Dari Pangan Lokal ke Gambut: Mengapa Keberagaman Hayati Penting bagi Masa Depan Pangan Indonesia
Belum makan namanya kalau belum makan nasi. Sepertinya sebagai orang Indonesia kita sangat familiar dengan kalimat tersebut. Karena memang dari kecil sudah sering dibilang orangtua harus makan nasi. Meski sudah makan roti, atau olahan karbohidrat lainnya, tetap dianggak belum makan kalau belum menyantap nasi.
Padahal, Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat beragam, mulai dari sagu, singkong, ubi, jagung, hingga berbagai jenis umbi-umbian dan tanaman pangan lainnya.
Keberagaman tersebut bukan sekadar warisan kuliner. Di balik setiap bahan pangan lokal, terdapat hubungan erat antara manusia, budaya, keanekaragaman hayati, dan ekosistem yang menopang kehidupan. Salah satu ekosistem penting yang perlu kita jaga dalam membicarakan masa depan pangan Indonesia adalah gambut.
Lalu, apa hubungan antara pilihan makanan di meja makan dengan kelestarian gambut dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla)?
Ketika Pangan Indonesia Semakin Seragam
Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan sumber daya hayati yang luar biasa. Namun, kekayaan tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam pola konsumsi masyarakat. Konsumsi pangan pokok semakin terpusat pada beras dan gandum, sementara berbagai sumber karbohidrat lokal perlahan tersisih.
Minggu lalu saya berkesempatan kembali mengikuti webminar dari Eco Blogger Squad dengan tema "Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Bidodiversitas, dan Pangan" dengan narasumber Yoga Apriliano (Pantau Gambut) dan Ahmad Arif (Jurnalis Kompas).
Pada materi yang disampaikan Ahmad Arif disampaikan bahwa pada tahun 1954, beras menyumbang sekitar 53,5 persen konsumsi pangan pokok, sedangkan singkong dan jagung masih memiliki porsi yang cukup besar. Seiring waktu, konsumsi semakin didominasi beras dan gandum.
Ketergantungan tersebut membuat sistem pangan lebih rentan terhadap perubahan harga global dan gangguan pasokan. Indonesia juga mengimpor gandum dalam jumlah besar, sehingga perubahan kondisi perdagangan internasional dapat berpengaruh terhadap ketersediaan dan harga bahan pangan.
Masalahnya bukan hanya soal ekonomi. Pola makan yang kurang beragam juga berkaitan dengan persoalan gizi. Sehingga masih adanya masalah kekurangan gizi, stunting, obesitas, serta defisiensi mikronutrien di Indonesia.
Padahal, pangan lokal menawarkan beragam pilihan yang dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan budaya masyarakat. Sagu, misalnya, telah lama menjadi sumber pangan penting di sejumlah wilayah Papua dan Maluku. Jagung menjadi bagian dari tradisi pangan masyarakat Nusa Tenggara Timur, sedangkan singkong diolah menjadi berbagai makanan di sejumlah daerah di Jawa.
Pangan lokal tidak selalu harus berasal dari tanaman asli Indonesia. Menurut definisi dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, pangan lokal merupakan makanan dan bahan pangan yang diproduksi dan dikonsumsi sesuai potensi sumber daya, budaya, serta kearifan lokal masyarakat setempat.
Artinya, yang penting bukan semata-mata asal-usul biologis tanaman, melainkan bagaimana pangan tersebut tumbuh, diolah, dikonsumsi, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Pangan Lokal Menyimpan Kekayaan Biodiversitas
Setiap wilayah Indonesia memiliki karakter lingkungan yang berbeda. Kondisi tanah, iklim, ketersediaan air, serta sejarah budaya membentuk sistem pangan yang beragam.
Keberagaman ini disebut sebagai bagian dari keragaman biokultural, yaitu keterkaitan antara keanekaragaman hayati dan kebudayaan manusia. Pengetahuan tentang tanaman pangan, cara bercocok tanam, pengelolaan benih, hingga teknik mengolah makanan diwariskan antargenerasi melalui praktik kehidupan sehari-hari.
