Pregnancy Story : Drama

Monday, October 17, 2016

Yesterday was full of drama.

source : google images



Entah ini karena faktor sedang hamil atau faktor lainnya saya memang merasa beberapa bulan terakhir ini suka drama dalam menyikapi hal-hal di sekitar saya. Misalnya masalah yang nggak terlalu besar tapi bisa bikin saya nangis bombay. Kangen keluarga bukannya nelpon malah nangis. Hal sepele yang bikin kesal ngomelnya bisa seharian.

Kalau sudah kayak gitu yang jadi imbasnya tentu mas Agus, sang suami. Siapa lagi yang bisa dijadikan tempat pelampiasan kalau bukan dia. Walaupun setelah ngomel-ngomel biasanya saya merasa bersalah dan langsung minta maaf. Labil banget kan? 

Mungkin ini yang dinamakan mood swing ketika hamil.

Selama kehamilan, sangat normal apabila calon ibu mengalami mood swing, emosi dan suasana hati yang naik turun. Ada yang mengalami hal itu masih dalam batas-batas yang ringan dan mudah diatasi, tapi ada juga yang sudah hampir mencapai tahap depresi. Penyebab internalnya adalah perubahan tubuh dan hormonal ibu. -http://www.ayahbunda.co.id-

Saya juga pernah curhat sama sahabat saya yang juga sedang hamil dan cerita kita sama. Kita sama-sama mengakui bahwa sejak hamil entah kenapa mudah mellow dan juga mudah emosi terutama terhadap suami yang sebenarnya nggak salah apa-apa. Entah apa sebabnya rasa khawatir kita terhadap suami dan lingkungan sekitar jadi bertambah besar padahal sebenarnya everything is okay. Saya jadi teringat dulu waktu SMP ada seorang guru yang lagi hamil dan menurut saya beliau jadi mudah maraf dan sensitif sama murid-muridnya. Senyum aja jarang. Tapi begitu beliau selesai cuti melahirkan dan kembali mengajar, beliau menjadi ramah dan mudah senyum sama murid-muridnya dan nggak segalak waktu beliau hamil. 

Hm....kalau gitu ngomel-ngomel sama suami dan nangis nggak jelas masih normal kan? *kemudian digetok manja suami*
source : here

Syukurnya saya punya suami yang sabarnya super sekali melebihi bapak Mario Teguh. Bahkan dia tahu dia nggak salah tapi dia minta maaf agar saya mau berhenti nangis. Dia bilang dia sedih kalau saya juga sedih. Dia mau saya bahagia bersama dia, kalau saya nangis itu artinya saya nggak bahagia. Haduuuh gimana nggak luluh kalau sudah dibilang kayak gitu. Tapi tetap aja kalau hati lagi keras mau dirayu kayak apapun rasanya nggak mempan. Namun mas Agus itu orangnya nggak nyerah, walau saya omelin dia bukannya kesal malah bujuk terus. Meskipun ada masanya dimana mungkin dia nggak tahan sama saya yang kayaknya drama banget ini, dia menunjukkan raut kesal dan saya malah nangis makin kencang. Eh dia langsung ngerasa bersalah dan minta maaf. Intinya kalau sudah keadaan kayak begini, siklusnya seperti ini : Saya kesal-saya nangis-dia tanya kenapa-dia bujuk-dia hibur-saya keras hati-tambah ngomel-dia kesal-saya makin nangis-dia merasa bersalah- dia minta maaf-saya luluh-saya minta maaf.

