Pelajaran yang Mahal Harganya

By dudukpalingdepan - June 27, 2021




Dulu saya pernah menemukan kalimat bijak di sampul buku seperti ini "Pengalaman adalah pelajaran yang mahal harganya". Waktu itu saya belum terlalu paham kenapa pengalaman disebut pelajaran yang harus kita bayar mahal. 

Sampai saya mengalami sesuatu yang memang membuat saya mengerti bahwa untuk mendapatkan pelajaran tersebut, saya harus benar-benar membayar mahal. Bukan dengan uang, melainkan dengan terkurasnya energi dan kesehatan mental.

Bayangkan hari-hari yang sebelumnya menyenangkan, bahagia, banyak pencapaian baik yang saya dapat kemudian berganti dengan sesuatu yang "menampar". Membuat saya menangis terus menerus, down, bahkan sempat terpikir ingin mengakhiri hidup. 

Separah itukah hal yang saya alami? Atau saya yang terlalu lemah? Entahlah.

Ketika ada suatu masalah yang katakanlah cukup berat, atau mungkin nggak seberat itu dimata orang lain, tapi cukup membuat mental saya terganggu, hari-hari terasa kelabu. 

Apa yang membuat terasa berat?

Omongan orang.



Cerita yang ditambah bumbu-bumbu sehingga kejadian asli yang saya alami sudah punya banyak versi. Bahkan ada kejadian yang nggak terjadi, dibikin ada hanya karena momennya berdekatan dengan masalah saya.

Mereka yang saya pikir bisa membantu meredam masalah yang ada, ternyata justru mengambil momen ini untuk menyebarkan sebanyak-banyaknya. Seolah-olah semakin banyak yang tahu maka semakin banyak keuntungan yang ia dapat.

Belum lagi sorotan mata yang berbeda dari biasanya. Merendahkan, menghakimi. 

Masalah saya adalah masalah yang bersifat personal, namun memang terjadi di tempat umum. Sehingga ada yang merasa bahwa urusan itu harus menjadi urusan umum, urusannya. Padahal nggak pantas sama sekali siapapun ikut mencampuri urusan personal saya. 

Bagai api yang menjalar di rerumputan kering, begitulah oknum yang ikut campur tersebut membuat masalah saya yang awalnya api kecil yang bisa dipadamkan dengan beberapa guyuran air, menjadi kebakaran yang memerlukan petugas pemadam kebakaran untuk membantu menyelesaikannya.

Namun dibalik kejadian ini banyak sekali hikmah dan pelajaran yang saya dapat.


Bagaimana karakter dan sifat asli orang-orang di sekitar saya menjadi sangat jelas terlihat. Mana yang benar-benar teman, mana yang bukan. Mana yang mengulurkan tangan untuk membantu, mana yang justru bertepuk tangan riuh disaat saya ada masalah. 

Kejadian ini juga mengajarkan saya bahwa nggak semua hal yang saya anggap baik untuk dilakukan, dianggap baik pula bagi yang melihat atau menerima kebaikan tersebut.

Ibaratnya maksud kita baik, ditanggapi orang lain dengan cara yang berbeda. Ujungnya niat baik justru menjadi bumerang.

Kejadian ini juga menyadarkan saya, penghakiman manusia saja terasa menyesakkan dada, bagaimana penghakiman Allah di akhirat nanti?

Meski sakit rasanya sekarang, tapi saya juga bersyukur Allah masih tegur dan sentil saya selama masih hidup. Artinya masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri, memfilter orang-orang yang dijadikan teman atau sahabat, dan sadar bahwa jangan sombong dengan hal-hal duniawi, karena pada akhirnya yang kita butuhkan adalah ketenangan hati dan itu bersumber dari kedekatan hubungan kita dengan DIA. 

Dari kejadian ini pula hubungan saya dan suami semakin erat, karena kami saling menguatkan. Menangis bersama, menghibur satu sama lain. Kami saling mengevaluasi diri, mungkin ini memang momennya untuk berbenah menjadi pribadi yang lebih baik.

Saya juga sadar, ternyata suami saya bukan hanya pendamping namun ia pendidik yang baik untuk saya. Mengajarkan dan mencontohkan bagaimana harus memaafkan dan bersabar. 

Begitu pula hubungan saya dan kakak saya yang sempat renggang, karena ini kami menjadi berbaikan kembali. Ialah orang pertama yang saya ingat ketika saya down. Saya tahu dia orang yang nggak akan meninggalkan saya ketika saya di titik terendah.

Hikmah dan pelajaran yang saya tuliskan di atas, mungkin nggak akan saya rasakan kalau ujian/cobaan/teguran ini nggak terjadi.

Berkaitan dengan omongan orang, atau oknum yang memprovokasi, rasanya ingin saya balas. Namun lagi-lagi suami saya menasehati bahwa tunjukkan kita jangan sampai sama seperti mereka. Emosi nggak akan menyelesaikan masalah. 

Ya, dari dulu manajemen emosi saya kurang baik. Mudah terpengaruh dengan orang lain. Mungkin ini saat yang tepat untuk belajar mengelola emosi. 

Kakak saya juga menyarankan untuk belajar tentang mindfulness dan stoicsm dimana membantu untuk fokus dengan apa yang terjadi di depan mata, nggak mengkhawatirkan apa yang sudah dan akan terjadi, serta belajar untuk nggak mencemaskan apa-apa yang diluar kontrol kita.

Termasuk omongan orang lain.

Hal tersebut di luar kontrol saya. Mau saya jelaskan juga kejadian sebenarnya seperti apa, kalau hati mereka tetap penuh hasad dan mau nambahin cerita versi dia ya akan terus seperti itu, di luar kendali saya.

lagi pula orang yang kekeuh banget mau ikut campur itu hanya ikut campur bagian saya ketiban masalah saja, nggak mau dia sekalian ikut campur soal tagihan dan cicilan saya.

Suami selalu ada di samping saya mendukung dalam keadaan apapun, keluarga saya juga. Bahkan setiap menelpon mertua dan orang tua, saya selalu mendapatkan banyak do'a. Saya yakin mereka juga nggak melupakan anak dan mantunya dalam setiap do'a selepas mereka sholat.

Saya juga punya saudara yang baik, sahabat-sahabat yang nggak meninggalkan meski saya dalam kondisi sulit, yang tetap support dan bilang ini semua pasti akan segera berlalu, saya masih punya keahlian untuk diandalkan menjadi karya.

Biarlah. Biarlah oknum-oknum tersebut mau berkata apa atau mau menjatuhkan sekeras apa. Karena penghakiman mereka nggak ada artinya. Ada Allah SWT yang kasih sayangnya luas dan tak terbatas, asalkan hambaNya masih mau memohon dan meminta hanya kepadaNya. Saya sangat yakin itu. 

Sepanjang hidup saya, ini menjadi pelajaran yang sangat mahal harganya. Namun saya tahu mungkin ini bukan "pelajaran" terakhir. Semoga jika saya bisa melewati ini dengan baik, maka pada pelajaran-pelajaran berikutnya, bisa pula saya jalani dengan ikhlas dan sabar. 

Oh ya, satu lagi pada momen seperti ini saya merasa bahwa selain mendekatkan diri kepada Allah, support orang-orang terdekat itu sangat berperan penting dalam menguatkan mental.

Jadi kalau kamu tahu atau dengar ada orang di sekitarmu yang sedang dirundung masalah atau duka, coba deh inisiatif untuk menghiburnya. Jangan paksa dia cerita kalau dia nggak mau atau nggak siap, tapi tawarkan saja hal-hal yang mungkin bisa meringankan bebannya.

Misal ngajakin makan di luar, atau ngajakin cerita hal-hal yang menyenangkan, bisa juga dengan sekedar bilang "kalau ada apa-apa, kasih tahu aja ya". 

Bisa jadi dengan tindakan kecil tersebut, kamu sudah membantu menyelamatkan seseorang yang sedang berpikir apakah menyelesaikan masalah dengan kuat menghadapinya, atau menghilangkan rasa sakit dengan mengakhiri hidupnya. 

Kalau memang nggak bisa, minimal jadilah air di tengah gejolak api yang membara. Dengan diam dan nggak menambahkan apa-apa dari kabar atau cerita yang kamu dapatkan. 

Ada perasaan lega setelah saya menulis ini, writing helps me to healing. 

Semoga teman-teman yang membacanya juga bisa mengambil hal-hal baiknya ya. 


  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

  1. setiap langkah kita, manusia itu pengalaman hidup, pergantian jam dan hari jadi lembar-lembar kehidupan yang membuat kita kuat atau lemah, tuhan maha baik, tak ingin umatnya menjadi cengeng. setiap masalah, Allah pasti akan membukakan jalan keluarnya, Kuncinya sabar dan ikhtiar. ini untuk diriku dan kita yang membaca postingan ini

    ReplyDelete

Jalan-jalan ke rumah caca, mampir sebentar beli kedondong, jangan cuma dibaca, kasih komentar juga dong.