Contohnya dapat dilihat pada masyarakat Boti di Pulau Timor. Dengan kondisi lingkungan yang relatif kering dan tanah berkapur, masyarakat setempat mengembangkan sistem pangan yang mengandalkan beragam tanaman, pemanfaatan sumber pangan liar, wanatani atau agroforestri, serta integrasi ternak.
Prinsip menanam beragam tanaman dan mengonsumsi beragam hasilnya membantu menjaga ketersediaan pangan sepanjang musim. Keberagaman benih juga menjadi modal penting untuk menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
Prinsip serupa dapat ditemukan dalam sistem pangan masyarakat Dayak di Kalimantan. Berladang bukan hanya aktivitas menghasilkan makanan, melainkan juga berkaitan dengan identitas budaya, pengetahuan ekologis, serta pengelolaan sumber daya alam.
Keberagaman pangan lokal dengan demikian memiliki dua manfaat sekaligus: menyediakan pilihan makanan yang lebih beragam dan mempertahankan hubungan masyarakat dengan lingkungannya.
Gulai Tepek Ikan Merayakan Pangan Lokal Khas Jambi
Gambut Bukan Lahan Kosong
Hubungan antara pangan dan lingkungan menjadi semakin penting ketika kita membicarakan ekosistem gambut.
Berdasarkan materi presentasi Yoga Apriliano dari Pantau Gambut, Indonesia memiliki sekitar 24,2 juta hektare ekosistem gambut yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Ekosistem ini terbentuk dari akumulasi bahan organik dalam kondisi basah selama waktu yang panjang.
Gambut memiliki peran penting dalam menyimpan karbon dan mengatur tata air. Kemampuannya menyerap serta menyimpan air membantu menjaga keseimbangan hidrologis suatu wilayah. Karena itu, gambut bukan sekadar lahan yang belum dimanfaatkan, melainkan ekosistem dengan fungsi ekologis yang sangat penting.
Sayangnya, gambut dapat mengalami kerusakan ketika dikeringkan atau dialihfungsikan tanpa memperhatikan karakteristik alaminya. Pembuatan kanal secara berlebihan, misalnya, dapat menurunkan muka air dan mengganggu keseimbangan hidrologis gambut.
Ketika gambut mengering, risiko kebakaran meningkat. Api bahkan dapat membara jauh di bawah permukaan tanah dan bertahan dalam waktu lama, sehingga pemadaman menjadi lebih sulit.
Dampaknya tidak berhenti pada hilangnya vegetasi. Kebakaran gambut juga melepaskan karbon ke atmosfer, menghasilkan asap yang mengganggu kesehatan, serta merusak habitat berbagai makhluk hidup.
Materi Pantau Gambut mencatat bahwa sekitar 16,4 juta hektare dari total 24,2 juta hektare Kesatuan Hidrologis Gambut di Indonesia tergolong memiliki kerentanan kebakaran sedang hingga tinggi, berdasarkan data Peatland Fire Alert Tahun 2023.
Angka tersebut menunjukkan betapa pentingnya menjaga kondisi gambut tetap basah dan sehat. El Niño dapat memperburuk kondisi kering, tetapi bukan satu-satunya faktor penyebab karhutla. Kerusakan hidrologi dan aktivitas manusia juga berperan penting dalam meningkatkan risiko kebakaran.
Ketika Kerusakan Lingkungan Mengancam Pangan Lokal
Ketika kebakaran merusak lingkungan atau perubahan penggunaan lahan menghilangkan akses masyarakat terhadap sumber pangan, sistem penghidupan mereka ikut terdampak. Lahan pertanian dapat rusak, sumber pangan liar berkurang, dan masyarakat semakin bergantung pada bahan makanan yang didatangkan dari luar.
