Wednesday, July 4, 2018

Jangan Jadi Generasi Latah Menindas


Ada artis digosipin pelakor? dibully rame-rame. Ada transgender katanya laki tapi ngaku perempuan? dihina rame-rame. Ada artis Tiktok aslinya lebih hitam daripada di video? dicaci rame-rame. Masih banyak lagi berita yang mencuat kemudian warganet rame-rame ngebully dengan cacian dan hinaan. 

Saya nggak habis pikir kenapa banyak masyarakat Indonesia pengguna media sosial pikirannya bisa secetek itu. Kenapa kita harus menyuarakan ketidaksukaan terhadap sesuatu dengan hinaan dan makian? kritis boleh, ngebully jangan. Berpendapat boleh, menghina jangan. Tapi mungkin bagi mereka sudah tidak ada batas antara beropini dengan menyakiti hati orang lain. 

Saya pribadi kalau nggak suka sesuatu sebisa mungkin dihindari. Apalagi kalau di media sosial sangat mudah, ada fitur block maka kita nggak bisa lagi lihat postingan orang tersebut. Selesai perkara. Kalaupun sebagai manusia biasa saya masih ada rasa kepo dan nyinyir ya cukup membatin di dalam hati. 

"Resiko dong jadi publik figur, kalau nggak mau dikomentarin macam-macam ya jangan jadi artis"

Status publik figur yang melekat pada seseorang bukan berarti menghalalkan kita untuk menghinanya, mencaci maki dirinya dan keluarganya. Komentar di atas nggak masuk di logika saya. Lebih masuk akal kalau kita nggak suka sama seorang public figur ya nggak usah follow medsosnya, nggak usah tonton atau dengar karyanya. Semudah itu. 

"Makanya jadi artis tu harus jaga attitude. Salah sendiri kenapa kelakuannya begitu"

Publik figur itu juga manusia biasa. Ada dua sisi di dalam dirinya, baik dan buruk. Saya berusaha menyukai publik figur karena karyanya, urusan pribadi dia ya terserah dia lah mau apa. Nggak ada dampaknya kan di hidup kita dia mau pacaran sama siapa, mau nikah sama siapa. Lagipula kenapa kita sibuk menilai kesalahan orang lain? semacam nggak sadar bahwa diri sendiri juga pasti banyak dosa. 

"Media sosial diciptakan ada kolom komentar ya buat komentar, jadi suka-suka dong mau komentar apa"

Mulut diciptakan Allah untuk berbicara yang baik-baik, begitu juga dengan jari tanganmu. Bukan medianya yang salah, otak lu kudu dibenerin. 

Terakhir viral si Bowo, anak kecil yang katanya populer di aplikasi Tik Tok. Beberapa waktu lalu dia mengadakan meet n greet, katanya pas fansnya ketemu langsung dengan si Bowo ini mereka kaget karena ternyata dia nggak seganteng dan seimut divideo-videonya. Belum lagi harga tiket meet n greetnya yang mahal. Karena itulah, dia dibully warganet habis-habisan. Mulai dari nama kelamin sampai nama binatang ada di kolom komentar instagramnya.

Si Bowo atau siapapun di luar sana, anak kecil itu masih butuh bimbingan bukan hujatan. Pernah nggak mikir gimana kalau dia jadi malu, tertekan, depresi. Namanya anak-anak nggak pikir panjang, gimana kalau dia sampai bunuh diri? Orang yang bunuh diri karena dibully terus-terusan itu banyak. Jangan sampai satu kalimat kita bisa jadi penghantar orang lain meregang nyawa. 

Sebagai orang tua, saya miris. Kebayang kelak kalau anak saya mencoba berkarya di media sosial terus hasilnya belum bagus kemudian dicaci-caci orang lain. Wah kalau saya sih langsung ke kantor polisi laporin mereka dengan pasal UU ITE *esmosi bundaaa*. 

Kalau memang prihatin dengan kebanyakan anak-anak yang lebih sering main tiktok daripada belajar, kenapa nggak mulai dari lingkungan sekitar. Entah itu anak/adik/sepupu/ponakan, ajarkan mereka permainan atau aplikasi yang lebih bermanfaat. Bisa juga dengan ikut memviralkan anak-anak yang berprestasi.

Kadang anak-anak Tik tok itu nggak bermaksud membuat dirinya viral, akun-akun lucu-lucuan itulah yang merepost sehingga mengundang banyak orang untuk membully. 

