Pregnancy Story : Gatal-gatal pada kulit bumil

Wednesday, August 9, 2017


Semasa kehamilan memang banyak cerita yang akan dikenang salah satunya yang saya alami adalah gatal-gatal di kulit bagian punggung tangan, sedikit di punggung kaki dan perut. Nggak akan terlupa karena ini cukup bikin saya merasa tersiksa dan gelisah nggak bisa tidur karena mikirin hutang bawaannya pengen garuk-garuk melulu karena gatal 😖.




Seingat saya seumur hidup saya jarang banget gatal-gatal di kulit kecuali digigit nyamuk. Itupun kalau digigit nyamuk atau serangga tinggal oles minyak kayu putih doang juga  hilang rasa gatalnya dan beberapa hari kemudian hilang bekasnya. Pernah sih saya kena gatal-gatal di seluruh tubuh muncul bentol merah besar dan biasa disebut kaligato tapi itu sudah lama sekali ketika saya masih SD dan beberapa hari setelah diberi obat dokter alhamdulillah sembuh. 

Nggak nyangka banget  kehamilan pertama saya malah kena gatal-gatal dan bentol di kulit sampai nggak pede rasanya mau keluar rumah. Selain itu rasa gatal dan perihnya benar-benar nggak nyaman, huhu. 

Awalnya cuma ada dua bentol kecil di sela antara jari manis dan kelingking di tangan kiri. Bentol kecil gatal berisi air. Saya pikir ini biasa karena kena sabun cuci piring, kebetulan saya ganti merk sabun cuci piring. Lama-lama gatalnya makin menjadi otomatis saya garuk-garuk dan saya shock besoknya malah menyebar makin banyak di punggung tangan kiri dan juga tangan kanan. Saya coba tetap kalem dan ngolesin bentol-bentolnya pakai zambuk, minyak kayu putih, minyak zaitun, bergantian setiap rasa gatalnya datang. Memang ketika diolesi minyak gatalnya berkurang tapi cuma tahan 30 menitan, selebihnya malah makin gatal dan bikin saya nggak tahan untuk garuk-garuk. Kata orang kalau lagi gatal-gatal gini jangan digaruk nanti makin menyebar. 

"Menurut lo?"

Sumpah gatalnya tuh nggak bisa tahan, berusaha nahan malah badan merinding. Kalau digaruk nikmat banget rasanya, setelah itu nangis karena kulit terkelupas jadi perih.

Suami saya yang kasihan ngelihat kondisi istrinya yang sudah hamil masuk tri semester ketiga, bawa badan aja udah berat eh ini malah ditambah gatal-gatal di tangan yang bikin susah tidur saat malam. Alhasil suami coba beliin salep merk Fungiderm di apotik, karena dikira ini jamur air. Memang seingat kami bentol ini muncul setelah saya cuci piring. 

Hasilnya? sama saja kayak sebelumnya. Gatal-gatalnya cuma hilang sebentar, yang ada bentol-bentol malah bertambah. Bentol-bentol berisi airnya juga pecah dan bikin tangan saya bengkak. Ampun deh, rasanya pengen mewek. Tapi suami dan ibu saya ingatin kalau ibu hamil sedih nanti anaknya juga bisa ikutan sedih *terdengar tangisan dari dalam perut*. 
dari dikit, banyak dan bengkak, sampai proses pemulihan

Nggak tahan lagi kami coba ke bidan terdekat, karena waktu itu hari minggu jadi percuma juga ke RS nggak ada dokternya dan saya tinggal di daerah yang praktek dokter sangat jarang disini. Nah menurut bidan tersebut saya kena scabies. Silahkan googling ya scabies itu apa untuk lebih lengkapnya. Secara ringkas, scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh kutu yang biasanya ada di tempat yang kotor. Atas saran bidan tersebut saya beli obat namanya "Scabimite" di apotik. Saya juga sempat curhat dengan teman saya yang ternyata waktu dia hamil juga pernah mengalami hal serupa dan sembuh juga pakai obat scabimite. Bismillah, saya coba mengoleskan scabimite yang berbentuk salep ini ke area tangan saya yang bentol-bentol. Di kaki juga ada cuma hanya beberapa nggak banyak kayak di punggung tangan kanan dan kiri.



Saya oles terus salepnya setiap merasa gatal, salep ini lebih ampuh dari minyak-minyak yang saya pakai sebelumnya. Salep ini bisa mengurangi rasa gatal sampai 4 jam sekali. Meski harus terbangun di malam hari untuk ngolesin salep, tapi setidaknya saya bisa tidur dengan nggak garuk-garuk. Namun besoknya saya shock banget, bentol bentol di punggung tangan saya makin banyak. Bentol-bentolnya pun pecah dan cairannya bikin tangan saya bengkak. Gatalnya pun masih terasa. Saya merasa ada yang nggak beres. Ternyata setelah saya chat sama teman saya yang pernah pakai obat ini, pemakaiannya cukup dioleskan sekali saja saat sebelum tidur ke seluruh badan bukan hanya bagian yang gatal. 

