Cara Efektif Menstimulasi Kemampuan Bicara Anak

By dudukpalingdepan - 4:00:00 PM



Setiap orang tua pasti senang banget memperhatikan tumbuh kembang anak, termasuk kemampuan berbicara. Rasanya bahagia luar biasa saat anak saya pertama kali menyebutkan kata “ma..ma”. Terus bertambah kosa katanya, lalu bisa merangkai kata menjadi kalimat, sampai kemudian bisa ngomong minta jajan ke Alfamart.


Sering juga anak saya dapat pujian dari orang-orang, katanya cara Mukhlas bicara sudah lumayan jelas diusia dua tahun. Tentu saya mengucapkan terima kasih. Walaupun di dalam hati saya Mukhlas ini tumbuh kembangnya ya standar anak pada umumnya.

Sampai saya ngobrol dengan seorang sahabat yang kerja di lembaga terapi anak berkebutuhan khusus. Disana bukan cuma menangani ABK yang bawaan sejak lahir, tapi anak-anak sehat namun mengalami keterlambatan kemampuan berbicara atau disebut dengan speech delay.

Dia cerita itulah pentingnya orang tua melatih dan merangsang kemampuan anak berbicara bahkan sejak dari kandungan. Kalau mikirnya “ah nanti anak bakalan bisa bicara sendiri kok” dan ternyata anaknya speech delay, stimulasinya akan lebih susah, lebih ekstra, dan lebih lama.

Saya juga pernah nonton videonya Dr Tiwi di Youtube, tumbuh kembang anak harus sesuai waktunya. Kalau ada satu aspek yang terlambat maka akan merembet kepada aspek lainnya. Sehingga orang tua harus lebih ekstra agar anak bisa mengejar keterlambatan tersebut.

Berikut cara yang bisa ibu-ibu lakukan untuk menstimulasi kemampuan bicara pada anak :

Sering-sering ajak anak berbicara sekalipun dia belum bisa menanggapi

Mengajak anak ngobrol harus dimulai bahkan sejak hamil. Kalau sudah lahir, ajak terus bicara sekalipun dia belum bisa menanggapi. Biasanya saya akan menjelaskan dengan suara apapun yang saya lakukan terhadap anak. Misalnya pas ganti popok “Mama ganti popoknya ya sayang, mama angkat kakinya, cuci-cuci, biar bersih, biar nggak gatal bokongnya” walau anaknya cuma kedap-kedip mata doang yang penting saya ngoceh terus. Kebetulan memang hobi saya ngoceh juga sih.

Belajar kosa kata dengan menggunakan flash card

sumber : Tokped

Tentu saja sudah banyak artikel yang menyarankan cara ini bahkan katanya bisa diajarkan dari bayi. Tapi saya sendiri baru mulai ketika Mukhlas umur satu tahun. Caranya saya ulangi satu gambar tiga kali dengan suara keras, kemudian anak mengulangi kata.

Oh ya teman saya ada yang niat banget lho bikin flash card sendiri untuk anaknya dari kardus, digambar sendiri, diwarnai sendiri, keren banget deh. Sedangkan saya adalah emak-emak yang mengedepankan prinsip praktis, maka cukup beli di toko buku.

Ajak anak melihat, memegang, benda dan sebutkan nama-namanya


Kalau cara ini ajaran mama saya yang pernah mengajar PAUD. Jadi misalnya mau mengajarkan anak nama-nama sayur. Selain dari flash card, gambar, atau video, bisa langsung ajak anak ke dapur. Ambil bawang dan bilang “ba..wang..me..rah” minta anak mengulanginya dan menyentuh bawangnya. Lakukan dengan fun dan bisa sambil nyanyi juga.

Tanggapi anak ketika sering bertanya “ini apa?”

Ada fasenya anak akan bertanya “ini apa?” “itu apa?” pada semua benda yang dia lihat. Jangan marahin anak dan bilang dia bawel, jawab aja sesuai nama bendanya karena itu bisa menambah kosa kata anak. Walaupun sih kadang gemes juga, soalnya anak nanya “ini apa?” pada benda yang sama bisa sampai sepuluh kali. *sabar...sabar....*

Membacakan Buku


Bacakan buku kepada anak sedari bayi. Selain bisa menambah kosa kata anak, bisa mengasah kemampuan berpikir anak karena buku ada jalan ceritanya. Salah satu cara juga untuk menanamkan minat literasi kepada anak sejak dini.

Jangan ikutan cadel di depan anak

Cara bicara anak balita memang menggemaskan. Tapi sebagai orangtua, kita harus mencontohkan pengucapan kata yang benar. Misal anak bilang “mama...makan naci” kita harus balas dengan “iya mama ambilkan nasi ya. Naaa si”. Walaupun ada masanya saya juga ikutan cadel karena gemas tapi cukup sesekali, tidak dijadikan kebiasaan.

Jangan ajarkan dua bahasa sebelum lancar bahasa ibu

Boleh saja mau mengajarkan anak bahasa inggris sejak dini. Tapi pastikan anak sudah paham dan bisa bahasa Indonesia terlebih dahulu. Begitu juga dengan bahasa-bahasa lainnya.

Saya punya cerita juga tentang dua bahasa ini. Jadi mertua saya yang asli orang Jawa Tengah sempat tinggal lama disini dari Mukhlas umur 8 bulan sampai 14 bulan. Mereka senang ngajak anak saya ngobrol termasuk ngajarin kosa kata.

Masalahnya ibu mertua saya nggak fasih bahasa Indonesia. Jadi dia sering ngajarin Mukhlas nama-nama benda dalam bahasa jawa. Saya bukannya nggak suka, tapi saat itu fase dimana anak mulai belajar kosa kata, dan menyambungkannya menjadi dua kata.

Takutnya kalau Mukhlas nanti malah lebih bisa bahasa jawa, sayanya yang nggak paham dia maunya apa karena saya yang asli orang Sumatera ini nggak bisa Bahasa Jawa kecuali “sayang, opo koe krungu jeritne atiku”.

Apalagi mertua cuma tinggal sementara sama kami. Di lingkungan sini juga kebanyakan orang Sumatera. Takutnya kalau Mukhlas malah lebih paham Bahasa Jawa, dia malah susah bersosialisasi di lingkungannya sendiri.


Cara ampuhnya tentu saja saya minta tolong suami untuk bilang ke orangtuanya baik-baik. Tujuannya agar Mukhlas tidak bingung bahasa dan cepat bisa bicara. Nanti kalau sudah lancar bicara boleh kok belajar bahasa lainnya.

Untungnya suami mengerti dan ketika disampaikan ke mertua, mereka juga memaklumi. Sejak itu kalau memang ibu mertua mau ngajarin kosa kata ke Mukhlas tapi nggak tahu Bahasa Indonesianya, beliau akan tanya dulu ke saya atau suami.

Komunikasi adalah koentjinya.

Ajak anak bersosialisasi

Jujur saya merasa Mukhlas makin pintar bicaranya sejak masuk daycare. Sebelum masuk daycare memang dia sudah bisa mengucapkan satu kata, satu kata. Saya sedang di tahap mengajarkannya dua kata yang disambungkan misal “mau makan” “minta minum”. Lama banget seminggu lebih ngajarin belum lancar.

Ketika masuk daycare perkembangannya cepat banget dari dua kata, satu kalimat, sampai bisa bicara panjang dan bisa dipahami orang dewasa. Karena di daycare itu satu tempat dengan PAUD jadi Mukhlas berinteraksi bukan cuma dengan bayi-bayi dan gurunya tapi juga anak-anak yang lebih besar. Sehingga dia bisa cepat menyerap kosa kata dan dilatih dengan interaksi sehari-hari.

Untuk ibu-ibu yang anaknya nggak masuk daycare bisa dengan mengajak anak main di sekitar komplek setiap sore. Biarkan anak main dengan anak lain yang sedikit lebih besar, tentu harus diawasi agar anak tetap menyerap kata-kata yang baik.

Nonton Video

Saya tahu kok anak balita nggak boleh nonton apalagi pakai gadget. Tapi gimana ya zaman sekarang susah untuk membendungnya. Jadi saya berusaha ambil sisi positifnya, tentu anak nonton juga dengan durasi yang dibatasi.

Nggak dipungkiri dari video-video yang dia tonton (saya dan suami yang pilihkan) dia bisa belajar banyak kosa kata baru dan mengucapkan kalimat dengan ekspresif karena mencontoh dari apa yang dia tonton.

Silahkan kalau mau menghakimi, kenyataannya memang saya memang orangtua yang memperkenalkan Youtube kepada anak. Pokoknya ujung-ujungnya harus balik ke nilai-nilai yang dipegang masing-masing orangtua ya.

Pijat bayi

Kalau ini saya dapatkan ilmunya dari terapis di tempat Mukhlas biasa baby spa pijat bayi terutama pada wajah bisa merangsang nafsu makan anak dan menguatkan otot-otot mulut anak untuk kemampuan berbicara. Bisa juga lihat caranya di Youtube ya.
***
Nah itu dia cara-cara efektif yang sudah saya lakukan untuk menstimulasi kemampuan bicara anak. Jangan lupa juga untuk selalu memantau perkembangan anak dengan KPSP yang bisa dipelajari disini.

Kalau sekiranya pertumbuhan anak nggak sesuai dengan anak seumurannya, daripada baper atau jadinya down karena terus membanding-bandingkan dengan anak orang lain, lebih baik segera konsultasi ke dokter anak ya.

Semoga bermanfaat.

  • Share:

You Might Also Like

9 komentar

  1. Anakku no 2 cowok dlu umur 2 tahunan juga belum bisa ngomong dengan lancar mb, padahal ponakanku dah bisa. Was² juga padahal stimulasi juga gak kurang². Eee sekalinya diumur mau 3 thn ini malah nerocos aja ngomongnya, melebihi kakak cewekny🤭

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang penting memang nggak boleh putus asa untuk terus stimulasi mbak ^_^

      Delete
  2. Lucu banget Mbak itu si kecilnya kalau sedang belajar hihi. Pintar banget

    ReplyDelete
  3. Wah ternyata memijat itu juga bisa nih ya Mbak untuk menstimulasi anak agar bisa cepat berbicara

    ReplyDelete
  4. Kalau mau nonton video diambil positifnya saja nih ya Mbak, biar si kecil bisa belajar gitu aja hihi

    ReplyDelete
  5. Huwaaa, anak saya belum bisa ngomong, udah lah mamaknya ajak ngomong dengan benar, kakaknya juga.
    Eh dia cuman tudu didi, ciji, gajelas sama sekali hahaha

    Saya juga lupa, dulu tuh kakaknya bisa ngomong usia berapa ya?
    Saya dulu sering nulis perkembangan kakaknya di notes BB, terus BBnya rusak, habis semua catatannya hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat terus stimulasinya mbak, saya dulu juga ada masa khawatirnya. Kalau sekarang malah saya bilang "mumu cerewet ya kayak mama" hihihi.

      Delete
  6. Anaku ngomong dulu baru jalan sih mba tenryata oke juga anak bisa bicara tuh jadi ga rewel klo mau minta apa2, tfs ya

    ReplyDelete

Jalan-jalan ke rumah caca, mampir sebentar beli kedondong, jangan cuma dibaca, kasih komentar juga dong.