Drama banget, kan? *fiuuuh

source : here



Meskipun drama ini kadang disebabkan hal sepele tapi ada juga masa dimana disebabkan hal yang cukup serius. Meski saya suka menulis dan bisa menyalurkan perasaan lewat tulisan, tapi kalau lagi "kacau" saya susah untuk bercerita sama siapapun. Biasanya saya menulis pun setelah hati saya kembali tenang agar tulisan saya nggak terkesan blak-blak-an curhat karena biasanya kalau menulis  hati lagi kacau, bisa-bisa kata-kata yang ditulis malah nggak terkontrol dan nggak enak untuk dibaca orang lain. Kalau ada problem yang cukup berat versi saya, biasanya saya banyak menangis terus sambil tiduran ngelihat langit-langit kamar. Nah kalau sudah posisi kayak begitu di kepala saya biasanya banyak suara-suara bercampur. Suara-suara kesedihan dan suara-suara penyemangat. Misalnya kayak di film-film tiap orang lagi mikir atau bimbang biasanya nongol ilustrasi satu malaikat satu iblis dimana satunya ngasih saran untuk solusi yang baik, satunya ngasih solusi yang jahat. Nah persis kayak gitu. 

Waktu single dulu yang saya lakukan ya seperti itu, nangis dan menyendiri. Bukan karena nggak ada sahabat untuk mendengarkan, tapi karena saya butuh waktu untuk menjernihkan pikiran. Nanti setelah mikir-mikir, memilah-milah suara terbaik dari dalam hati dan otak, dan mengadu ke Allah juga,  biasanya saya lelah dan tertidur. Setelah bangun saya merasa lebih segar dan bisa berfikir dengan lebih baik. Saya berdo'a lagi sama Allah agar meringankan masalah saya, memberikan petunjuk agar saya tahu langkah apa yang harus saya lakukan. Barulah setelah hati lebih tenang saya menulis atau curhat dengan orang lain.

Tapi setelah menikah saya nggak bisa seperti itu. Apalagi mas Agus bukan type orang yang suka keluar rumah kalau nggak penting atau ada urusan, maka kami sering menghabiskan waktu berdua di rumah. Jadi setiap saya ada sesuatu yang terlalu dipikirkan dan saya melakukan hal seperti dulu, menangis kemudian memilah-milah suara di dalam hati nah belum selesai mas Agus sudah panik tanya saya kenapa? apa yang ganggu pikiran saya? bujuk-bujuk biar nggak nangis, dll. Haduuuh saya bukannya diam malah tambah mewek. Orang lagi nggak bisa berfikir jernih disuruh cerita. Walaupun begitu, saya tahu niatnya baik. Dia ingin apapun masalah yang ada saya nggak menanggungnya sendirian. 

Akhirnya saya putuskan cerita dulu sama Allah dalam do'a baru setelah agak lega saya cerita sama mas Agus. Ternyata cerita sama orang lain walaupun belum bisa berfikir jernih lumayan bisa bikin lega. Apalagi mas Agus kalau ngasih saran nggak berpihak tapi malah bikin adem kayak "banyak istighfar dan berdo'a dek.. dapat solusi dapat pahala juga" atau "tenang aja, kan ada Allah. Jangan dipikirin sendirian, kita pikirin berdua". Malah setelah dengar nasehat suami saya jadi lebih tenang dan mulai bisa berfikir jernih. Iya yaaa, ngapain merasa kayak paling berat punya masalah. Kalau mau lihat ke bawah, masih banyak yang lebih berat lagi. Harusnya di setiap masalah ada celah untuk kita tetap bersyukur. Well yeaaah, rasanya beban di pundak banyak berkurang. Saya jadi lebih rileks, dan makin rileks karena kakinya dipijitin mas Agus sampai saya tertidur.

Bangun pagi ini saya merasa lebih segar. Malu rasanya kemaren mewek-mewek nggak jelas. Saya juga sudah cari-cari artikel untuk meminimalisir mood swing  semasa hamil. Semoga saya tetap bisa jadi istri dan calon ibu yang sabar. Seperti yang mas Agus bilang kalau saya lagi nggak sabaran dan ngomel-ngomel "duuuh adek ini penyabar banget sih".  Emang sebenarnya sabar kok mas, ini kan cuma karena lagi hamil aja *ngeleees*.

Sebagai penutup ini ada quotes dari saya *ehem*

"Masalah kalau nggak bikin kita mati, berarti bikin kita lebih kuat." -El. 23th, bumil yang sering moody-an-


bumil di kantor sok kalem


No comments:

Post a Comment

Silahkan komentar dengan nada positif, no SARA. Terimakasih ^^

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS