Kebahagiaan yang Terus Dipikirkan

By dudukpalingdepan - May 19, 2021




Apa sih artinya kebahagiaan?”

Kalau ditanya seperti itu, kalian jawab apa?

Saya nggak tahu pasti sejak kapan namun memang saya termasuk sering mempertanyakan hal tersebut. Entah itu saat di siang hari ketika lagi di kantor, sore pas lagi nyuci piring, atau ketika masuk waktu bagian overthingking sebelum tidur. 

Apakah Saya Bahagia?


Dari pertanyaan pertama, belum ada jawabannya entah kenapa muncul lagi pertanyaan kedua “apakah saya bahagia?”. Saya terus memikirkan itu sampai saya pikir saya nggak bahagia.

Padahal saya cukup materi. Yah belum bisa dibilang sultan, tapi senggaknya nggak kekurangan soal makan dan tempat tinggal. Soal karir mungkin belum bisa dibilang cemerlang, tapi nggak ada masalah berarti.

Asmara? Saya bahkan lupa kapan terakhir berantem sama suami saking sudah lamanya. Pertemanan? Yah, ada beberapa yang nggak sefrekuensi dan menyebalkan, tapi itu bukan perkaraa yang membuat saya merasa nggak bahagia.

Lantas apa? 

Saya juga masih bertanya. 

Kurang Bersyukur?


Ketika saya mencoba menceritakan apa yang saya rasakan, beberapa jawaban mengatakan bahwa bisa jadi saya kurang bersyukur. Jawaban itu nggak memuaskan, cenderung menyudutkan.

Saya tentu bersyukur dengan apa yang saya miliki. Bukankah bersedekah adalah bentuk syukur paling konkrit? Ditambah menahan diri untuk nggak membandingkan kepunyaan kita dengan orang lain. 

Menghakimi “kurang bersyukur” tanpa ingin memahami apa yang sebetulnya menjadi keresahan saya, membuat saya berpikir mungkin saya bercerita dengan orang yang salah.

Kebahagiaan Harusnya Dirasakan


“Apa sih artinya kebahagiaan buat kamu?” Akhirnya saya menanyakan hal ini kepada seseorang. 

“Sesuatu yang bikin senang”

lagi-lagi bukan jawaban yang memuaskan. 

Kalau pertanyaannya diganti menjadi “momen apa yang membuat kamu bahagia?”

Lalu meluncurlah banyak kejadian menyenangkan yang pernah dia alami. Lalu saya bergumam, bukankah itu hanya sesuatu yang menyenangkan, belum termasuk kebahagiaan?

lalu kami berdebat panjang tentang apa arti kebahagiaan. 

Sampai saya sadar, yang membuat saya merasa sulit bahagia bukan karena saya kekurangan sesuatu tapi karena saya membuat kebahagiaan menjadi sesuatu yang harus dipikirkan bukan sesuatu yang harusnya dirasakan. 

Ketika momen bahagia datang, saya berpikir euforia dan rasa senangnya harus sama. Padahal beda kejadian, ya bisa beda takarannya bahagia. Begitu pula dengan standar bahagia setiap orang yang belum tentu sama antara satu dengan yang lainnya. 

Menemukan Jawaban


Saya baru menuliskan keresahan ini sekarang karena saya baru menemukan jawabannya. Apa yang saya rasakan (sulit bahagia) itu karena saya menjadikan kebahagiaan sesuatu yang harus dipikirkan.

Padahal rasa bahagia itu harusnya dinikmati saja. Nggak perlu mikir bahwa bahagia itu ada rumusnya, jika begini maka aku akan bahagia, jika begitu maka aku nggak bahagia. Nggak gitu. 

Biarkan semua mengalir sesuai momennya. Kalau momen membahagiakan itu datang, nikmati dan abadikan. Jika masa gegap gempitanya sudah habis, maka itu bukan berarti saya nggak bahagia, saya hanya sedang dalam fase biasa-biasa saja. 

Bukankah berada dalam fase biasa-biasa saja juga menyenangkan? Daripada melewati hari dengan ratapan dan tangisan?

Saya juga belajar untuk nggak melawan apa yang saya rasakan, karena dengannya saya jadi bisa menemukan jawaban atas apa yang saya cari.

Termasuk rasa sedih dari orang-orang yang datang dan pergi silih berganti dalam hidup saya. Mereka datang membawa bahagia, ketika mereka pergi maka bahagia itu tetap ada, meski dalam bentuk kenangan. 

Semoga tulisan ini bisa membantu orang-orang yang seperti saya, berpikir bahwa bahagia itu rumit dan sulit untuk dicapai. Kuncinya satu, biarkan perasaan kita mengalir secara spontan, apa adanya, karena bahagia bukan sesuatu yang harus terus dipikirkan, namun dirasakan. 

Love, 
EL. 

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar

Jalan-jalan ke rumah caca, mampir sebentar beli kedondong, jangan cuma dibaca, kasih komentar juga dong.