Cerita Duka Suka Liburan ke Padang

By dudukpalingdepan - 6:50:00 PM


Kenapa judulnya "duka suka?" bukan "suka duka?" karena memang saya melalui dukanya dulu baru ketemu sukanya. Siapin cemilan kalau mau baca ya, sambil makan mie kuah dengan irisan daun bawang dan cabe rawit serta telor setengah mateng di atasnya juga boleh. 

Berawal dari anak saya yang kepengen banget naik bus. Mungkin gara-gara Mukhlas sering lihat video klip lagu Wheels On the Bus dan nonton Tayo. Setiap di jalan raya kalau lihat bus dia pasti teriak kegirangan sambil bilang "Mau naik bus, Ma. Ayok ma." 

Sayangnya di daerah tempat tinggal saya, bus itu transportasi antar kota bukan dalam kota. Jadi pas banget ada rencana liburan ke Padang, saya dan suami memutuskan kita akan naik bus untuk menyenangkan bocah cilik kesayangan kami. 

Namun karena disini nggak ada loket resmi, kami pesan tiket di kabupaten sebelah persis lima hari sebelum berangkat. Ketika dikonfirmasi sehari sebelum berangkat malah busnya penuh. Nyesek banget.

Kita coba telpon ke loket lain ternyata penuh juga. Mungkin karena masih suasana libur sekolah jadi bus pada penuh. Padahal berangkatnya besok lho. Akhirnya suami coba nyamperin ke Rumah Makan disini yang biasanya bus-bus mampir makan disana. Siapa tahu bisa pesan disitu. 

Eh disana ketemu seorang bapak yang bilang bisa nyariin kita bus karena memang dia biasa nyariin penumpang. Senang dong kita, dan langsung pesan untuk dua orang untuk berangkat besok malam. 

Tapi ternyata besok pagi pas suami konfirmasi lagi dia bilang nggak bisa nyariin kalau nggak ngasih DP. Ealah pak, kenapa nggak bilang dari kemarin? padahal pas ketemu langsung kemarin dia nggak ngomong minta DP dulu. Daripada nggak jadi, suami saya kesana lagi untuk kasih uang muka. 

Secara berkala suami saya telponin terus tuh bapak nanyain dapat nggak busnya? kalau memang nggak, kami mau cari alternatif lain dengan naik mobil travel. Tapi bapaknya bilang "ada kok, tengah malam. Tunggu aja, nanti dikabarin". Selalu nggak jelas apa busnya, jam berapa pastinya. 

Saya sendiri sudah gelisah dan mulai kesal. Kebayang sudah semangat ingin liburan, koper dan tas sudah rapi saya siapkan. Kalau sampai nggak jadi berangkat kan dongkol. Saya tunggu-tunggu sampai tengah malam belum ada kabar. 

Sekitar jam 00.30 WIB, bapak itu ngabarin kami agar segera ke depan Rumah Makan itu karena busnya sebentar lagi akan datang. Saya awalnya kesal jadi senang lagi. Mukhlas aja belum tidur juga karena dia juga excited  mau naik bus. 

Namun lagi-lagi saya cukup dibikin kesal, karena bus yang katanya akan datang "sebentar lagi" nyatanya datang jam 02.00 WIB. Gila nggak sih, kami nunggu di pinggir jalan selama 1,5 jam. Belum berangkat sudah keburu masuk angin. 



Apakah dukanya cukup sampai disitu? oh belum, Esmeralda. 

Ketika naik bus, kami diminta duduk paling belakang. Bukan di kursi bus penumpang, tapi semacam bangku kecil di bawah, di dekat toilet. Kaget dong kami. Suami tanya kenapa, dan sampai kapan duduk disini? supirnya jawab cuma satu jam lagi karena di kabupaten depan akan ada yang turun. 

Ya ampuuun, kebayang nggak sih bawa anak kecil duduk di bangku bawah pojokan paling belakang. Nggak lama kemudian ada seorang penumpang bapak-bapak yang berdiri dan nyuruh saya duduk di kursinya. Duh, masih ada orang baik ternyata. Jadi saya dan Mukhlas bisa duduk di kursi. 

Sedangkan suami saya tetap duduk di bangku kecil di belakang, persis depan pintu toilet. Baru jalan sebentar suami saya sudah pusing dan mual karena toiletnya bau pesing. Ampun deh, saya kasian banget lihatnya. Kami merasa dibohongi sama si bapak calo tiket itu. Kalau memang keadaannya begini tentu kami lebih baik naik mobil travel biasa. Biar deh nggak jadi naik bus. 

Satu jam kemudian baru ada dua penumpang turun, jadi suami dan bapak yang minjemin kursinya tadi sudah bisa duduk dengan layak. Suami saya akhirnya muntah juga setelah sejam menahan mual. 

Masih belum selesai, buibuk dan pak bapak. 

Tujuan kami kan ke kota Padang, ternyata busnya melalui jalur ke kabupaten Bukit Tinggi dulu yang mana itu berarti jalannya mutar dan lebih jauh. Itupun kami tahunya dari salah satu penumpang yang ngobrol dengan penumpang lainnya kalau dia akan turun di simpang Solok dan nyambung naik mobil kecil daripada ikut bus ini yang melalui jalur memutar. 

Saya langsung nyenggol suami untuk ikut nguping pembicaraan penumpang itu. Suami bergegas nanyain ke sopirnya dan ternyata memang benar. Akhirnya kami ikutan turun bersama penumpang tadi. Lagi-lagi bikin nyesek, karena bapak calo tiket itu nggak ngasih tahu kami tentang ini. 


Bayangin aja badan kucel selama perjalanan, gendong anak kecil, sambil nenteng tas dan suami bawa koper kami jalan beberapa puluh meter mencari mobil untuk lanjut ke kota Padang. Adanya semacam angkutan umum tanpa ada AC. Mukhlas yang awalnya anteng jadi rewel karena gerah. Mood kami jadi nggak karuan rasanya, padahal niatnya mau senang-senang liburan. 

Setelah satu jam perjalanan dari simpang Solok tadi, sampai juga kami di kota Padang sekitar pukul 10.00 WIB. Ah lega rasanya, walau badan sudah bau keringat. Segera saya pesan Gocar untuk menuju hotel. Enaknya di kota Padang ini, sudah ada Gojek. Jadi mau kemana-mana gampang. 

Sesampainya di hotel, ternyata kami nggak bisa langsung masuk karena kamarnya penuh. Hiks, padahal badan rasanya remuk pengen istirahat. Kami harus nunggu sampai jam 2 baru bisa check in. Ya sudahlah, akhirnya saya menumpang ke toilet hotel untuk cuci muka dan bersih-bersih badan sedikit. 

Daripada menunggu di lobby hotel, saya ajak suami cari makan lalu kami ke Masjid Raya Sumatera Barat. 

Nah disini barulah duka berganti suka, pemirsa.


Masjidnya berbeda dari masjid pada umumnya karena berbentuk seperti rumah adat masyarakat Sumatera Barat yang disebut rumah Gadang. Setelah saya browsing, ternyata desain ini merupakan karya dari arsitek Rizal Muslimin, pemenang sayembara desain masjid raya yang diadakan pemprov setempat pada tahun 2007. 

Banyak banget orang yang kesini selain untuk sholat tentunya untuk foto-foto karena setiap sudut memang instagramable banget. Mau foto di depan atau di samping masjid sama bagusnya. Kalau di dalam juga bagus karena akan terlihat pemandangan kota Padang dari atas. 


pemandangan dari atas

Mengutip dari Wikipedia, saya tahu kalau pembangunan masjid megah ini sudah sejak tahun 2007 dimulai dengan peletakan batu pertama. Namun mengingat biaya pembangunan yang besar yaitu senilai total Rp325-330 miliar maka pembangunan dilakukan secara bertahap. Bahkan masjid baru bisa digunakan pada tahun 2012. 

Saya sendiri merasakan suasana yang sejuk ketika masuk ke dalam masjid ini khususnya area sholat di lantai dua. Meski nggak pakai AC, dan hanya ada beberapa kipas suasana terasa adem karena memang angin bisa masuk dari pintu-pintu, dan celah ukiran dinding. 


Ada kolam ikannya juga

Meski di dalam masjid nggak boleh dipakai untuk tidur, tapi di area pelatarannya diperbolehkan mengingat banyaknya pendatang dari jauh yang kelelahan. Tapi tetap perhatikan sopan dan santun karena memang ini tempat ibadah. 

Mukhlas aja ketiduran cukup lama karena anginnya memang sepoi-sepoi banget. Tapi saya sih nggak mau tidur dan sibuk ambil foto, hihihi. 

Ketika masuk waktu sholat Dzuhur, ramai banget yang sholat. Berasa Tarawih di bulan Ramadhan. Lalu setelah Adzan namun sebelum sholat, ada ceramah agama juga, dengan durasi sekitar 5-7 menit. Lagi-lagi meskipun di dalam masjid ramai orang sholat, namun tetap terasa sejuk. 




Oh ya, satu hal lagi yang unik menurut saya disini ada semacam security laki-laki dan perempuan. Mereka mengawasi keadaan sekitar, mengingatkan jika ada perempuan dan laki-laki yang sekalipun suami istri namun terlalu "mesra" di depan umum. Juga mengingatkan jika ada yang tidur di dalam masjid. Mereka juga menjaga selama sholat berjamaah. Jadi jamaah merasa aman dan nggak takut ada barang hilang selama sholat.

Senang banget bisa dikasih kesempatan kesini. Bisa berwisata sekaligus beribadah. Dibangunnya Masjid Raya Sumatera Barat ini menurut saya adalah langkah yang tepat dari pemerintah provinsi Sumbar karena bisa meningkatkan daya tarik wisata religi dari seluruh masyarakat Indonesia yang berkunjung ke Padang.

Pokoknya kalau kalian ke Padang, harus banget datang kesini ya. Alamatnya ada di Jalan Khatib Sulaiman, Kec.Padang Utara, Kota Padang. Tinggal pesan Gocar aja beres. 


Setelah sholat di masjid ini, rasanya lelah dan dongkol perjalanan tadi menghilang berganti rasa senang dan syukur. 

Pulang dari Masjid kami makan ke Mcdonal's. Jauh-jauh kok makannya Mcd? Karena saya penasaran soalnya di tempat saya nggak ada, hihihi. Ternyata saya nggak suka baik burger atau ayamnya. Lebih enakan KFC menurut saya. Balik-balik soal selera kali ya, jangan hujat saya ya kalau ada pecinta Mcdonal's disini.

Selesai makan kami langsung ke hotel lagi untuk check in dan tentu saja mau mandi karena sudah gerah dari tadi. Sehabis mandi saya juga mau nonton Spiderman : Far From Home. Aaaak saya senang banget. 


Saya dan suami sudah janjian kalau kami akan nonton film Spiderman ini secara bergantian, dan bergantian pula menjaga anak. Kenapa? karena kalau Mukhlas dibawa ke bioskop takutnya akan menganggu penonton lain, dan filmnya juga belum pantas untuk ditonton balita. 

Dulu sih bisa bawa anak ke bioskop karena masih menyusui. Cukup disusui sebentar maka Mukhlas akan ketiduran sepanjang film. Tapi karena sekarang sudah disapih jadi nggak bisa lagi. 

Senang banget bisa nonton Spiderman Far From Home. Rasanya film ini adalah paket lengkap. Ada dramanya, actionnya, romance-nya, dan bercerita tentang persahabatan, kepercayaan, kekuatan, dan cinta. Awww sepanjang film saya dibuat ketawa, senyum-senyum, terenyuh, geregetan, tepuk tangan kegirangan. Skornya 10/10 deh.



Jadi liburan kali ini saya dan suami dapat "family time" sekaligus "me time". Bahagia rasanya.

Sekian cerita duka suka liburan ke Padang. Tempat-tempat lain yang dikunjungi juga nggak kalah seru dan menyenangkan, tapi ditulis di postingan terpisah ya soalnya kalau disini bisa jadi novel, wkwkw. 

Ada yang pernah ke kota Padang juga? atau ada cerita duka suka selama liburan? sharing di kolom komentar, ya.

  • Share:

You Might Also Like

28 komentar

  1. Wah bundaaaaaa aku kok jadinya ikut kesel pas baca dukanya. Gemes aku dan orang kayak bapk calo gitu banyak. Untuk ada sukanya juga ya perjalanannya. Klo gak nyeseknya double ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bun, nikmati sajalah mungkin ini seninya traveling :D

      Delete
  2. Masya Allah mbak perjuanganmu untuk sampai ke Padang sungguh luar biasa. Tapi lunas terbayar tunai, liat foto-foto masjidnya keren banget. Saya blm pernah ke Padang, semoga suatu saat.

    ReplyDelete
  3. Ikutan gregetan deh sama bapak calo, tapi alhamdulillah ya ada masjid, kece banget lagi. Emang bener nasihat ortu, kalo bepergian carilah masjid, maka lelahmu hilang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, suasananya adem arsitekturnya bagus jadi capek hilang.

      Delete
  4. Tampilan mesjid rayanya ituuu keren banget mbak.. mantappp

    ReplyDelete
  5. WHAT??

    Sekarang masih di Padang atau udah balik mbak?
    Aduh tau gitu kan bisa email / DM instagram aku biar kita kopi daraattt

    P.S.
    ke Pantai padang sudah Mbak?
    Pantai Muaro Lasak?
    Gunung Padang?
    Moolll???

    Ditunggu cerita seru lainnya selam adi Padang yaaa

    XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. sudah balik, huhu. Belum move on nih dari Padang. Wah iya kita belum temenan di ig kayaknya ya? Kalau ke pantai dan mall sudah. Tapi kalau ke gunung nggak, karena bawa bocil hehe.

      Delete
  6. Jalan Jalan nie yeeee... :)

    Kalau saya tahu dindo mau naik BUS, kando pasti kasih Warning, sebab kando banyak pengalaman naik BUS. beberapanya yg dialami dindo.DUDUK PAKAI BANGKU TEMPEL.

    eeee....seharusnyo dindo duduk dipaling depan loh, karena blognya kan namanya " Duduk Paling Depan ".

    Naik Bus yang bukan naik dari LOKET, resikonya yah begitu , bahkan lebih dari itu, yakni ngatek asuransinyo, betegak sampe tujuan, dll :)

    Calo itu dak mikirn kito nyaman apo idak di dalam mobil, yg penting mereka tu dapat duit, :) cubo jangan pakai calo Stop'in bae di dekat rumah makan tu, lalu cek dulu ado kursi apo idak, kalau ngatek dak usah naik, hargo ongkosnyo juga mahal kalau pakai calo.Yo,kan...?

    Untuk ibu2 yg membawa anak, naik bus nyetop dewek atau pakai calo, dak cocok , resikonyo yah itu tadi, bakal dapat bangku tempel, itupun kalau ado, kalau ngatek,,,tepakso betegak bejam-jam sambil meringis. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyo nih gara-gara belum pengalaman, tapi sekarang kan jadi pengalaman berharga nian. Itulah waktu itu be dalam hati ngomong "dak tau bapak ni, kalau sayo ni blogger duduk paling depan, masak dikasih bangku paling belakang" wkwkw.

      Delete
  7. Terkadang liburan memang begitu, Mba. Penuh suka dan duka. Semoga tetap bisa menikmatinya, ya. Salam hangat.

    ReplyDelete
  8. Duh kasiannya Mukhlas, btw tadi mau nanya, mengapa kok duka dulu, ternyata emang ceritanya duka duluan ya hahaha.

    Kebayang banget bagaimana kesal, gerah dan bete nya itu ya.
    Duduk di belakang, aja udah goncang banget, eh ketambahan dekat toilet pula.

    Tuh bapak calo kebangetan juga cari duitnya.
    Sebel juga saya bayanginnya.

    Tapi Alhamdulillah sukanya lebih asyik ya, kebayang banget tuh bagaimana sejuknya di masjid semegah itu.
    Dari dulu, kami kalau ke mana-mana, terus mampir sholat, bahkan di masjid kecil aja udah merasa adem, apalagi mampir masjid yang megah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, semoga jadi hikmah deh bagi pembaca jangan pakai calo kek saya huhuhu.

      Delete
  9. Nggak kebayang pusingnya duduk di bawah dalam keadaan mobil bus yang pasti supirnya juga nggak santai saat menyetirnya~ pasti kesal sekali ya mba. Tapi syukurnya dukanya nggak bertahan terlalu lama dan semoga nggak ada duka lagi sampai liburan berakhir dengan sempurna hehe. By the way ayam KFC memang lebih enak dari Mcd (menurut saya juga) :D

    ReplyDelete
  10. Kalau beli tiket lewat calo emang banyak yg nggak beresnya gitu ya mbak, mau komplain juga ga bisa, nyeseknya maksimal, apalagi duduknya di belakang deket toilet OMG, kalau aku udah pusing + mual itu hehehe

    ReplyDelete
  11. ngeselin banget yaaa itu bapak calo, saya bacanya ikutan gondok juga. haha..
    untung ada bapak baik hati yang mau ngasih tempat duduk..

    btw, aku penyuka mcd loh.. tapi tenang-tenang gak akan aku hujat.. ehehehe..

    ReplyDelete
  12. masjidnya luar biasaaaaa, keren banget !! belum pernah ke padang dan masjid ini jadi banyak alasan deh buat pergi kesana tapi tiket pesawat ke padang dr jakarta lagi mahal banget, hahaha

    btw mbak aq gak terlalu suka kfc dan mcd, aq lebih suka doner kebab. apalagi pas hamil ini gak pengen sama sekali makan kedua junkfood itu, padahal diskonnya gede2an dari dana dan ovo. aq baru tahu kalau di jambi gak ada mcd, nggak ngeh kali yah padahal sudah beberapa kali ke jambi, yang aq tahu justru di pekanbaru gak ada mcd krn pernah ada dan bikin rusuh dengan drive thru-nya jadi di tutup, tapi mungkin sekarang sudah ada kembali

    ReplyDelete
  13. Duh, kang supirnya ato calo tiket itu bikin sebel, geregetan, pengen cakar ya mbk. Saya jadi ikut esmosi...😠
    Sabar...
    Untungnya setelah itu dapat sukanya ya mbk, bisa mampir ke masjid yang luarbiasa megah dan no ton spiderman, saya juga suka spiderman lho😊

    ReplyDelete
  14. Baca dukanya itu lo, kok kasihan banget. Kalau saya sudah mutung di tengah jalan tu. kalau perlu saya caci maki itu calo :)
    Tapi tak apalah ya, buat pengalaman. Biar tampak lebih seru juga.

    ReplyDelete
  15. Woa mba perjuangan sekali ya aku ikutan gemes deh huhu tapi Alhamdulillah terbayar ya semuanya, aku juga pengen ke Padang secara di rumah ngontrakin rm padang jadi pengen makan rendang asli sana

    ReplyDelete
  16. ini si calo udah pernah ngadepin netijen belum ya. Dirimu sampai duduk di belakang coba.
    Alhamdulillahnya cerita ini berakhir bahagia. Saya juga suka desain masjidnya mba dan salut cara menikmati film dengan gantian jaga anak hehehe

    ReplyDelete
  17. duuuh ga kebayang itu yg dpt tempat duduk deket wc mba. akupun bisa mual2 dan pusing banget pasti :(. itulah jeleknya calo yaaa, makanya aku ga percaya pake jasa mereka .

    aku bbrp kali ke padang, tp lbh main ke bukit tingginya. pas acar kantor. sukaaaaa bgt ama kotanya, trutama krn makanan padang itu enak2 bangetttt hahahah. aku ga terlalu suja rasa makanan di resto padang di jkt krn menurutku terlalu asin. tp ternyata pas coba di kota asalnya, kok ya enaaaak, dan pas semua rasa. ga terlalu asin, pedesnya jg pas. makany yg bikin kangen ke padang lg ya kulinernya itu

    ReplyDelete
  18. pingin banget berkunjung ke Padang pas sudah nonton tenggelamnya kapal Van der wijk jadi terobsesi dengan kampung dekat gunung merapi ini

    ReplyDelete
  19. masjidnya bagus bangetttt, bener-bener iconic khas SumBar banget

    ReplyDelete
  20. Pengen marah2 juga baca cerita mbak nunggu kelamaan gara2 bus dan derita lainnya hingga hotel hihihi :) Itu bisa buat mbak biar jadi ibuk paling sabar heheh. Alhamdulillah hati sejuk dan damai ya tau2 dapat masjid yang indah banget interior dan eksteriornya. Gagah berani gitu ya bentuk masjidnya ini. AKu beum pernah ke Padang. Aku mah doyan semua KFC dan Mc D hahaha.

    ReplyDelete
  21. bagusan gitu, dukanya dulu baru sukanya ahaha.. tapi mbak, next time klo mau naik bus lagi, bagusnya ke padang naik travel, lalu di padang naik tuh bis trans padang..

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete

Jalan-jalan ke rumah caca, mampir sebentar beli kedondong, jangan cuma dibaca, kasih komentar juga dong.