Tips Membahas Keuangan dengan Calon Suami/Istri

Thursday, September 7, 2017



Sebenarnya saya pengen nulis ini dari sebelum lahiran tapi ketunda mulu, sekarang mumpung semangat hayolah kita nulis *pasang ikat kepala*



Kenapa membahas keuangan dengan calon pasangan itu sangat penting?


Bapak saya mantan kepala Kantor Urusan Agama (KUA), jadi dari kecil saya terbiasa melihat tamu datang ke rumah kami untuk konsultasi dengan bapak saya baikkarena ingin menikah atau sebaliknya, ingin bercerai.

Mungkin saya nggak tahu detail kasusnya waktu itu *anak kecil nggak boleh ikut campur*, tapi sedikit banyak saya paham bahwa ternyata orang yang sudah menyatu dalam ikatan suci pernikahan juga bisa bubaran alias pisah karena berbagai faktor salah satunya faktor ekonomi.

Selain itu saya ini juga petugas lapas, tempat dimana orang-orang yang melanggar hukum diasingkan dari keluarga dan masyarakat. Nah mereka yang melanggar kasus hukum itu kebanyakan juga faktor ekonomi. Kalau mereka banyak duit pasti nggak bakalan nyuri, nipu, atau jual narkoba. 

Pengecualian untuk koruptor ya, itu mah rakus aja soalnya udah banyak duit masih juga korupsi 😀.

Berangkat dari latar belakang tersebut ketika saya kenal dengan mas Agus dulu, ketika kami sepakat saling mengenal untuk menikah, masalah keuangan ini menjadi bahasan utama.

Baca : Menemukan Teman Hidup

“kalau dikatain cewek matre’ gimana? Belum nikah aja udah bahas duit, kan nggak enak” 
Duh, bodo amat deh dikatain matre’ daripada nanti setelah menikah malah sering berantem gara-gara duit. Serius ya, sudah banyak contoh kasus wanita yang mengira calon suaminya orang kaya ternyata setelah menikah itu semua masih nyicil dan cicilannya ngehabisin semua penghasilan satu bulan. Lah terus mau makan pakai apa coba? Ngutang lagi? Gali lobang tutup lobang terus?



Untuk Pria juga harus lho bahas keuangan dengan calon istri jadi bisa menilai apakah si dia bisa bertanggung jawab mengatur keuangan rumah tangga? Bisa mengira-ngira juga apakah penghasilan bulanan cukup membiayai kebutuhan dan keinginan istri?

Gitu deh ah, panjang banget mukadimahnya yak hihi maapin. Langsung aja nih tips membahas keuangan dengan calon suami/istri :

1




“eh mau nanya deh, itu mobil kamu beli sendiri atau dikasih bapak kamu?" 
“ Itu sepatu, celana, baju, merk apa?”
“ Jam tangan KW apa ori tuh?”
“ Kalau sempak sukanya beli di mall atau di pasar loak?”

Oh no... jangan ujug-ujug langsung tanya begitu yang ada dia ilfeel 🀒. Coba buka dengan obrolan lain yang ringan-ringan kayak kabar keluarganya, kabar kucingnya, kabar tetangganya, basa-basi dulu lah.

Setelahnya baru bilang begini “Maaf sebelumnya ya, kita kan kenal untuk tujuan menikah. Aku pengen bahas keuangan sama kamu. Tahu kan, kalau rumah tangga itu nggak Cuma soal cinta. Banyak contoh yang bubar hanya karena nggak sepaham dalam urusan ekonomi. Jadi lebih baik kita bahas dari sekarang, supaya setelah nikah kita sudah satu visi misi dalam menyelesaikan masalah terkait keuangan”

((Visi misi udah kayak calon bupati aje))

Kalimat itu yang saya pakai ke mas Agus dulu, alhamdulillahnya dia mengerti. Malahan dia bilang makasih saya mau inisiatif duluan ngomongin masalah itu karena kalau dia orangnya nggak enakan.  Nah, kalau sudah diutarakan selanjutnya apa yang harus ditanyakan? Lanjut ke tips berikutnya.


Untuk saya pribadi, karena saya dan suami satu profesi jadi saya sudah tahu besaran penghasilannya tapi untuk kamu yang berbeda profesi wajib tanya berapa sih penghasilan dia perbulan? Kalau dia bukan karyawan yang punya gaji bulanan alias wiraswasta atau freelancer, tanyakan berapa kisaran (dilihat dari bulan-bulan sebelumnya) penghasilan yang diperolah dalam sebulan?

