaan, tentunya ditemani suami. 

Saya deg-deg-an dan terus berdo'a semoga nggak ada hal-hal buruk di dalam tubuh saya. Susternya nyuruh saya ganti pakaian dengan semacam kain untuk penutup dada, tapi tetap pakai jilbab. Oh ya dokternya laki-laki, karena memang disitu cuma ada satu-satunya dokter Radiologi. Dalam Islam kan kalau untuk medis nggak apa-apa, saya mengikhlaskan diri untuk ikhtiar berobat walau sebenarnya malu. Tapi waktu pemeriksaan tentu didampingi suster dan suami.
source : Wikihow. Tapi ekspresi saya nggak kayak yang santai banget kayak disini juga. 

USG Payudara mirip dengan USG perut ketika lagi hamil. Kulit kita diberikan semacam gel lalu dokter menekan sedikit alat USG sambil diputar-putar dan melihat kondisinya di layar monitor. Meskipun caranya mirip, alatnya berbeda ya. Makanya meskipun di daerah  tempat saya tinggal ada USG kandungan tapi nggak bisa untuk USG Payudara. 

Alhamdulillah, dokternya bilang memang bengkak dan nyeri di payudara saya karena Mastitis. Tidak ada hal yang membahayakan semacam tumor atau kanker. Wah disitu saya langsung bilang alhamdulillah dan hati rasanya plong banget. Lega. Seketika saya langsung mikir pengen makan makanan enak. Karena dua hari belakangan waktu itu saya nggak nafsu makan karena kepikiran takut terjadi kemungkinan buruk. 

hasil USG

USG payudaranya juga nggak lama hanya berkisar 10-15 menit. Dokter yang melakukan USG tanya setelah ini saya mau konsultasikan hasilnya kemana? saya jawab bahwa saya mau ke praktek dokter bedah.

Jadi di rumah sakit itu memang saya cuma USG tanpa diberikan obat. Tarif USGnya Rp400.000. Standarlah mengingat ini bukan kota besar. Sebelumnya saya sudah browsing, USG payudara itu berkisar antara 250rb-1juta lebih tergantung rumah sakitnya masing-masing. 

Habis dari sana, saya lanjut ke praktek dokter bedahnya. Saya tunjukkan hasil pemeriksaan USG payudara sebelumnya. Dokternya cuma suruh saya berbaring lagi, diperiksa dan dia bilang memang mastitis. Dokternya nggak ramah dan nggak komunikatif. Dia nggak menjelaskan banyak hal tentang mastitis ini. Malah dia bilang begini "ini resep obatnya untuk lima hari. Kalau dalam lima hari nggak sembuh ya dioperasi"

Beuuuh, nyebelin banget. Saya kurang suka sama dokter yang nggak menenangkan pasien. Saya tahu yang dia bilang tentu berdasarkan ilmu kedokteran, tapi caranya itu lho. Bukannya jelasin dulu penyebab mastitis itu apa, hal-hal yang harus saya lakukan dan hindari, lalu menenangkan kalau saya rajin minum obat insyaAllah lekas sembuh, namun jika ada keluhan segera kembali lagi ke prakteknya. Gitu kek, ini nggak. Rasanya kapok untuk kembali berobat kesana kalau nggak terpaksa banget. 

Untungnya saya sudah nelpon dokter di aplikasi YesDok yang mana dokternya ramah dan komunikatif, tanya teman yang juga dokter (dia emang anaknya pinter banget dari jaman sekolah dulu jadi saya yakin dia akan jadi dokter yang baik), dan baca artikel di website IDAI. Sehingga saya tahu apa penyebabnya dan apa yang harus saya lakukan kedepannya supaya nggak kena mastitis lagi. Padahal sebelumnya saya berharap banget dapat penjelasan yang lebih detil dari dokter spesialis bedah itu. 

Tapi ya sudahlah, yang penting saya sudah berikhtiar untuk berobat selebihnya saya meminta kepada Allah SWT untuk menyembuhkan saya. Saya nggak mau dioperasi, huhu.

Alhamdulillah sehari minum obat, saya merasa benjolan dan bengkaknya makin mengecil. Di hari kedua sudah nggak ada sama sekali baik benjolan dan rasa nyerinya. Jadi saya stop minum obat anti nyerinya, tapi tetap melanjutkan antibiotik sampai habis. 

Pengalaman terserang mastitis ini jadi pelajaran berharga banget untuk saya. Jangan lengah mentang-mentang beberapa bulan lagi anak akan lulus ASI jadi merasa cuek nggak pumping, nggak minum suplemen, nggak memperhatikan posisi pelekatan. 

Saya bagikan pengalaman ini supaya jadi pelajaran ya untuk bumil, busui, dimanapun berada. Saya berdo'a buibuk nggak sampai kena mastitis karena itu rasa sakitnya melebihi suami yang ekspresinya datar pas istri bilang I love you. 

Kalaupun nanti juga mengalami, jangan ragu ke dokter ya. Kalau dikasih antibiotik jangan anti dulu ya. Karena dokter pasti kasih yang aman untuk ibu menyusui. Soalnya saya pernah baca pengalaman ibu lain di blog yang nggak mau minum anti biotiknya, eh dua tahun kemudian mastitisnya kambuh sekalipun sudah nggak menyusui dan harus dioperasi. 

Ada yang pernah ngalamin mastitis? atau suka duka selama menjadi busui? sharing di kolom komentar, ya. 




14 comments:

  1. Hai mb..ak prnah jg nih, awal mula menyusui, menggigil dan suakit banget sampe ubun ubun, menyusui sambil nangis, cuman bisa kasih air kompres dan mandi air hangat, paksu pasrah karena gak banyak yg bs dilakukan.untungnya hanya kurang sebulanan menderita seperti ini, selanjutnya menyusui dengan menyenangkan.:)

    ReplyDelete
  2. '...rasa sakitnya melebihi suami yang ekspresinya datar pas istri bilang I love you.' Persis suamiku, kalau ku bilang, 'Sayang, ailafyuuu... (sambil monyongin bibir)' cuma dibales 'Hhhmmmm... (dgn ekspresi datar), ku patah hati seketika -_-/|

    Anyway, makasih share pengalamannya ein. Aku belum menyusui, baru hamil 29 minggu. Hehe

    ReplyDelete
  3. Ya alloh Alhamdulillah gpp ya mba, ko sama sih mba saya juga pernah 3 kali klo ga salah, emang bikin meriang hiks apalagi klo mau haid, semoga busui gada yg mastitis lagi deh ah, bln kmrn saya minum sanmol, gakuat hrs sembuh soalnya

    ReplyDelete
  4. aduh kok serem banget mba :( sampe ngilu ini kayaknya pas lagi aku nyapih gitu kali ya meriangnya soalna waktu nyapih kan ga dinenenin PD bengkak dan aku demam duh itu menyiksa untungnya cuman 2 hari doang kalau aku si mba

    btw aku baru tau USG PD mahal juga dibdg USG kehamilan wkwkwk itu dicover bpjs ga mb?tetep yah nanyain bpjs

    ReplyDelete
  5. Hi mbakk... Wahhhh padahal Muklas udah gede yaa, tapi bisa mastitis jugaaa... Sakit banget pasti, aku cuma plugged duct/breast engorgement aja rasanya sakit banget udh nangis2, gimana mastitis...

    Tapi aku rada sangsi mbak kalau pelekatan ngga bener, anaknya udah gede juga... Emg rata2 freestyle kan umur segitu.. Mungkin lebih ke arah karena ga pumping di kantor kali yaa...

    Noted juga buat suplemen menyusuinyaaa. Thanks for sharing mbak

    ReplyDelete
  6. Saya pernah mengalami PD bengkak krn gak pumping seharian di kantor, karena saya lupa bawa pompa asi nya.
    Duhh.. rasanya gak enak banget ya mbak. Berasa kayak meriang gitu.

    Bahkan ada temen saya yg PD nya harus dioperasi untuk mengeluarkan penyebab bengkaknya itu. Sampai sekarang katanya dia malah trauma untuk hamil lagi.

    Nice share mbak 😊

    ReplyDelete
  7. Pengalaman ini pasti bermanfaat banget untuk istriku nanti yang entah dimana rimbanya :3

    ReplyDelete
  8. aq baru tahu loh mbak kalo mastitis bisa terjadi karena terlalu lamanya rentan waktu kita tidak menyusui bayi yah, ditambah virus karena posisi menyusui kita tidak benar. aq dulu gak pernah berani nyusuin sambil tiduran karena pernah langsung dapat cerita anaknya tertindih payudara sehingga meninggal, jadi beneran seperti shock teraphy ke aq-nya selalu nyusuin sambil duduk. tfs mbak

    ReplyDelete
  9. Waktu aldebaran 18 bulan aku juga kena. Gak enak banget, demam, menggigil. Karena gak kuat langsung ke dokter, alhamdulillah gak sampai dioperasi.

    ReplyDelete
  10. Wahhhh ngeri juga ya mba, pengalaman ini bisa jadi informasi juga nih buat saya nanti kalau sudah mau menikah.. Nanti istri saya suruh berkunjung kesini aja ya, biar lebih jelas jelasinnya hhe.. Terima kasih infornya mba..

    ReplyDelete
  11. Duh aku jadi ngilu mbak, semoga selalu sehat yaaa mbak.

    ReplyDelete
  12. Saya jg pernah kena milk blister saat anak usia 6 bulan. Bener, kita ga boleh terlena ya. Ternyata masalah menyusui bisa kena kapan aja. Huhuu

    ReplyDelete
  13. Aduuuh kebayang sakitnya, Mbak. :( Tapi aku agak sedikit ketawa baca caption yang USG payudara hehe. Dulu aku gak pernah kena mastitis. Baru tahu aja dari cerita teman-teman. Infonya bagus banget ini buat pembaca.

    ReplyDelete
  14. Baru tahu tentang mastitis, pas awal bacanya cepat kirain masinis, duh... jauh banget yaa...
    Alhamdullillah, waasan bertambah.
    Ntar kalau ada yang tanya mastitis aku sarankan mampir di sini.

    Baidewei Mastitis ini temannya mbatitis kali ya, LOL :).

    ReplyDelete

Jalan-jalan ke rumah caca, mampir sebentar beli kedondong, jangan cuma dibaca, kasih komentar juga dong.