Wanita Cengeng

Thursday, August 3, 2017

Saya mengenalnya sejak dua puluh empat tahun yang lalu, waktu yang lebih dari cukup untuk membenci atau mencinta. Meski dua puluh empat tahun itu kami tidak selalu bersama, tapi dia sudah masuk ke dalam daftar orang yang bisa saya andalkan kapan saja.

Waktu saya kecil nggak banyak ingatan yang menyenangkan tentang dia. Saya seringkali merajuk karena dia nggak membolehkan saya untuk ikut pergi dengannya. Kami sering berantem tanpa ada yang meminta maaf kemudian, namun nggak butuh waktu lama kami saling bertegur sapa kembali.

Dulu saya menganggapnya adalah orang yang kebetulan saja Tuhan berikan ke dalam kehidupan saya. Dia, wanita yang lebih tua dari saya namun terlihat cengeng dimata saya.

Dia adalah kakak perempuan saya, saudara satu-satunya dari rahim ibu yang sama.

Saya dan dia suka banget berantem untuk hal nggak penting, saling mengadu ke mama kalau salah satu dari kami berbuat kesalahan dan tersenyum puas kalau mama marah karenanya. Saya suka memukulnya, dan membuatnya menangis. Kenakalan masa kecil yang saya sesali, saya bukan tipe adik yang baik dan penurut.

Menurut saya, dia adalah wanita cengeng.

Diganggu teman, nangis.

Dimarahin mama, nangis.

Berantem dengan saya, nangis.

Adu argumen sama orangtua, nangis.

Riweh skripsi, nangis.

Sampai di titik, saya menghapus label "cengeng" yang pernah saya berikan.

Tahun 2009, saya waktu itu masih kelas SMA diberitahu bahwa kakak saya hamil. Mungkin saya bukan tipe yang memeluknya untuk turut merasakan kegembiraan bahwa kami akan kedatangan keluarga baru, tapi di dalam hati saya berbunga-bunga. Saya akan punya ponakan.

Beberapa bulan kemudian, saya ingat dia pulang kontrol dari dokter langsung masuk menemui papa di kamar dan menangis tersedu-sadu. Saya yang kepo langsung nguping dan dari situ ada perasaan yang mencelos di hati saya. Calon ponakan saya, meninggal  di dalam janin kakak saya.

Lagi - lagi saya bukan tipe yang bisa langsung memeluk kakak saya untuk membantunya meringankan beban dan kesedihan. Saya hanya bisa berdo'a bahwa ponakan saya bahagia menuju surga, mendo'akan ponakan saya akan membantu orangtuanya di akhirat, mendo'akan kakak saya semoga segera hamil lagi.

Dia bukan lagi wanita yang cengeng.

Saya melihatnya di rumah sakit masih dengan raut sedih namun ikhlas.
Mungkin saja dibalik itu semua dia sudah nangis berember-ember, tapi setiap saya menemuinya dia terlihat baik-baik saja.

Saya tidak tahu detail perjuangan yang dia dan suaminya lakukan untuk punya anak kembali, tapi saya yakin dibalik waktu satu setengah tahun menunggu untuk hamil lagi ada jatuh bangun yang mereka rasakan. 

Semenjak itu saya berusaha mensupportnya dengan cara saya sendiri, saya sangat sayang dan berusaha meluangkan waktu ketika keponakan kedua saya lahir. Mendengarkan cerita suka dukanya menjadi ibu, menemaninya ke mall untuk membunuh jenuh, menjaga anaknya sementara dia melakukan sesuatu yang lain, sebisa saya berusaha untuk menjadi adik dan aunty yang baik. 

Seiring berjalannya waktu, kini kakak saya sudah punya anak kedua dan ketiga. Mereka sehat, lucu, dan pintar. Saya sendiri sudah punya anak, umur empat bulan. Setelah menjadi ibu saya makin terbayang perasaan kakak saya yang sempat kehilangan dan bagaimana dia berusaha tetap "waras" untuk menjalani hidup. 

Wanita cengeng itu kini sudah berubah menjadi wanita tangguh. Meskipun ujian tidak berhenti hanya pada tahap kehilangan, tapi saya tahu dia kini sudah punya kekuatan. 

Selamat ulang tahun, kak Ela. 


-love, your little sissy, Enny-

4 comments:

  1. Wah, ini tipeku juga nggak bisa peluk2 dan sok2 perhatian Mbak. Padahal dalam hati ingin sih, tapi emang bagiku itu hal yg lebay. Diluar semua itu, doa2 terbaik tentunya selalu buat saudara. Tapi, walau nggak begitu, aku sangat kompak dengan kakak2ku

    ReplyDelete
  2. Sayapun cuma bisa mematung waktu lihat kakak perempuan saya nangis.. hatinya memang lembut banget, persis ibu kami..
    Semoga janin yang gugur itu bisa menjadi tabungan untuk orangtuanya kelak di akhirat. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin ya Rabb, iya mba kita percaya pada janji Allah SWT :)

      Delete

Silahkan komentar dengan nada positif, no SARA. Terimakasih ^^

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS