Pregnancy Story : Mual dan Muntah

Tuesday, August 23, 2016


help...


Assalamualaikum.. akhirnya ada lagi mood menulis dikarenakan bulan ini memang sempat sibuk di kantor karena ada acara hari kemerdekaan dan pulang kantor biasanya banyak saya habiskan untuk istirahat. Sama seperti ibu hamil pada umumnya, di trisemester pertama ini pasti akan dilewati dengan fase mual dan muntah karena ada perubahan hormon pada ibu hamil begitu kata dokter ketika saya tanya. 


Awalnya saya kira itu juga bagian dari sugesti, kalau sugesti kita tetap positif dan berusaha nggak akan muntah ya everything is gonna be okay. Saya juga lihat banyak seleb di instagram pas hamil tetap kerja dan tetap syantiiiiek. Saya kan juga mau kayak gitu *kibas-kibas kerudung*

Bulan pertama dan kedua pun saya nggak sering muntah, palingan muntah cuma kalau telat makan. Habis gimana dong semenjak hamil ini saya jadi turun nafsu makannya dan jarang ngerasain "lapar" beda kalau dulu tiap jam bawaannya laper (baca : rakus). 

Memasuki bulan ketiga aduuuuuh rasanya saya kayak orang yang mabuk cinta laut setiap hari, karena hampir setiap hari saya muntah. Padahal saya sudah sebisa mungkin menjaga waktu makan. Saya juga makan yang menurut saya aman-aman saja kayak nasi, buah, susu. Tapi tetap aja kalau malam saya mulai mual, kalau mualnya banyak ya biasanya bersambung dengan muntah. Saya hanya bisa menatap lemas sama makanan yang masih kelihatan bentuknya. Eh beneran lho, kalau saya habis makan nasi muntahnya masih bentuk nasi dan ada ayamnya gitu, apa karena saya makan kurang ngunyah ya? main telen-telen aja. 

Hamil memang banyak mengubah kondisi fisik saya, padahal saya dulu orangnya jarang banget muntah kalau nggak benar-benar sakit. Sekarang lagi asik-asik nonton film, tiba-tiba mual dan muntah. Dulu saya tukang makan, nggak boleh lihat cemilan nganggur ya pasti disikat *maruk*. Sekarang banyak cemilan di rumah yang disiapkan suami kalau-kalau saya lapar tengah malam, saya malah nggak selera kalaupun dimakan pasti nyisa. 
kira-kira beginilah ekspresi saya kalau habis muntah *pic by ibudanmama.com*

Kalau lagi banyak muntah perut saya jadi sakit dan lemas, saya mulai deh merengek-rengek sama suami. Dia hanya bisa menenangkan sambil mijitin saya dan bilang "sabar ya, namanya juga perjuangan seorang ibu".

Hm.. benar juga ya, kadang saya sendiri suka nggak nyangka kalau dalam hitungan bulan ke depan InsyaAllah saya akan jadi seorang ibu. Saya sering membatin "saya bisa nggak ya jadi ibu yang kuat dan ibu yang baik untuk anak saya?" Saya sendiri aja apa-apa masih tergantung suami, dikit-dikit merengek manja sama suami. Kalau saya ingat saya sudah 23 tahun dan masih suka bersikap manja-manja minta dicium digetok saya suka geli sendiri. Ntar kalau sudah ada anak gimana? masak rebutan minta gendong ayahnya? 

Melalui tulisan ini saya pengen belajar untuk bersyukur, saya tuliskan keluhan saya kemudian saya renungkan kembali. Diluar sana banyak pasangan suami istri yang bertahun-tahun menikah namun belum dikarunai anak, ada juga suami istri yang rela menghabiskan biaya ratusan juta untuk program hamil berobat kesana-sini, sedangkan saya Alhamdulillah hamil memasuki bulan ketiga pernikahan. Nah apalah arti lemas mual muntah dan sakit pinggang yang saya alami sementara ini dibanding anugrah besar yang Allah berikan kepada saya?*hiks*

Dear my future daughter or son, 

Maaf ya kalau ibu suka ngeluh, tapi kamu pasti bisa merasakan apa yang ibu rasakan karena kamu menyatu dalam diri ibu. Nah kita belajar kuat sama-sama ya. Sehat-sehat terus nak karena ada banyak orang yang akan menyayangi kamu nanti. Ayah dan Ibu bukan orang yang sempurna, tapi sebagai keluarga kita akan saling melengkapi.

 Love, 
your mom who can't wait to meet you.


 

No comments:

Post a Comment

Silahkan komentar dengan nada positif, no SARA. Terimakasih ^^

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS