Sunday, August 12, 2018

Mendidik Anak di Era Kekinian Dengan 5M



Ketika seorang anak lahir maka ada perjanjian yang tidak tertulis dari orang tua  kepada anak, bahwa kita bertanggung jawab atas segala kebutuhan, hak, dan kewajibannya. Termasuk dalam hak mendapatkan pendidikan. Bahkan hak tersebut sudah diatur dalam Undang-undang. 


Saya sadar bahwa pendidikan bukan menjadi satu-satunya tanggung jawab guru-guru di sekolah. Tidak adil rasanya hanya karena kita merasa sudah membayar, maka urusan moral dan kecerdasan anak menjadi kewajiban guru semata. Justru sebagai orang tua, kita yang harus berperan besar dalam mendidik anak-anak. Mulai dari pendidikan agama, norma, dan akademik.

Memang tidak mudah, bahkan kata orang tidak ada sekolah bagi orang tua untuk belajar bagaimana cara mendidik anak yang baik. Namun, tidak adanya sekolah khusus, bukan berarti orang tua tidak bisa belajar, bukan?



Menjadi orang tua milenial merupakan suatu nilai tambah bagi saya dan suami. Sebagai orang tua kami merasa sangat terbantu dengan kecanggihan teknologi, guna mencari informasi sebanyak-banyaknya dalam membesarkan buah hati. 

Apalagi saya tinggal di daerah kecil yang minim akan fasilitas kesehatan dan pendidikan. Meskipun begitu saya masih cukup beruntung karena sinyal internet disini sudah bagus. Saya bisa mencari informasi tentang kehamilan, persiapan melahirkan, sampai cara merawat dan mendidik anak dari internet. Tentu saja dari banyaknya informasi yang beredar di dunia maya saya memilah-milah sumber yang cukup terpercaya. 

Saya membayangkan seandainya saya gagap teknologi, tentu saya masih banyak mengandalkan metode jadul dan termakan mitos-mitos dalam mengasuh anak.

Ketika saya menjadi orang tua milenial, otomatis anak saya adalah generasi Z yang lahir dimana teknologi sudah menjadi bagian kesehariannya. Bahkan di hari pertama dia lahir, dia sudah melihat ponsel pintar karena kami sibuk mengabadikan wajah mungilnya yang menggemaskan. 

Tentu saja menyenangkan dengan adanya gawai (gadget) maka saya bisa mengabadikan semua momen tumbuh kembang anak dengan mudah. Namun hal itu juga menjadi kekhawatiran. Akrabnya anak-anak dengan teknologi bisa menjadi dua mata pisau yang siap membantu kehidupan sehari-hari atau siap menerkam dan menghancurkan diri sendiri. 

Sebagai orang tua saya harus bisa bersahabat baik dengan teknologi agar bisa menemukan cara yang bijak mengenalkannya kepada anak sebagai alat bantu pendidikan di era kekinian.


Mendidik anak dengan gawai bukan berarti semata-mata memfasilitasi anak dengan perangkat elektronik. Bukan pula mengenalkannya dengan internet hanya untuk memberinya tontonan sehingga menjadi anak yang anteng.

Pada era digital seperti sekarang, sulitnya rasanya membendung canggihnya teknologi dalam keseharian anak-anak kita. Diajarkan ataupun tidak, saya percaya bahwa anak zaman sekarang dengan mudahnya memahami teknologi. Mau tidak mau, kita sebagai orang tua yang harus beradaptasi dan menjadi kontrol bagi anak agar dapat menggunakan teknologi dengan baik.

Jangan pula terus-terusan membandingkan generasi Z dengan anak-anak  zaman dulu, era 80-90'an. Dimana dulu anak-anak menghabiskan waktu luangnya dengan bermain kelereng, mengejar layangan putus, bermain petak umpet, bermain masakan, dan sebagainya. Sekarang anak-anak tetap bermain permainan tersebut namun dengan cara yang lebih canggih. Main kelereng bisa dari ponsel pintar. Main masak-masakan nggak perlu lagi pakai batu dan dedaunan, cukup usap-usap layar ponsel maka sudah bisa membuat masakan lezat, dalam bentuk animasi tentunya.

Perubahan zaman pasti ada kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Alih-alih terus merasa generasi kita dulu lebih baik, kenapa kita tidak memanfaatkan teknologi yang ada sekarang untuk mendidik anak-anak kita?

Saya percaya teknologi dapat mempermudah akses anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang setara di seluruh Indonesia. Teringat semasa saya Sekolah Dasar dulu, saya sangat suka membaca. Sayangnya saya tinggal di desa dimana sulit sekali mendapatkan buku-buku bacaan yang baru dan berkualitas. Tidak ada perpustakaan daerah, tidak ada pula toko buku. Saya selalu menunggu-nunggu waktu liburan sekolah, karena saat itulah orang tua saya akan mengajak pergi ke kota dan membelikan buku-buku bacaan yang saya inginkan. 

Untungnya hal tersebut tidak akan lagi dirasakan anak saya. Meski sekarang kami masih tinggal di daerah kecil, namun saya tetap bisa membelikannya buku baru secara daring. Tinggal menunggu di rumah beberapa hari, kemudian kurir akan datang mengantarkan paket buku. Sungguh memudahkan saya untuk memfasilitasi anak. 

Melek teknologi saja tidak cukup rasanya bagi orang tua milenial. Harus ada persiapan yang matang guna memastikan bahwa anak tidak akan menyalahgunakan teknologi. Saya punya kiat-kiat 5M yang  mungkin bisa membantu para ayah dan bunda dalam mendidik anak di era kekinian. 


Disinilah peran penting ayah dan bunda, sebelum mengenalkan teknologi dalam upaya pendukung pendidikan anak. Diskusikan dulu hal-hal apa saja yang harus diterapkan kepada anak dan buat aturan secara bersama. Pastikan orangtua harus kompak dan sepakat dalam menerapkan aturan, penghargaan, dan hukuman. Sehingga anak tidak harus merayu salah satu orangtuanya agar bisa memberikan kelonggaran. 


Pentingnya berdiskusi antara ayah dan bunda untuk merencanakan pendidikan anak


Buatlah juga rencana pembagian tugas antara ayah dan bunda. Misalnya bunda yang memberikan permainan dan ketrampilan, sedangkan ayah yang mengingatkan dan mendampingi anak belajar. Dengan membuat rencana dan pembagian tugas, diharapkan pendidikan anak menjadi lebih efektif dan bebannya tidak terlalu berat bagi ayah atau bunda.

Orang tua harus selalu up to date dengan perkembangan pendidikan
Tidak cukup rasanya hanya memberikan gawai kepada anak dan memberitahukannya apa yang boleh dan tidak boleh diakses. Sempatkanlah meluangkan waktu untuk mencari informasi situs dan aplikasi apa yang cocok untuk pendidikan anak sesuai umur, tingkat pendidikan, bakat, dan minatnya. 

Misalnya mencari tahu informasi aplikasi apa yang sedang tren di kalangan anak-anak baik yang bersifat mendidik maupun yang bersifat hiburan. Jadi usahakan informasi yang anak tahu dari internet itu karena kita yang lebih dahulu memberitahukannya, bukan sebaliknya. Itu berarti pula bahwa orang tua harus selalu memutakhirkan informasi yang sedang menjadi bahan pembicaraan masyarakat.


Meski sudah diberikan arahan, biasanya anak-anak masih dipenuhi rasa penasaran untuk menjelajahi sesuatu yang baru yang dia temukan di internet. Mendampingi bukan berarti harus selalu terus-terusan disamping anak.  Kita bisa bertanya padanya apa yang sedang dia sukai akhir-akhir ini di internet? Bisa juga dengan mengajak berdiskusi tentang dampak baik dan buruknya. 

Bahkan kini, berkembang jenis pola asuh baru yang para ahli menyebutnya sebagai Drone Parenting. Apa itu Drone Parenting? Mengutip dari situs Sahabat Keluarga Kemdikbud, kita mengenal drone sebagai pesawat kecil tanpa awak yang berbentuk mirip helikopter. Drone bebas bergerak sendiri di angkasa, namun tetap dikontrol oleh pengemudi dari jarak jauh dengan menggunakan sebuah alat kendali.

Maka seperti itulah Drone Parenting, dimana orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk belajar dan mengeksplor namun tetap dalam pengawasan dan pendampingan.

Selain mendampingi kita bisa juga menjadi guru bagi anak. Itulah kenapa sebagai orang tua kita tidak boleh berhenti belajar, karena kita akan mengajar. Mungkin kita tidak bisa ahli di semua bidang mata pelajaran, tapi kita bisa mengajarkan anak bidang-bidang lain yang kita kuasai. Kegiatan belajar-mengajar ini juga akan merekatkan ikatan emosional antara orang tua dan anak. 


Sudah selesai menonton video di atas? Begitulah anak-anak kita, bukan? mereka melihat dan meniru kebiasaan orang tuanya. Bagi mereka, kita adalah panutan.

Sejujurnya hal paling sulit selama menjadi orang tua bagi saya adalah menjadi tauladan. Membuat rencana, menerapkan aturan, menasehati anak ini dan itu terasa mudah saja. Namun memberikannya contoh secara konsisten sungguh tidak mudah. 

Misalnya saya tidak mau anak saya terpapar gawai terus menerus, tapi saya sendiri tidak bisa jauh dari ponsel pintar. Untuk mensiasatinya saya menunggu anak tidur atau saat dia bermain dengan anggota keluarga yang lain. Saya juga membuat aturan tersendiri, yaitu mematikan jaringan data di ponsel ketika kami sedang jalan-jalan bersama. 

Tugas ayah dan bunda yang harus saling mengingatkan untuk menjadi tauladan bagi anak. Karena kesuksesan dalam mendidik anak adalah kerja sama tim (keluarga).

Setelah perencanaan dan penerapan, ada masanya orang tua harus mengevaluasi program dan aturan yang diberlakukan kepada anak. Apakah dampaknya berhasil bagi anak? atau sebaliknya anak malah menjadi merasa tertekan?

Evaluasi harus dilakukan secara bersama-sama oleh ayah dan bunda. Dalam evaluasi penting untuk saling mengoreksi tapi tidak saling menyalahkan. Tujuan evaluasi ini juga sebagai ajang pembelajaran orang tua untuk terus memberikan yang terbaik bagi pendidikan anak di era digital. 

Seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwa teknologi bisa menjadi dua mata pisau bagi anak-anak kita. Namun disitulah tantangan bagi keluarga untuk terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan di Era kekinian. Tantangan zaman bukan untuk ditakuti, namun untuk dihadapi. Memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. 

Perlibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan sangat penting untuk mendukung terwujudnya ekosistem yang aman,  nyaman, dan menyenangkan bagi tumbuh kembang anak. 

Dengan kiat 5M yang sudah dijabarkan di atas, semoga anak-anak kita menjadi generasi yang cerdas digital dan mampu bersaing secara global. 

#SahabatKeluarga

Refrensi:

https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4923

https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4899

https://medium.com/@TERRAITB/poac-planning-organizing-actuating-and-controlling-manajemen-organisasi-ea982e20529




21 comments:

  1. Setuju banget dan yang paling penting itu mendampingi dan ikut mengajarkan. Ibunya juga hrs uptodate dan harus lebih pinter dari anaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, walau kadang puyeng soalnya pendidikan anak zaman sekarang beda banget sama kita. Untungnya ada internet dan mbah google yang bantuin :D

      Delete
  2. berat memang menjadi org tua sekarang kalau tdk dipersiapkan secara matang karena memang banyak tantangannya. Disatu sisi anak2 tdk boleh dikekang, tapi di sisi lainnya kita sebagai org tua tdk ingin melepas begitu saja anak2 kita mengingat jamannya sudah berbeda dgn jaman ketika kita remaja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, mba. Solusinya dengan kiat 5M di atas semoga bisa membantu mengurangi dampak negatif teknologi.

      Delete
  3. 5M seperti slogan ya mba, bagus taglinenya.

    Emang perlu banget pendampingan orang tua dan keluarga buat generasi milenial, yang notabenenya candu dan fasih dalam teknologi. Sekaligus kesempatan ibu buat belajar teknologi juga. Ini mbanya blogging dan nulis artikel aja menurut saya udah keren dan mengikuti perkembangan zaman hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, Mba. Karena hobi dan passion juga sih (serta butuh uang, wkwkw).

      Delete
  4. Meskipun fasilitas kesehatan yang masih terbatas, tapi setidaknya sinyal internet cukup kencang, sehingga kita bisa memperoleh informasi dari internet dengan cukup baik. Boleh banget tips 5M nya diterapkan... Thanks for sharing

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama, mas. Iya alhamdulillah bahkan sekarang ada aplikasi untuk nelpon dokter, kan.

      Delete
  5. ibu madrasah pertama bagi anak2nya , duhh baper blm punya anak tapi alhamdulillah udh punya ilmunya dikit2 hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Justru saya salut sama yang masih single tapi mau belajar kaya mba Tiara (:

      Delete
  6. Bener nih mom, setuju banget deh sm tulisannya... Bisa nambah pengetahuan parenting setelah baca

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, semoga bermanfaat ya mba ^^^

      Delete
  7. Setuju.
    Anak terlahir polos, orangtualah yang bertanggung jawab kelak akhlak anak seperti apa.
    Jadi, orangtua kudu banyak belajar terutama gaya pengasuhan karena setiap anak adalah unik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba, berat amanahnya. Makanya kita nggak boleh berhenti belajar dan update dengan perkembangan zaman.

      Delete
  8. Replies
    1. Sama-sama, bun. Makasih sudah mampir ^_^

      Delete
  9. Thanks for sharing mbak... Semoga bisa nerapin drone parenting... Kalau terlalu dikukung kan ga bagus juga yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin. Unik ya mba istilahnya. Siapa tahu nanti ada cctv parenting. Mengawasi anak diam-diam, hihi.

      Delete
  10. Menjadi tauladan bagi anak adalah cara palimg efektif,, apalagi amak di usia balita dan sekolah dasar..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Doakan saya supaya bisa jadi tauladan yang baik bagi anak ^_^

      Delete
  11. Menjadi teladan ini PR banget ya. Terkadang masih bingung kenapa anak cenderung lebih cepat meniru kebiasaan yang "kurang baik" dari ortunya (misalnya, mainan hape, marah2, dll) daripada yang menurut kita baik. Sepertinya udah tiap hari aku makan dengan baik di meja makan, tapi kok anak masih susah makannya *loh jadi curcol* hahahaha

    Btw, istilah drone parenting ini menarik. Terima kasih sharing-nya, Mba! (:

    ReplyDelete

Jalan-jalan ke rumah caca, mampir sebentar beli kedondong, jangan cuma dibaca, kasih komentar juga dong.