Materi Ahmad Arif juga menyoroti dampak pelarangan sistem perladangan terhadap masyarakat Dayak Ngaju setelah kebakaran hutan dan lahan pada 2015. Dalam konteks tersebut, kerusakan sistem pangan lokal tidak hanya berkaitan dengan persoalan produksi, tetapi juga hilangnya keragaman benih, pengetahuan tradisional, dan identitas budaya.
Di sisi lain, pembukaan lahan berskala besar untuk proyek pangan tidak otomatis menjamin keberhasilan produksi.
Hal ini mengingatkan kita bahwa ketahanan pangan tidak cukup diukur dari luas lahan yang dibuka atau jumlah komoditas yang diproduksi. Kita juga perlu mempertimbangkan keberlanjutan ekosistem, akses masyarakat terhadap sumber pangan, dan kesesuaian sistem pertanian dengan kondisi setempat.
Memproduksi pangan dengan mengorbankan lingkungan yang menopang kehidupan justru berisiko menciptakan masalah baru di kemudian hari.
Diversifikasi Pangan sebagai Bagian dari Solusi Iklim
Mengonsumsi pangan lokal bukan berarti harus meninggalkan nasi sepenuhnya. Kita dapat mulai dengan memperluas pilihan makanan, misalnya menyantap singkong, ubi, jagung, sagu, atau bahan pangan lokal lainnya sesuai ketersediaan dan kebiasaan daerah masing-masing.
Diversifikasi juga perlu didukung oleh petani, pemerintah, pelaku usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Petani membutuhkan dukungan untuk mempertahankan varietas lokal, sedangkan pasar dan program penyediaan makanan dapat membantu memperluas penerimaan terhadap pangan lokal.
Upaya ini harus berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem. Gambut yang masih utuh perlu dijaga, sementara gambut terdegradasi membutuhkan pemulihan tata air dan pengelolaan yang sesuai dengan karakteristiknya. Pencegahan karhutla juga perlu dilakukan sebelum kebakaran terjadi, bukan hanya melalui pemadaman setelah api meluas.
Masyarakat lokal perlu dilibatkan karena mereka memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengelola lingkungan. Namun, praktik tradisional juga harus dipahami sesuai konteks ekologis dan aturan yang berlaku. Tidak semua metode dapat diterapkan secara seragam di setiap wilayah.
Pada akhirnya, sistem pangan yang baik harus mampu menyediakan makanan bergizi, bertahan menghadapi krisis, melibatkan kelompok masyarakat secara adil, serta menjaga kelestarian lingkungan.
Menjaga Gambut Bisa Dimulai dari Meja Makan
Pilihan pangan yang lebih beragam dapat membantu mengurangi ketergantungan pada satu atau dua komoditas. Dukungan terhadap pangan lokal juga dapat membuka ruang bagi pengetahuan dan praktik masyarakat yang telah lama beradaptasi dengan lingkungan masing-masing.
Tentu saja, memilih pangan lokal saja tidak otomatis mencegah karhutla. Perlindungan gambut membutuhkan kebijakan yang konsisten, tata kelola lahan yang bertanggung jawab, pencegahan kebakaran, serta keterlibatan masyarakat.
Namun, perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana: mengenali pangan khas daerah, mencoba menu selain nasi, mendukung produsen lokal, dan memahami dari mana makanan kita berasal.
Indonesia memiliki kekayaan hayati dan budaya yang dapat menjadi fondasi kedaulatan pangan. Tantangannya adalah memastikan kekayaan tersebut tidak hilang akibat penyeragaman konsumsi maupun kerusakan lingkungan.
Sebab, menjaga pangan bukan hanya tentang memastikan perut kenyang hari ini. Ini juga tentang menjaga tanah, air, hutan, gambut, dan pengetahuan lokal agar generasi mendatang tetap memiliki pilihan untuk hidup sehat dan mandiri.
Get notifications from this blog











