Liburan Seru di Taman Mini Indonesia Indah
Saya memang sudah janji sama anak, kalau nilainya nggak ada yang jelek pada rapor kenaikan kelas, maka kami akan liburan yang naik pesawat.
Kenapa harus naik pesawat? Karena memang naik pesawat itu terasa cukup istimewa dan mewah. Terakhir, anak saya itu naik pesawat sekitar 2 tahun lalu. Nah, kebetulan direct flight dari Jambi yang paling terjangkau itu ke Jakarta.
Mata Kering Bikin Produktivitas Terhambat? Insto Dry Eyes Solusi Jitu untuk Pekerja Fokus!
Dunia Kerja Milenial dan Gen Z: Produktivitas di Tengah Era Digital
Dunia kerja saat ini sudah tampak berbeda dibandingkan dengan satu atau dua dekade lalu. Kini, dunia kerja telah banyak didominasi milenial akhir (kelahiran 1990-1996) dan Gen Z (kelahiran 1997-2012).
Coba deh kalian lihat di kantor tempat kalian bekerja, sudah banyak rekan kerja yang kelahiran tahun 19986 ke bawah. Bahkan saya shock sendiri saat ada anak baru di kantor kelahiran tahun 2003. Harusnya anak-anak kelahiran 2000-an bukannya masih SMP/SMA ya?!! *berusaha denial*.
Generasi milenial akhir dan gen z yang tumbuh besar beriringan dengan pesatnya perkembangan teknologi ini, membawa serta gaya hidup digital ke dalam setiap aspek pekerjaan.
Makanya nggak heran, kalau gadget mulai dari laptop, smartphone, hingga tablet, kini menjadi “senjata” utama yang tak terpisahkan dari rutinitas harian para pekerja muda ini. Bahkan mereka dianggap lebih paham dengan perkembangan dunia digital sebagai penyokong produktivitas kerja dan kemajuan perusahaan.
Dari meeting online yang tak mengenal batas ruang, surat menyurat yang lebih efisien menggunakan email, pemasaran digital yang semakin terus berkembang, hingga penyelesaian proyek dari seluruh dunia dengan koneksi internet, mata kita dituntut untuk terus beradaptasi dengan cahaya layar yang menyala sepanjang waktu.
Ketika Produktivitas Terganjal Mata Kering
Sayangnya, tuntutan kerja yang terus-menerus di depan layar ini seringkali berujung pada masalah yang umum namun sering disepelekan, yaitu mata kering.
![]() |
| Sumber : freepik.com/author/benzoix |
Saya yakin bagi kita para pekerja yang sehari-harinya menggunakan gadget dan menatap layarnya selama berjam-jam, membaca buku penunjang materi pekerjaan, dan melakukan pekerjaan tersebut di ruangan ber-AC, maka pasti pernah merasakan mata kering.
Mata kering bukan sekadar rasa lelah biasa. Ini adalah kondisi di mana mata tidak memiliki cukup air mata yang berkualitas untuk melumasi permukaannya dengan baik.
Kenali Gejala Mata Kering
Jangan sampai kamu mengabaikan sinyal yang diberikan mata. Gejala mata kering bisa sangat mengganggu produktivitas dan kenyamananmu.
Tanda-tanda (Gejala) Mata Kering yang Perlu Diwaspadai : Mata SEpet, PErih, LElah.
1. Mata Sepet
Mata sepet adalah ungkapan yang menggambarkan kondisi mata terasa tidak nyaman, berat, sulit dibuka lebar, dan cenderung ingin selalu terpejam atau menyipit. Ini bukan istilah medis, tapi lebih ke deskripsi sensasi yang dirasakan. Biasanya, "mata sepet" muncul karena:
- Terlalu lama menatap layar (komputer, handphone), membaca, atau fokus pada sesuatu tanpa istirahat.
- Permukaan mata kurang terlumasi dengan baik, menimbulkan rasa tidak nyaman, perih, dan gatal, sehingga mata cenderung ingin menyipit.
- Paparan lingkungan seperti debu, asap, atau udara AC yang kering bisa membuat mata terasa tidak nyaman.
Mata perih adalah sensasi tidak nyaman yang terasa seperti ada rasa panas, menyengat, atau nyeri ringan hingga sedang di mata. Ini adalah gejala umum mata kering.
3. Mata Lelah
Gejala mata kering lainnya yaitu mata lelah, Mata lelah, kondisi umum di mana mata terasa pegal, berat, atau tidak nyaman setelah penggunaan gadget secara intensif.
Jika merasakan gejala SEPELE (SEpet, PErih, LElah) di atas, jangan diabaikan begitu saja karena nanti malah bisa iritasi yang lebih parah atau bahkan infeksi. Jika gejala-gejala di atas akrab kamu rasakan, itu pertanda mata kamu membutuhkan perhatian ekstra.
Jangan Sepelekan Mata Kering Atasi Dengan Insto Dry Eyes
Jangan menganggap sepele gejala mata kering, lelah, karena dampaknya bisa sangat mengganggu. Bayangkan ada meeting yang menunggu, ada jadwal live streaming, ada target dan deadline yang harus dikejar.
Jangan biarkan prooduktivitas menurun, fokus buyar, dan kenyamanan sehari-hari jadi terenggut. Terlebih lagi bagi kita yang hidup di era digital, di mana mata terus-menerus terpapar layar dan lingkungan ber-AC.
Mata kita butuh pelumas khusus yang mampu mengembalikan kelembapan dan kenyamanan. Saya merekomendasikan memakai tetes mata Insto Dry Eyes. Solusi praktis mengatasi mata kering, membuat mata terasa lebih nyaman dalam waktu yang tidak terlalu lama. Cocok untuk para pekerja produktif yang berkejaran dengan waktu dan target setiap harinya.
Mengapa Harus Pilih Insto Dry Eyes?
Pelumas Andal untuk Mata Keringmu
Meringankan Iritasi Akibat Kurangnya Air Mata
Praktis dan Siap Sedia
Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Ketika Memakai Insto Dry Eyes
Pengalaman Menggunakan Insto Dry Eyes
Lanjutkan Produktivitas yang Tertunda Karena Mata Kering Dengan Insto Dry Eyes
Kelebihan dan Kekurangan Rumah KPR Subsidi
Dari Jual Rumah Hingga Ngontrak
Postingan saya sebelumnya cerita tentang bagaimana saya mengurus pelunasan KPR. Setelah lunas rumahnya dijual karena memang saya ada rencana pindah tugas mengikuti suami ke daerah lain.
Selagi menunggu SK pindah keluar, saya ngontrak dulu di perumahan yang termasuk KPR Subsidi. Perumahan ini baru ada sekitar 6-7 tahun. Saya pilih karena memang lokasinya strategis, dekat ke kantor, dan lingkungannya aman.
Dari hasil ngobrol sama pemilik kontrakan, dia beli rumah ini dengan cicilan. Awalnya mau ditempati sendiri tapi karena suatu lain hal jadi kosong dan dikontrakan.
Kondisi rumah kontrakan ini masih bentukan asli dari pihak developer. Dengan 1 ruang tamu / serba guna, 1 kamar tidur, dan 1 kamar mandi. Jadi pemilik rumah belum melakukan renovasi.
Nah, sekitar dua bulan saya tinggal disini, saya jadi punya sudut pandang tentang plus minus rumah KPR Subsidi. Saya mau share disini supaya teman-teman yang mungkin lagi cari rumah, bisa tahu kelebihan dan kekurangan rumah subsidi.
Kelebihan Rumah KPR Subsidi
1. Uang Muka dan Cicilan yang Terjangkau
Ini memang jadi daya tarik utama rumah KPR Subsidi ya. Sesuai namanya "subsidi" memang ada peran pemerintah sehingga kita bisa beli rumah dengan harga yang lebih terjangkau.
Bahkan sekarang banyak promo rumah KPR subsidi yang uang mukanya di bawah 10 juta, bahkan ada yang 0 Rupiah.
Bayangkan dengan uang nggak sampai 10 juta, kita sudah bisa menempati rumah yang sertifikatnya akan jadi hak milik kita setelah cicilan lunas.
Untuk cicilan perbulan pun bisa dibilang terjangkau. Dari hasil riset saya, cicilan rumah KPR Subisidi ini berkisar antara 800ribuan hingga 1,7 juta saja perbulan tergantung tenor yang diambil.
2. Telah Tersedia Fasilitas Umum
Namanya perumahan biasanya sudah disiapkan fasilitas umum seperti jalan yang sudah dicor, ada taman bermain atau olahraga, pos satpam, bahkan ada perumahan yang ada fasilitas kantin-kantin umum.
Perumahan biasanya juga dibangun di lokasi yang strategis meskipun di pinggiran kota. Minimal dekat dengan sekolah, atau perkantoran. Makanya jadi daya tarik masyarakat karena kalau dekat dengan sekolah atau tempat kerja bisa sekalian hemat biaya transportasi.
3. Tenor Panjang
Masa pinjaman (tenor) KPR subsidi bisa sangat panjang, hingga 20-30 tahun. Ini membuat cicilan per bulan menjadi lebih kecil dan terjangkau.
4. Bebas PPN
Pembelian rumah subsidi dibebaskan dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN), yang secara signifikan mengurangi total biaya pembelian.
5. Proses Mudah
Proses pengajuan KPR subsidi cenderung lebih sederhana dan cepat dibandingkan KPR komersial, dengan persyaratan yang lebih longgar. Apalagi kalau ASN, biasanya sat set banget di-acc pengajuannya.
6. Ramai / Langsung Ada Tetangga
Ini cocok untuk yang orangnya emang ekstrovert, atau anak kos perempuan yang tentunya akan merasa lebih aman kalau tinggal di lingkungan yang ramai.
Kekurangan Rumah KPR Subsidi
1. Ukuran Terbatas
Rumah subsidi umumnya memiliki luas bangunan dan tanah yang terbatas (misalnya tipe 21 atau 36). Seperti yang saya sebutkan di atas, di kontrakan saya tipe 21 dengan 1 ruang tamu / serba guna, 1 kamar tidur, dan 1 kamar mandi.
Karena nggak ada dapur, jadi kompor dan peralatan dapur diletakkan di depan kamar tidur yang masih menyatu dengan ruang tamu.
Begitu juga dengan jemuran handuk, mesin cuci, dan pakaian kotor juga di ruangan yang sama. Mau berusaha serapi dan se-estetik apapun tetap nggak enak dilihat.
Kondisinya anak saya baru satu, sehingga masih bisa tidur dengan kami. Bayangkan kalau anak lebih dari satu, ada yang sudah dewasa, tentu kondisi ruangannya sudah nggak ideal.
2. Butuh Renovasi dengan Biaya yang Lumayan Besar
Menyambung dengan alasan di poin satu, maka rumah subsidi butuh renovasi minimal tambahan ruang dapur, ruang tidur, garasi, dan pagar (untuk lebih aman).
Pengalaman saudara dan teman-teman saya yang renovasi rumah subsidi, nggak kurang dari 100juta bahkan lebih. Tergantung pula dengan material yang dipilih, biaya tukang, dan biaya nggak terduga lainnya.
Jadi jika uang muka dan cicilan ringan, kita tetap butuh menguras saldo untuk renovasi. Karena benar-benar nggak nyaman jika berkeluarga dan tinggal dengan bentuk asli bangunan.
3. Pengap dan Panas
Ini memang tergantung lokasi dan desain, tapi pengalaman saya, rumah didesain dengan plafon yang tidak terlalu tinggi, ventilasi kecil, sehingga terasa pengap dan panas.
Saya hanya pakai AC di kamar tidur, nah kalau keluar kamar, hawanya langsung gerah, belum lagi faktor cuaca.
Apalagi perumahan di tempat saya nggak didesain ada pohon-pohon rindang, benar-benar dari depan sampai akhir blok-blok, nggak ada pohon, jadi kalau panas ya langsung ke dalam rumah.
Jujur saya sering banget ngeluh soal ini, karena benar-benar mempengaruhi mood di dalam rumah.
Untung anak saya sudah SD dan sudah bisa dikasih pengertian. Kalau anak saya masih bayi atau toddler, dia pasti rewel terus karena panas.