Haduuuh, entah karena saya yang salah cara pemakaiannya atau memang ini bukan scabies saya bingung dan akhirnya memutuskan untuk ke kabupaten lain yang jaraknya kurang lebih satu jam dari tempat tinggal saya. Cuma disana kabupaten terdekat yang ada dokter spesialis kulit. 

Berbekal nanya orang-orang dan googling sampai juga saya di sebuah klinik perawatan kulit. Orange Clinic namanya. Biasanya sih tempat seperti ini lebih banyak dikunjungi wanita untuk perawatan wajah. Tapi tujuan saya beda, pengen konsul tentang gatal-gatal di tangan saya sama dokter kulitnya yang pas banget lagi ada padahal beliau hanya mengunjungi klinik ini sebulan sekali mengingat beliau ada cabang klinik di daerah-daerah lain.
Nggak perlu ngantri lama karena setiap pasien yang masuk untuk konsul ke ruang dokter tersebut kurang lebih lima menit sudah keluar lagi. Giliran saya masuk langsung deh saya curhat sambil menujukkan kondisi kulit saya. Saya juga cerita awal terjadinya bagaimana dan obat apa saja yang sudah saya pakai. Dokternya nggak pakai alat tertentu, hanya disenter sambil memegang kulit saya dan bertanya "lagi hamil ya?" "iya dok" jawab saya (lagian dokternya nggak bisa lihat apa ini perut udah melendung gede begini). 
"Ini bukan scabies, alergi ini. Lagi hamil apalagi anak pertama memang hormonnya nggak stabil" 

"oooh gitu ya dok, iya sih saya ada makan ikan yang sebelumnya belum pernah saya makan, trus ganti sabun cuci piring juga"

 "nah iya bisa jadi karena itu, ditambah pakai salep sembarangan jadi makin bengkak. Nih dibuatkan obat ya, aman untuk ibu hamil" Beliau lalu menulis resep obat ala tulisan dokter gitu. 

Saya juga sempat tanya apa ini mempengaruhi janin yang saya kandung dan beliau menjawab nggak berpengaruh karena ini hanya penyakit luar. Obat yang beliau berikanpun aman untuk ibu hamil katanya. 

Saya dan suami mengucapkan terimakasih dan bergegas keluar ruangan konsul dokter tersebut. Antara lega karena ini bukan scabies karena kalau scabies bisa menular dan saya nggak mau suami atau tetangga saya tertular. Tapi ragu juga nih dokternya kok sebentar banget meriksanya dan nggak pakai alat apa-apa. Cuma saya berdo'a aja sama Allah toh ke dokter ini bentuk ikhtiar sedangkan sembuh adalah sepenuhnya kuasa Allah. 

ada salep oles dan obat yang harus diminum

Biaya konsul dan obat di orange clinic ini senilai 275.000 dan saya dapat obatnya 2 tube kecil salep berwarna putih yang harus dioleskan setiap pagi dan malam terutama selesai mandi atau boleh dioles berulang kalau terkena air wudhu. Ada juga 15 pil yang harus diminum 2 kali sehari. 
Meski tangan udah nggak karuan bentuknya tapi saya bersyukur ini hanya penyakit yang termasuk ringan dan nggak menular. Suami sayapun rajin mengingatkan untuk minum obat dan bahkan membantu mengoleskan salep. Alhamdulillah berkat izin Allah semakin hari gatal-gatalnya jauh berkurang, tangan yang bengkak mulai reda dan bentol-bentolnya pecah kemudian mengering. Sampai obatnya habis kurang lebih seminggu tangan saya sudah jauh lebih baik.



Lega karena bentol gatal di tangan dan kaki sudah mereda namun ternyata cobaan masih berlanjut.
Setelah bentol-bentol di punggung tangan saya mengering malah bagian perut dan dada saya yang gatal-gatal. Karena di area yang kategori aurat jadi saya nggak bisa pajang fotonya. Kata orang sih biasa dan jangan digaruk agar tidak beberkas. Tapi lagi-lagi di saya ini rasa gatalnya luar biasa, susah tidur bawaannya pengen garuk-garuk terus. Jadilah hampir seluruh permukaan perut saya merah-merah. Nggak tahan lagi sayapun mencoba ke dokter. Ternyata dokter spesialis kulitnya nggak ada di tempat. Just for your information bagi yang tinggal di daerah kab, Tebo dan kab. Bungo, Jambi dokter kulit itu cuma ada satu namanya  dr. Maden Sihombing, Sp. KK.  

Beliau dinas di rumah sakit umum kab.Bungo dan punya klinik kulit dan kecantikan "Orange Klinik" di kab.Bungo dan beberapa kabupaten lainnya di provinsi Jambi. Ternyata beliau hanya bertugas di kab.Bungo saat pertengahan bulan saja. Jadi kalau kita sakitnya bukan di tanggal pertengahan bulan ya nggak akan bisa menemui dokter ini di kab.Bungo, hiks. 

Akhirnya saya mencoba ke dokter umum saja. Lagi-lagi dokternya bilang kalau alergi biasa terjadi pada ibu hamil karena hormon yang tidak stabil. Dengan biaya Rp90.000 saya dikasih obat dan satu tube salep racikan beliau.

Meski obat ini saya peroleh dari dokter tapi was-was juga, mana obatnya cukup banyak. Saya dan suamipun memutuskan untuk meminumnya tiga hari berturut-turut saja. Lebih banyak oleskan salep saja setelah  habis mandi dan sebelum tidur. Alhamdulillah tiga hari kemudian memang gatal-gatalnya mereda, kemerah-merahan di perutpun tinggal bekasnya dan berubah warna kecoklatan. 

Fiuuuh saya bersyukur gatal-gatal di perut ini bisa sembuh lebih cepat daripada gatal-gatal di tangan sebelumnya. Memang sekarang sesekali kambuh namun nggak separah dulu, entah karena saya salah makan atau cuaca yang sekarang sering turun hujan kalau kena angin hujan refleks aja saya garuk garuk di bekas gatal-gatal kemarin. 

So, buat moms di luar sana yang sedang hamil kalau nanti mengalami hal serupa jangan oles-oles minyak dan salep sembarangan kayak saya ya *kuapook*. Lebih baik langsung ke dokter dan katakan bahwa sedang hamil meskipun dari fisik belum tampak (belum melendung banget maksudnya) biar dikasih obat yang aman untuk ibu hamil.

Ternyata drama gatal-gatal saya ini memang karena hormon hamil, setelah melahirkan nggak ada lagi gatal-gatal. Sesekali kambuh tapi kalau muncul bentolnya masih bisa saya tahan untuk nggak garuk sehingga hilang sendiri dalam waktu dua puluh empat jam. Rasa gatalnya beda banget ketika pas hamil, perut gendut dan gatal-gatal bikin saya menggeliat di tempat tidur kayak paus terdampar di tepi pantai megap-megap.

Meskipun begitu saya nggak kapok kok hamil (tapi tidak dalam waktu dekat 😅) karena menjadi ibu itu adalah jalan menuju surga dengan sejuta kebahagiaan yang dirasakan selama di dunia 💕

Baca Juga : Pregnancy Story - Surat Cinta

29 comments:

  1. Wah sampai seperti itu ya mba. Temanku juga ada yang ngalami tapi di beberapa titik juga mba. Syukurlah nggak kambuh lagi ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba berarti memang karena hormon hamil jadi kalau nggak hamil nggak kambuh lagi alhamdulillah ^^

      Delete
  2. Wah ceritanya hampir mirip kayak aku mbak. Cuma aku gatalnya kayak koreng apa sih ya namanya lupa. Jadi waktu itu aku masih ikut mudik ke kalimantan ama suami. Aku priksa ke Dokter umun trus dikasih salep, malah makin jadi trus ngga sembuh sembuh.
    Begitu balik jogja aku nanya sekalian ke Dsa, bilangnya gini "oh, itu hormon, dibiarin aja ngga papa". Eh beneran, setelah memasukin tri semester kedua langsung ilang.
    Ups, maaf kepanjangan, postingannya asik sih hehe. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba nikmatnya menjadi ibu ya dari hamil saja sudah berasa pengorbananya makasih sudah baca mba :)

      Delete
  3. Ya Allah..aq baru lihat yg seperti mba.. sampe gitu ya mba. Syukur Alhamdulillah pulih total. Dimudahkan Allah ya mba, pertama dateng ke klinik itu ndilalah dokternya ada...makasih sharingnya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bener mba, alhamdulillah sekarang sudah mulus walau tetap warnanya sawo matang :P

      Delete
  4. Wah, sampai parah begitu alerginya ya, Mbak. Saya gatal-gatal juga di tangan, tapi tidak parah. Jadi ya saya cuekin. Hehe... Pas hamil besar, mulai gatal-gatal di perut. Kalau kata orang tua, itu karena rambut bayi yang diperut. Gak tau juga bener atau tidak. :D

    Tapi Alhamdulillah ya Mbak, akhirnya ketemu dokter yang cocok...