Semoga kita tidak menjadi generasi yang latah menindas. Ikut-ikutan supaya nggak dibilang ketinggalan zaman. Tanpa memikirkan setiap orang punya perasaan. 

Sepakat? 





10 comments:

  1. I agree with u Bundaaa, sebagai busui yang ketinggalan gosip terhowt saya bersyukur jadinya, lbh banyak hal berfaedah dibanding komen ga bener palagi klo bully anak org uh keterlaluan gmn ntar rasanya klo anak dia yg di bully, karma does exist ya bun

    ReplyDelete
  2. Tadi nonton pagi2 pasti happy uya kuya mb, n topiknya ttg bowo, malah kasian aku jdnya...soalnya setelah diwawancara ternyata kronologinya seperti itu
    Trus netizen yg sebenernya ga tau duduk perkaranya trus asal komen lebih2 yg kasar dan menyakiti aduuuh kebayang lah hati orang tua korban bullying mana yg ga sakit, pastinya psikis merasa terancam...ngeri netizen yang ga bertanggung jwb gitu, salah salah si korban bullying ini tertekan di mental kan bahaya, trus ortunya kepikiran anaknya sama2 tertekannya, sakit, gawatnya kadang ada yg sampe meninggal kan yg salah sapa coba klo kyk gini

    Tul, mending andaikan ga ngerti fuduk perkaranya jangan coba komen yg nylekitin orang lain, apalagi orang tsb ga ada salah sama kita
    Salah2 mlh kita yg dzolim ya, naudzubillah

    ReplyDelete
  3. Sepakat! Medsos yang seharusnya membuat kita punya banyak teman, ternyata malah membuat orang "terpaksa perfeksionis". Harus kelihatan bagus, walaupun palsu. Salah sedikit, dihujat. Terus kesalahan itu bisa viral dan terus muncul di timeline sampai berminggu-minggu sesudahnya. Dulu, waktu saya masih kecil, kalau salah ngomong ama temen, jadi bahan olok-olokan seminggu. Terus, lama² terabaikan. Anak jaman sekarang, kekurangan hari ini bisa masih dihujat sampai sebulan kemudian. Kapan bisa punya rasa percaya diri tinggi?

    ReplyDelete
  4. aq setuju untuk gak terlalu mudah menindas, membully, apapun itulah namanya.. entah kenapa aq juga mikir orang zaman sekarang katanya cinta damai tapi kok lebih senang cari ribut

    ReplyDelete
  5. Sepakaat banget mba. Saya tuh ya suka mikir, kok yo netijen itu bisa seenaknya aja komentar terkadang dgn bahasa yang gak enak dibaca. Opo yo hidupnya sempurna sekali sampai bisa komen sejahad itu!? Hehehehe. Jujur sekarang saya malah jauh lebih hati2 kalau mau komentar di medsos gitu mba, lebih baik ditahan deh. Takut gak disangka-sangka malah kena UU ITE, hahaha

    ReplyDelete
  6. Aku pun kadang juga suka ngerasa sama mbak netijen mah asal ceklis, namun emange banyak banget di beranda. Jadi ada dimana-mana ocehan negatif netijen, semakin bijak aja bersosmed uehehe

    ReplyDelete
  7. krn jaman now, netizen itu nggak ketemu langsung, jadi bisa ngebacot orang seenaknya mbak, coba aja ngomong langsung, apa nggak perang dunia 2 :D

    ReplyDelete
  8. Bener kata mbak Amanda. Kalau ketemu langsung, saya yakin ga berani deh ngata-ngatain. Apalagi kalau ketemuannya satu lawan satu. Eh kok lawan? Maksudnya empat mata gitu. Cep klakep deh no comment bisa-bisa

    ReplyDelete
  9. Tergantung siapa yang mengendalikan media sosial tersebut sih, kalau baik ya bisa jadi baik.. Kalau salah digunakan ya, begitulah hasilnya :)

    ReplyDelete
  10. Setujuuuu mba. Kritis boleh ngehina dan ngebully jangan. Kadang saya pernah nggak sengaja gitu baca komen orang-orang. Aduhhhh aku kuat mba. Bahsanya kasar-kasar. Padahal kalau mereka ga suka ama artis itu, ya jangan dipantengin

    ReplyDelete

Jalan-jalan ke rumah caca, mampir sebentar beli kedondong, jangan cuma dibaca, kasih komentar juga dong.