Kalau bukan ngontrak, mungkin saya juga akan pasang AC di ruang tamu ini yang mana akan berpengaruh ke cost listrik yang membengkak.
4. Material Bangunan Belum Tentu Baik
Lagi-lagi tergantung developernya ya. Tapi saya lihat rumah kontrakan ini sudah ada retak rambut, dan jamur. Padahal baru kurang lebih 5 tahun.
Itu artinya rumah ini perlu biaya perawatan berkala lebih sering dibanding rumah yang dibangun sendiri dengan kualitas bahan yang ada di bawah kontrol pemilik rumah.
5. Jarak Rumah Berdempetan
Syukurnya kalau di tempat saya ngontrak meski berdempatan tapi cukup kedap suara, sehingga saya nggak dengar isi rumah tetangga. Paling hanya dengar derit pintunya itu pun sayup-sayup.
Tapi bagi saya jarak rumah yang berdempetan ini bisa jadi kekurangan karena rawan konflik. Iya kalau dapat tetangga baik, kalau nggak?
Contohnya tetangga saya ada tong sampah di depan rumahnya, dia taruh di antara halaman dia dan saya.
Suatu hari saya pulang kantor, lihat sampah dia berserakan di halaman rumah saya. Posisi capek jadi emosi karena sampah itu sampah makanan yang berisi nasi bekas dll. Mungkin ada binatang atau anak kecil iseng nendang tong sampah sehingga sampahnya berserakan ke arah halaman saya.
Tentu saya ogah mungutin dan bersihin sampah orang. Tapi saya gedeg juga karena ya nggak etis ada sampah tergeletak dimana orang juga lalu lalang lewat.
Nah, andai rumah ini tidak terlalu berdempetan, tentu nggak ada space tetangga naruh tong sampah di antara rumah dia dan rumah saya.
Ini cuma satu contoh kasus ya, saya yakin ada banyak contoh konflik lain antar tetangga jika rumah terlalu berdempatan. Walaupun balik-balik lagi tergantung karakter individu masing-masing.
6. Tidak Cocok Untuk Orang yang Suka Bikin Acara
Bagi sebagian keluarga, kita pasti punya budaya bikin acara tergantung hajatnya. Ada yang suka bikin pengajian mingguan, bulanan, arisan keluarga, bahkan acara khitan dan pernikahan jika memang sudah tiba waktunya.
Nah ini saya nggak kebayang kalau ada yang tinggal di perumahan subsidi dengan ruas jalan blok terbatas, dan rumah yang berdempetan, gimana kalau mau bikin acara khitanan atau resepsi pernikahan?
Khusus untuk di daerah saya, belum ada gedung serba guna yang bisa disewa untuk pernikahan, dan juga belum lazim.
Nggak kebayang riwehnya bangun tenda/pelaminan di halaman rumah yang kecil, dan bisa jadi rawan konflik dengan tetangga karena berdempatan dan bagian rumahnya harus dipakai untuk hajatan.
Kembali Kepada Kondisi Masing-Masing
Kelebihan dan Kekurangan rumah KPR Subsidi yang saya tulis di atas murni dari sudut pandang dan opini saya pribadi.
Saya juga bisa memahami nggak semua orang punya kesempatan untuk bangun rumah di atas tanah sendiri atau tanah warisan orangtua. Nggak semua orang bisa beli rumah cash yang cukup besar. Nggak semua orang, bisa lolos administrasi KPR komersil.
Pada akhirnya keputusan punya rumah dikembalikan kepada kondisi, kebutuhan, dan keinginan kita masing-masing.
Pengalaman mengontrak ini benar-benar membuat saya lebih paham akan kelebihan dan kekurangan rumah KPR Subsidi dan bisa jadi bahan pertimbangan kelak ketika memutuskan untuk punya rumah sendiri setelah berhasil pindah.
Semoga sharing pengalaman ini bisa bermanfaat, dan saya do'akan yang sudah baca ini kelak bisa punya rumah impian kalian ya. Amiiin. 😊💜








.jpg)