Terus tahu darimana kalau dia jujur tentang penghasilannya? Riset dong ah. *cielah udah kayak ngerjain skripsi aje*. Maksudnya misal dia seorang karyawan perusahaan swasta, bisa tanya teman yang juga kerja disana atau googling. Kalau memang dia pengusaha, usahanya apa? Kamu juga bisa realistislah mengira-mengira besaran penghasilannya. KKalau ada penghasilan tambahan yang mungkin sifatnya persesi bukan bulanan, ini ditanyakan juga ya.



Nah ini penting banget, jangan sampai kita sudah senyum-senyum ketika tahu penghasilan si calon dalam sebulan cukup besar, ternyata punya banyak cicilan yang bikin pingsan pas lihat tagihannya tiap bulan😩. 

Tujuannya setelah tahu besaran cicilan, kita bisa tahu apakah sisanya cukup untuk kebutuhan keluarga selama sebulan.


Selain cicilan, tanggungan juga harus ditanya. Kalau saya dan Mas Agus kami sama-sama anak bungsu, jadi nggak ada tanggungan adik yang perlu dibantu. Orang tua saya masih produktif, orang tua mas Agus sudah tidak produktif. Jadi tentu ada uang bulanan yang akan dikasih ke orang tua.

Kamu bisa tanya ya, apakah dia punya tanggungan yang dibiayai dari hasil kerjanya? Walau punya adik tapi ternyata adiknya sudah mandiri ya berarti si adik bukan termasuk tanggungan. Tapi bisa jadi sepupunya, ponakannya, dll. Pokoknya kamu sebagai calon suami/istri harus tahu dan jangan sampai ketika sudah menikah malah membuat suami/istri harus berhenti membantu anggota keluarganya.


Kalau saya orangnya bisa tahan untuk nggak beli tas, sepatu, baju, atau keperluan wanita lainnya sampai saya benar-benar butuh alias sudah rusak. Jadi jarang banget tuh saya beli tas hanya karena suka warna atau modelnya.

Bisa dibilang saya nggak hobi shopping yang begituan. Tapiiiiiiiiiiiiiii, saya punya kelemahan terhadap makanan atau jajanan πŸ”πŸŸπŸ°. Kalap. Setiap hari saya bisa jajan walau di rumah sudah ada makanan.

Saya bilang hal tersebut ke mas Agus dan dia ternyata malah punya kebiasaan yang sama. Ampun deh, jadi setelah nikah memang problem boros kami adalah makanan. Misal budget makan sebulan yang sewajarnya hanya dua juta, bisa jadi dua kali lipat karena hobi jajan. Sampai sekarang sih kami masih berusaha untuk menahan nafsu makan (?) supaya bisa nabung tapi ya gitu dehπŸ˜….

Setiap orang kebiasaan berbelanjanya bisa beda-beda. Mungkin kamu nggak suka jajan tapi selalu lapar mata kalau ngelihat tas lucu-lucu di etalase toko. Ada juga yang mungkin jarang belanja tapi sekalinya belanja kudu barang bermerk yang satu biji aja sampai puluhan juta.

Jadi khusus kebiasaan berbelanja ini komunikasikan dengan pasangan ya, apakah dua-duanya mau mengurangi kebiasaan tersebut ketika sudah menikah nanti?

\

Contohnya adalah “mau tinggal dimana setelah menikah?” kalau di PIM (Pondok Indah Mertua) berarti nggak perlu bayar uang sewa, mungkin hanya bantu biaya makan dan listrik. Kalau harus ngontrak, mau kontrakan yang bagaimana dan berapa budgetnya. Kalau mau beli rumah, apakah lunas atau KPR?

Detail banget yak? Iyalah Bikin rumah makan aja kudu serius apalagi bangun rumah tangga #eaa

Terus untuk yang perempuan, tanyakan setelah menikah boleh bekerja atau nggak? Kalau nggak boleh, cukupkah penghasilan suami untuk membiayai semua kebutuhan dan keinginan? Apalagi kalau punya anak nanti.

Saya setelah menikah, dua bulan pertama masih tinggal di rumah orang tua. Bulan berikutnya saya pindah ikut suami dan kami dapat rumah dinas. Lumayan nggak bayar uang sewa tapi tetap bayar listrik dan air.

Karena saya tahu hal ini dari awal jadi suka duka selama di rumah dinas sempit ini saya jalanin aja, sembari nabung untuk bikin rumah sendiri *doain yaaaak* πŸ™.


Nggak perlu tahu detail nominalnya, tapi tanyalah apakah punya tabungan? Dan digunakan untuk apa? Apa untuk biaya pernikahan? DP rumah setelah menikah? Honeymoon? DP kendaraan? Tabungan rencana punya anak?

Jangan kayak saya dan mas Agus, tabungan habis untuk acara pernikahan. Jadi setelah menikah kami nggak punya tabungan sama sekali, haha kacau deh 😰.

Semoga tujuh tips di atas membantu bagi kamu yang akan menikah, jangan sampai terbuai cinta jadi mengabaikan kondisi keuangan calon pasangan. Khawatirnya setelah menikah, baru tahu kondisi keuangan pasangan yang buruk dan membuat terjadinya perang dunia lempar piring dan gelas *kan sayang piringnya*.

Dengan mengetahui kondisi keuangan calon pasangan membuat kita bisa membayangkan akan seperti gaya hidup kita nanti setelah menikah dengannya.

Apakah kita siap untuk tidak bergaya mewah seperti ketika masih tinggal dengan orang tua? Apakah kita siap untuk membantu suami mencukupi kebutuhan keluarga? Apakah kita siap menerima keadaan suami kalau suatu hari nanti dia di-PHK? Siap mensupport suami yang penghasilannya nggak tentu setiap bulan? Kalau memang kita nggak siap, nggak ada salahnya jujur dan mundur.  Kejam? Lebih baik blak-blak-an di awal daripada nanti setelah berumah tangga yang ada ribut mulu karena duit.

Saya pribadi karena sudah bicara tentang keuangan dengan mas Agus sebelum menikah, membuat saya bisa cepat beradaptasi ketika ada masalah keuangan di keluarga. Saya berusaha untuk nggak meminta barang-barang di luar kemampuan suami, kalau pun ada tetap saya utarakan ke suami tapi bukan maksa harus ada saat itu juga. Saya juga kerja, jadi bisa usaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan pribadi. 

So, semoga tips ini bisa membantu untuk kalian yang akan segera menikah πŸ’‘. Belum ada jodohnya ? cari woi!! 

eh, tapi saya juga bisa sih jadi mak comblang*.
credit : deviantart-fanda27

*tarifnya pakai dollar πŸ€‘

7 comments:

  1. Belum ada jodohnya mbaaa :D tapi tips kucatet aja deh, siapa tahu besok-besok nemu jodoh πŸ˜‚

    ReplyDelete
  2. Nah masalahnya belum nemu jodonya Mba, kalo ada mah ada pastinya di siapin Allah. Cari woi! πŸ˜‚

    Tapi tipsnya oke Mba, sambil dihayati lho aku bacanya haha

    ReplyDelete
  3. Walau bikin sungkan, menanyakan rencana calon setelah menikah terkait keuangan dapat mengukur visinya sampai mana ya mba... kalau memang Jodoh kita, ya kitanya harus mempersiapkan diri untuk menyesuaikan...

    ReplyDelete
  4. Memang lebih baik jelas diawal sih tapi nggak harus dalam bentuk bertanya biar nggak kelihatan matre walaupun penting banget nih. Ketika ngobrol biasa atau berinteraksi akan ketauan kok kira2nya. Misal dia kantor A, kita bisa kira2 kekuatan ekonominya walaupun tidak persis nominalnya. Susahnya memang betul seperti diatas tsb kalau kerjanya freelance. Ada yg freelance nggak ada kantor atau toko seperti online marketer atau developer tapi bisa punya rumah & mobil. Ada yg kelihatannya hadir terus di acara2 mentereng spt buzzer tp penghasilannya tidak pasti. Kalau sdh akrab dg keluarganya juga bisa kelihatan ketergantungan satu dg lainnya. Seperti waktu aku msh pacaran dulu dg suamiku, krn sdh kenal dg keluarganya, aku tau kalau mau berangkat ngapeli aku, dia dikasih uang saku sama bapaknya wkwkwkk, jadi kusimpulkan dia belum siap menikah krn secara ekonomi dia belum mandiri, harus menunggu bbrp kemudian.

    ReplyDelete
  5. sampai saat menikah pun kalau ngomongin keuangan bisa menjadi hal yang sangat sensitif :D

    ReplyDelete
  6. Suami istri itu memang harus saling terbuka sejak awal
    Biar gak kayak beli kucing dalam karung
    Udah nikah trus nyesel karena gak sesuai ekspektasi
    Tapi jadi cewek juga jangan ketinggian maunya demi gengsi. Makan tuh gengsi hehehehe

    ReplyDelete
  7. Kalau di skak tanya gitu pasti ilfil tuh..haha
    Apalagi sampe tanya-tanya sempak :D

    Tapi ini bermanfaat nih, meskipun belum ada calonnya. Hatur nuhun, Teh..

    ReplyDelete

Silahkan komentar dengan nada positif, no SARA. Terimakasih ^^

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS