Tips Meminimalisir Rasa Cemburu Pada Pasangan

By dudukpalingdepan - 11:00:00 PM


Suatu hari ada seorang teman yang bertanya sama saya "Enny pernah ngerasain cemburu nggak ke suami?" Saya sempat berpikir sejenak, lalu saya jawab "Nggak sih, soalnya memang kami nggak LDR dan kami saling terbuka satu sama lain".

Tapi setelah menjawab pertanyaan tersebut saya jadi penasaran dan tanya juga ke suami "Mas pernah cemburu nggak sama aku?" Dia malah ngakak dong. Terus dia jawab "Kayaknya nggak pernah sampai saat ini. Emang  ngapain harus cemburu?"

Nah itu juga yang membuat saya tersadar. Cemburu itu kan ada penyebabnya, kalau nggak ada penyebabnya kenapa harus cemburu?

Mungkin bisa jadi karena dari sebelum menikah saya sudah terbuka untuk bercerita bagaimana karakter saya. Saya termasuk tipe yang kalau berteman, katakanlah teman dekat, itu pasti selalu ada laki-laki dan perempuan. Entah kenapa saya merasa hadirnya laki-laki dalam kelompok pertemanan kami bisa mengimbangi para perempuan yang bawel ini. 

Enaknya kebanyakan sifat umum lakilaki itu lebih sederhana menanggapi sesuatu, nggak ribet. Misal mau makan dimana, perempuan bisa mikir lamaaa banget sedangkan laki-laki tinggal sebutkan satu tempat dia pasti akan bilang "ayok". 

Terus kalau perempuan pada ngerumpi, yang laki-lai bisa ngingatin supaya jangan suka ngomongin orang *ups. Kalau kita ada masalah, cerita dengan teman laki-laki dan perempuan juga bisa mendapatkan dua sudut pandang yang berbeda.

Dari dulu juga saya diajarkan untuk nggak memilih teman berdasarkan agama, ras, suku, dan gender. Selama nyambung ngobrolnya, dan nggak mengajak ke hal-hal negatif, ya ayok aja. 

Untungnya mas Agus memaklumi hal itu. Jadi dia tahu bahwa saya bahkan punya sahabat yang kenal dari SD dan masih berhubungan baik sampai sekarang.

Selain bercerita, saya juga mengenalkan suami kepada sahabat-sahabat saya. Kalau nggak sempat ketemu secara langsung, saya tunjukkan foto atau medsosnya. Bahkan saya cerita kenapa saya suka berteman dengan dia, apa kebaikannya, apa kegilaan kami bersama waktu dulu, dan sebagainya. 

Dengan bercerita sebelum pasangan bertanya, itu membuat perasaan saya dan dia menjadi lebih tenang. Saya nggak suka dicurigai, tapi saya paham bahwa rasa curiga biasanya datang karena ketidak tahuan. Itulah kenapa saya menjelaskan terlebih dahulu.

Nah, seharusnya ini dilakukan oleh kedua belah pihak ya. Tapi untuk hubungan saya dan suami, mas Agus ini nggak punya sahabat perempuan. Gara-garanya waktu sekolah, mas Agus jarang banget hangout sama teman-temannya, alasannya karena uang jajan dulu pas-pasan banget. Jadi nggak bisa buat jalan-jalan di luar sekolah *sad.

Selain itu mas Agus orangnya cuek, dia bahkan pernah disapa beberapa orang di jalan. Dia lupa itu siapa, sampai orang itu yang bilang kalau dia teman masa sekolah. Hadeeeeh, syukur masih ingat sama anak istrinya ya. 

Jadi meskipun latar belakang kami berbeda, saya punya banyak sahabat lak-laki dan perempuan, sedangkan dia nggak, tapi dia nggak mempermasalahkan hal itu. Malahan mas Agus mencoba mengerti bahwa jauh sebelum kenal dia, saya sudah lebih dulu mengenal sahabat-sahabat saya dan dia nggak perlu menyuruh untuk memutuskan persahabatan itu atas dasar cemburu. 

Namun, meskipun saya diberi kepercayaan saya tetap membuat batasan. Batasan ini justru saya sendiri yang bikin, bukan dari suami. 



Mengubah panggilan akrab

Misalnya, dulu saya manggil sahabat-sahabat saya itu sama aja. Bisa "beb" "cin" "say" *ada yang samaan, nggak?".  Semenjak akan menikah tentu saya cuma menggunakan panggilan itu ke sahabat perempuan, kalau laki-laki cukup nama saja.

Nggak nebeng dengan teman laki-laki jika nggak benar-benar perlu

Saya berusaha untuk nggak nebeng kendaraan dengan teman lelaki. Nggak tahu ya kalau memang nantinya akan ada keadaan yang sangat-sangat darurat, dan suami lagi nggak ada di rumah. Tapi selama saya bisa bawa kendaraan sendiri atau naik kendaraan umum, hal tersebut saya hindari. 

Nggak sembarangan curhat dengan lawan jenis

Saya juga membatasi diri untuk nggak curhat soal kehidupan pribadi apalagi kehidupan rumah tangga dengan sahabat-sahabat saya. Saya punya prinsip untuk membagikan yang indah-indah saja, dan menelan yang pahit-pahit demi menjaga harkat martabat pasangan. Hal ini kami sepakati bersama. 

Tapi............itu hanya untuk masalah yang bisa saya handle ya. Kalau masalahnya berat seperti KDRT, tindakan kriminal lainnya. Tentu saya akan speak up dengan orang yang saya betul-betul percaya. 

Cuma kalau cerita sama teman lelaki soal beli makanan enak dimana, atau gimana cara benerin komputer yang tiba-tiba mati, itu sih saya dan suami nggak masalah ya. Karena ada keperluan dan topik tertentu. Saya juga nggak pernah chatting setiap hari sama sahabat perempuan maupun laki-laki, karena memang kesibukan pribadi. 

Tapi pernah ada yang meminta lebih dari itu maka saya harus tegas bilang "Saya nggak mau. Kalau mau temenan ya ngobrol di grup, atau sesekali komentarin story yang saya update, boleh-boleh saja. Tapi kalau minta ngobrol tiap hari. Saya nggak mau, meskipun suami saya nggak tahu".

Nggak menspesialkan ulang tahun teman lelaki

Walaupun statusnya sahabat, saya nggak lagi menspesialkan hari lahirnya. Kalau dulu masih single biasanya saya akan ajak teman-teman lain bikin kejutan dan kasih kado. Kalau setelah nikah ya kebiasaan itu nggak saya lakukan lagi. Cukup ucapan saja, itu pun kalau saya ingat, hehehe. Kecuali kalau memang dia bikin acara khusus dan tentu saja saya ajak suami kesana.

Tapi kalau ada yang update status baru dapat kerja, lulus kuliah, tunangan/menikah, atau pencapaian lainnya biasanya saya ucapin sih.

Nggak sembarangan berteman di media sosial dengan lawan jenis, kecuali ada kepentingan.

Dulu waktu masih single, main medsos asal add/follow aja. Terutama kalau cowoknya bening ya, wkwkwk. Kalau sekarang saya batasi, kalau bukan teman sesama blogger, atau seprofesi, pernah satu komunitas, atau publik figur yang saya suka karyanya, dan yang ada kepentingan lainnya, nggak akan saya follow.

Nggak Menambah Sahabat Lelaki Setelah Menikah

Namanya sahabat, biasanya terbentuk karena sering melakuan aktifitas bersama, kan? Nah sejauh ini sahabat yang saya kenalkan ke suami memang yang saya kenal sejak lama, lebih dulu daripada kenal suami. Ada yang dari zaman sekolah, atau satu komunitas. 

Setelah menikah tentu saya jaga jarak dan merasa nggak perlu menambah sahabat lelaki. Cukup menganggap sebagai teman kerja, rekan sejawat, sebatas itu. Kalau perempuan sih saya berusaha selalu nambah, senang aja bisa dapat teman curhat naiknya harga cabe dan lipstick, hehehe.

***

Selain membatasi diri sendiri, saya juga berkomunikasi dan membuat komitmen dengan suami. Saya nggak perlu bilang dia harus a, b, c, d, e dan begitu juga sebaliknya. Hal yang terpenting kita tahu sifat masing-masing dan tahu mana yang benar dan yang salah.


Soalnya saya nggak suka pasangan yang posesif berlebihan. Misal ngobrol sama kang ojek aja dimarahin. Teman cowok nanya alamat disuruh blok. Nggak boleh jalan lagi sama sahabat meskipun semuanya cewek. Semua yang saya follow di medsos dicek satu-satu, dan disuruh block kalau dia nggak suka padahal itu klien misalnya. Huh, big NO! 



Emang ada yang kayak gitu? Ada kok, hehehe.

Tapi lucunya saya ini dulu justru orangnya posesif, walau nggak separah yang saya umpamakan di atas. Sebelum saya kenal mas Agus, mungkin juga dulu faktor usia, masih abege jiwanya meledak-ledak. Entah kenapa bawaannya curiga mulu sama pasangan. Pantasan saya kalau pacaran nggak ada yang bertahan lama, wkwkwk. 

Nah ketika sama mas Agus malah nggak ada lagi perasaan itu karena dia bisa bikin saya nyaman untuk cerita apa saja dan begitu juga sebaliknya. Sehingga nggak ada yang perlu ditutupi dan dicurigai dari kami masing-masing. 

Kami juga sepakat bahwa janji kesetiaan itu bukan diucapkan satu sama lain, tapi diucapkan pada diri sendiri dan diketahui oleh Allah SWT yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Jadi sekalipun kita punya kesempatan, dan pasangan nggak akan tahu, komitmen itu yang akan menguatkan kita. 


Tentu saja saya nggak bisa menyamakan hubungan saya dengan orang lain. Terkadang saya maklum sama orang yang over protektif sama pasangannya. Karena ternyata ada trauma masa lalu yang cukup besar. Misal pernah ditinggalin, diselingkuhin, dikhianatin. Jadi rasa was-was itu masih ada. Asal jangan sampai menyiksa fisik dan psikis pasangannya saja. 

Terlebih lagi untuk tahu betul karakter pasangan. Misalnya saya tahu suami saya memang tipe yang santuy, tapi saya juga berusaha untuk tidak merusak kepercayaannya. Tapi kalau ada  yang punya pasangan pencemburu, ketahui hal-hal apa yang nggak dia sukai, selama masih tahap wajar, nggak ada salahnya untuk dituruti. Menjaga perasaan satu sama lain juga bagian dari merawat hubungan, kan. 

Nah itu dia cerita saya tentang meminimalisir rasa cemburu pada pasangan, terutama pada teman/sahabat lelaki. Kalau teman-teman pernah punya cerita soal pasangan yang cemburu sama sahabat kalian, nggak? Cerita di kolom komentar, ya.

Nb : ilustrasi hijaber saya pesan dari seorang ilustrator komik di Ig @storybilla



  • Share:

You Might Also Like

20 komentar

  1. wah... tp yang jelas harus menjaga diri dengan teman laki2, jangan curhat masalah pribadi, apalagi maslah rumah tangga... bisa berabe.... hehe

    ReplyDelete
  2. Wah terimakasih informasi dan tipsnya, Mbak. Nanti saya coba praktikkan heheh.

    ReplyDelete
  3. Iya Mbak saya juga gak suka sama pasangan yang posesifnya berlebihan.

    ReplyDelete
  4. Sama loh Mbak saya juga orangnya posesif tapi kalau balik diposesifin suka marah heheh.

    ReplyDelete
  5. Saling terbuka terhadap pasangan itu memang penting untuk menimbulkan rasa saling percaya.

    ReplyDelete
  6. Terkadang bagi sebagian perempuan curhat terhadap lelaki itu ada rasa aman tersendiri, asalkan belum memiliki suami pastinya heheh.

    ReplyDelete
  7. Ternyata rasa cemburupun bisa diminimalisir ya , Mbak hehe.

    ReplyDelete
  8. Tetapi kalau pasangan sudah tidak ada rasa cemburuya malah yang bikin khawatir heheh.

    ReplyDelete
  9. kalau udah menikah bukann berarti harus menjauhi pergaulan atau hubungan pertemanan. hanya saja harus ada batasan- batasan wajar dalam hubungann pertemanan. wajar juga sih kalau suami atau istri khawatir jika pasangannya bersama dengan orang lain apalagi lawan jenis. itu tandanya sangat cinta kali ya mbak. hehehe

    ReplyDelete
  10. Terima kasiiiiih udah mau menyuarakan pikiran laki-laki, ya, walo tujuannya bukan gitu. tapi ya memang poin2 itu yang sangat bisa membuat kaum kami bersikap curiga. walo saya belom menikah, tapi rencana itu udah beneran ada, udah saling mengnalkan orang tua secara langsung pula walo jarak tinggal sangat jauh.

    tapi, kedekatan dia dgn laki2 lainnya itu malah membuat kecurigaan, panggilan say beb atau apalah itu sebenarnya gak ngaruh sih, kami selow dgn itu. punya sahabat lawan jenis dan dia jadi perempuan satu2nya di geng tersebut gak masalah. asla kasitau aja perginya kan.

    (sesi curcol tidak islami dimulai)
    bukannya amlah pergi berdua ama lawan jenis yg baru dikenalnya, ketika ditelepon sedikit kedengeran teman lelakinya itu ngajak nonton, tapi dia bilang cuma minta file vidio, taunya beneran nonton ampe tengah malem. belom lagi tanggepannya terhadap lawan jenis lainnya di chat yang dengan alasan "gak mau dibilang sombong", makanya dia tanggepin dah semua pendekatan lelaki. eh, saya dibilangnya posesif. singkat saja, beberapa minggu kemudian, semua lelaki yang ngchat itu nembak dong. semua. karena mereka merasa disambut. lalu bingung sendiri, entah karena emang dia suka dituanpurikan ama banyak orang kali ya, gak cukup satu, dia gak mau nerima juga, tapi gak mau nolak juga, entar pada menjauh. ok. ya, akhirnya selesai sudahlah, mendadak amles saya ngingetnya...

    ReplyDelete
  11. wah bisa jadi referensi nich buat meredam cemburu para suami

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah nggak ada masalah cemburu meski saya dan suami LDM cukup lama. Karena kami saling percaya, dan karakter kami mirip. Untuk pertemanan dengan lawan jenis, kalau suami hanya urusan kantor atau teman-teman sekolah dulu. Sedangkan saya sejak menikah dan menjadi ibu rumah tangga, teman lawan jenis sangat terbatas.

    ReplyDelete
  13. Saya setuju dengan tips-tips diatas.
    Semua berawal dari sering curhat ke lawan jenis, lambat laun ada rasa ketertarikan. Akhirnya jatuh cinta deh.

    ReplyDelete
  14. Pas baca artikel ini, suami lagi ada di samping. Saya pun iseng nanya juga, pernah cemburu ngga? Dia bilang pernah, tapi ngga mau ngasih tahu kapan. Ih,, jadi penasaran deh.

    Tapi saya memang hampir ngga punya sahabat cowo, paling teman doang. Ngobrol pas lagi ada perlunya aja. Hmm, apa jangan-jangan ada isi chat yang belum saya hapus ya,,, tapi kayanya biasa aja deh. Duh, malah jadi kepikiran dan curhat di sini.

    ReplyDelete
  15. Yang terakhir tuh mbak.... Menurutku paling penting. dulu waktu masih single teman-teman laki-laki saya banyak sekali. Sekarang setelah menikah, saya males banget kenalan sama orang baru. Suami juga tahu, kalau saya akrab sama teman lelaki yang udah jadi sahabat lama. Jadi nggak ada cemburuan2 lagi....

    ReplyDelete
  16. Yang jelas menurutku kita dan pasangan sama2 harus berkomitmen untuk saling percaya n menjaga. Dan sekali lagi komunikasi penting bgt. Kalau lancar, InshaAllah akan baik2 saja hehe

    ReplyDelete
  17. Kalau saya tips paling jitu agar suami tak cemburu ya kerja bareng atau minta diantar ke tempat kerja. Jadi dia kenal semua teman laki-laki saya termasuk keluarga/pasangan teman. Suami perlu mengetahui juga bagaimana kondisi, kebiasaan dan cara pergaulan di lingkup tempat kerja. Alhamdulillah bisa mengerti.

    ReplyDelete
  18. Temen-temen deket saya semuanya cewek mbak, wkwkwk

    Tapi saya bilang sejak awal, kalo saya udah menganggap mereka saudara. Dan dia saya kenalin ke semua temen cewek saya.

    ReplyDelete
  19. wah dari awal apcaran aku mah hrs bisa atasi cemburu soalnay suamiku itu tipe banyak penggemar ceweknya, bahkan samapi sekarang. padahal suamiku mah gak pernah etbar pesona . untungnya aku melihat suamiku selalu ada untukku, yang lain terpental

    ReplyDelete
  20. betul3...Harus saling percaya ya kuncinya hehe

    ReplyDelete

Jalan-jalan ke rumah caca, mampir sebentar beli kedondong, jangan cuma dibaca, kasih komentar juga dong.