    ReplyDelete
    Replies
    1. semua karena hormon mba, kalau karena rambut kan bayi masih dibungkus plasenta hihi. betul mba kalau gatel-gatelnya bagusnya dicuekin bukan digaruk nanti makin menjadi.

      Delete
  5. Mak...walau belum hamil (nikah aja belum :D) makasih banget lho infonya. Baru kali ini baca mengenai 'alergi' pada ibu hamil, nambah pengetahuan banget. Dari tadi penasaran mak tinggal dimana, akhirnya disebutkan juga di akhir blog :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah iya mba saya tinggal di daerah makanya dokter spk nggak ada disini kudu ke kabupaten sebelah. makasih sudah baca yaa

      Delete
  6. Salep sembarang kadang juga bisa membikin parah gatal-gatalnya. Makasih infonya ya, Mbak.

    Memang kalau ada apa-apa dg tubuh kita mending konsul dg ahlinya ya. Jadi enggqk keliru dalam menanganinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget mba, jangan sampai deh kayak saya huhu

      Delete
  7. Wah, pasti gatel banget Mbak. AKu pernah juga, tapi sembuh sendiri nggak kuapa2in. Kalau di kaki betuk gatelnya beda. kering2 Mbak, kadang sampai berdarah. KUkasih salep kalo mau tidur. Lmayan agak mendingan

    ReplyDelete
    Replies
    1. baguslah mba kalau nggak diapa-apain saya ga tahan garuk garuk terus maka jadinya begitu huhu

      Delete
  8. Aduduu...koq sampe parah gitu, ya. Apa kata dokter waktu itu? Alhamdulillah setelah 7 bulan kelihatan lumayan bersih, ya. Salam kenal balik dari bunda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alergi karena hormon selama hamil mba, apalagi anak pertama dan anak cowo memang gitu katanya

      Delete
  9. Ya Allah, mba sampai bentol bengkak kayak giduan ya. Kebayang ga nyamannya, klo aku hamil.pertama perut gataaaaaal sampai tersiksa, ngelupas merah gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. huhu iya mba, kalau kata orang palembang-jambi tuh rasanya "ngerenyam" tapi alhamdulillah masa itu sudah berlalu haha

      Delete
  10. Wah, bisa sampe kaya gitu ya mba gatelnya, baru tahu. Kalau dulu aku waktu hamil kaki sakit bergantian jd kalo jalan kaya org pincang hhhh dr TM2-3, tp beres hamil ilang semua. Ujiannya org hamil ada aja ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya malah baik-baik aja kakinya mba selama hamil palingan cuma kram betis. nah itu dia mba, nikmatnya hamil begitu hehe

      Delete
  11. Scabies bukannya yang kutu kucing ya mb, dulu aku sering tu kena pas ada kucing lahiran, etapi ga diolesin zambuk, trnyata bisa juga pake iyu
    Aman kah zambuk buat bumil?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau saya baca scabies itu kayak tungau mba, iya zambuk aman kok untuk bumil cuma di kasus saya kemaren nggak mempan haha

      Delete
  12. untung sudah sembuh ya mbak.. semoga jangan sampai kena alergi itu lagi

    ReplyDelete
  13. Waaa...ternyata biaa gitu ya mbak. Adik saya pernah kena scabies juga mbak.. tapi dia gak lagi hamil, karena dia cowok...hehe. dokternya cuma kasih 1 buah pil dan obat luar buat di semprot. Mahal sih mbak tapi emang Sembuh langsung.


    Btw, saya

    ReplyDelete
  14. Btw, saya pernah ikut seminar ttg alergi pada ibu hamil...bisa jafi juga sepwrtinya ya, karena hormin yg gak stabil, memicu reaksi alergi seperti gatal2 misalnya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. huhu iya mba pasrah aja kalau sudah karena hormon ^^

      Delete
  15. waah sampe sebegitunya ya ibu hamil
    bener bener perjuangan

    gak cuma berat mengandung bayi di perut
    tapi seluruh tubuhnya juga ikutan gak normal
    semoga gak terulang lagi gatel gatelnya ya tante

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo dija, ya ampun kamu masih SD sudah ngeblog? keren. Semoga bisa menulis konten kreatif dan bermanfaat ya nak. makasih sudah baca, iya pengorbanan ibu hamil memang begini makanya selalu hormat dan sayang mama ya :)

      Delete

Silahkan komentar dengan nada positif, no SARA. Terimakasih ^^

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS