Thursday, April 5, 2018

Belajar Dari Kehilangan



Kangen banget ngeblog, sudah seminggu lebih nggak buka blog. Saya habis cuti, mengunjungi orang tua di kota Jambi. Sehari saya di Jambi dapat kabar duka bahwa nenek saya meninggal.


Untung sekali siang kemarinnya saya sempat menjenguk beliau yang terbaring koma di ICU. Baru kali itu saya melihat langsung pasien yang koma dengan berbagai macam alat dipasangkan ditubuhnya, seperti yang biasanya saya lihat di film-film.  Wajah nenek kelihatan seperti orang yang tertidur lelap, hembusan nafasnya teratur meski dibantu selang pernafasan. Saya selalu mendo'akan beliau untuk cepat sembuh. Ternyata Allah memberikan kesembuhan dengan jalan yang paling baik menurut-Nya. 

Nggak banyak kenangan saya dengan nenek karena memang kami nggak tinggal berdekatan. Tapi saya ingat dulu waktu belum nikah tiap main kesana ditanyain "Siapa kawan Enny sekarang?" awalnya saya bingung. Kok nenek nanyain teman? teman saya banyak kok, masak disebutin satu-satu. Lama-lama baru ngeh maksud nenek "kawan" adalah "pasangan". Bersyukur nenek masih sempat lihat saya menikah, punya anak, bahkan terakhir nenek datang ke rumah orang tua saya untuk acara aqiqah Mukhlas pada April 2017 lalu. 

Saya juga pernah dulu bawain kue ulang tahun untuk nenek, umurnya sudah 80an waktu itu. Beliau senyum dan bilang makasih. Mungkin lucu juga menurut beliau umur 80an dibawain kue ultah segala, hehe. 

Banyak pelajaran dari nenek yang saya ambil. Pertama, nenek wanita yang kuat. Karena datuk sudah meninggal kurang lebih 30tahunan yang lalu. Semenjak itu nenek jadi janda sampai akhir hayatnya. Nenek tetap bisa menghidupi 9 orang anaknya, termasuk mama saya. Semua anak nenek sekolah sampai perguruan tinggi. Nenek juga punya banyak aset (rumah kontrakan) jadi beliau tetap bisa mandiri sampai tua. Bahkan, ketika nenek dirawat di ICU sampai 18 hari dan harus operasi juga. Semua biaya tersebut dari tabungan nenek. Yap, selain punya aset nenek punya tabungan senilai puluhan juta rupiah. Jadi beliau nggak ada merepotkan anggota keluarganya. Salut. Saya juga ingin seperti nenek kelak, sehingga nggak perlu merepotkan anak cucu saya. 

Selain itu nenek orangnya cermat dalam merawat barang. Kata mama semua baju-baju dan tas nenek masih terlihat bagus. Sehingga pas dibagi-bagikan ke anggota keluarga masih layak semua. 

Minta do'anya ya teman-teman semoga nenek saya diampuni segala dosanya, diterima semua amal baiknya. Aaamiin. 


***

Selain dari meninggalnya nenek saya, saya dapat pelajaran lain waktu LDR dengan suami beberapa hari lalu. Hampir dua tahun menikah baru kali ini suami pergi ke luar kota untuk jemput bapak dan ibunya di Pati, Jawa Tengah. Biasanya mas Agus membantu banget ngurusin Mukhlas. Tapi tetap aja kalau saya lagi marah saya suka bilang begini "udah sana pergi, adek bisa kok urus Mukhlas sendirian". *Jangan ditiru* 


Kalau lagi dirundung emosi begitu, saya kadang ceplas ceplos sembarang. Ego saya bilang, saya bisa cari uang sendiri saya juga bisa mengurus rumah dan anak sendiri. Nah, ketika LDR kemarin baru kerasa banget capeknya urus Mukhlas sendirian. Apalagi hari pertama mas Agus pergi, Mukhlas demam. Jadi dia semakin rewel dan maunya digendong terus. Bayangin aja saya terpaksa bawa Mukhlas masuk WC karena nggak tahan lagi mau poop dan nggak ada yang bisa dititipin sebentar. Saya juga makin salut sama full time at home mom. Karena rasa capek yang dirasakan melebihi banyaknya laporan yang harus dikerjakan di kantor. 

Saya jadi nyesal pernah merasa angkuh bisa mengurus anak sendirian tanpa suami. Berasa banget nggak ada yang bantuin, nggak ada yang mijitin saya, untung ada mang gojek yang antarin makanan. 

Benar kata orang bijak, "kadang kita merasakan arti kehadiran seseorang setelah kita merasa kehilangan"

Kalau kalian gimana? pernah nggak dapat pelajaran dari suatu kehilangan? cerita di kolom komentar, ya. 


28 comments:

  1. Pernah mbak, kehilangan memang gak enak. Tapi kupikir kehilangan memberi banyak hikmah.. salah satunya lbh menghargai yg masih kita miliki :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mba, bahkan kesedihan pun ada hikmahnya.

      Delete
  2. Semoga Nenek Mbak ditempatkan ditempat yang terbaik di Alam Barzah dan diampuni segala dosa - dosanya serta mendapat nikmat kubur. Amin

    Membaca artikel Mbak kali ini, terasa sekali sensasi " sedih dan lucu " . Kok digabungkan artikelnya Mbak. :)

    Suami terkadang selalu menjadi TARGET amarah si Istri, Saya suka kasian melihat suami yang selalu mendapat amarah dari istrinya saat ia tidak melakukan kesalahan yang melanggar Agama dan Hukum Negara.

    Rasanya saya ingin bilang ke wanita tersebut pakai mikropon Mesjid " Bahwa sesungguhnya surgamu berada ditelapak kaki suamimu " !!

    Tanggung jawab suami memang berat, harus mempertanggung jawabakan dan memikul dosa2 sang istri,dll Dunia Akhirat.

    Kita ambil contoh didunia saja, saat sang istri masuk rumah sakit, dokter/perawat akan bilang " Mana suaminya ? , tidak mungkin dokter/perawat bilang " Mana Mantannya ? mana tetangganya ? ....

    artinya suami itu punya beban berat yang tidak kelihatan oleh mata namun terasa oleh hati.

    Semoga Ibu - ibu didunia ini bisa memuliakan suaminya, hiduppp bapak - bapak...!! :)

    Maaf atas2 ngomel2nya , mBak ... cuma guyon versi serius. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk, dak apo kando. hiburan di hari Jum'at yang cerah ini :D

      Delete
    2. hahahah..... Syukurlah klu kata2 saya menjadi sebuah hiburan, namun hiburannya bergaya " rock " :) maafin yach, hhihihihi.... :)

      Delete
  3. Iya benar mba, kita tahu orang itu ternyata Sandgate dibutuhkan ketika orang itu tidak ada atau pergi.

    ReplyDelete
  4. mendiang nenek sepertinya punya taste berbahasa, beliau menyebut "kawan" ketimbang pacar, kekasih, atau teman dekat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe iya mba, orang jaman dulu tata bahasanya pun diatur.

      Delete
  5. Semoga alm. Nenek mba e diterangkan di alam kubur, dan jangan lupa untuk selalu mengirim doa agar lebih lapang lagi serta mendapatkan tempat yang layak.

    Aminn

    Oiya, semoga kita semua selalu bisa bersyukur dengan apa yg kita punya sekrang. Tak perlu melihat kanan kiri, yg kita miliki sudah cukup membuat kita bahagia bersama keluarga ya mba ya

    ReplyDelete
  6. innnalilahi, turut berduka cita mbak enny, semoga almarhumah husnul khotimah..aamin
    kehilangan orang-oarang terdekat dan tersayang selalu memberi pelajaran baru untuk kita yah mbak, aq setiap ada orang terdekat kembali menghadap sang pencipta seperti ngingetin diri sendiri untuk lebih banyak beribadah karena hidup didunia sementara jadi jangan di sia-sia untuk mengejar dunia saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mba maya. Iya karena syarat mati nggak harus tua dan sakit.

      Delete
  7. Setuju banget, mba. Berasa arti kehadiran setelah kehilangan, huhu

    Neneknya keren, inspiratif banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mba, semoga beliau diberikan tempat terindah di sisi-Nya.

      Delete
  8. Cerita tentang kehilangan nenek sama persis dengan yg saya alami tahun lalu. Bedanya, saya sangat dengan nenek sehingga harus kehilangan beliau saat itu sangat berat. Tapi puji syukur sudah ikhlas. Mudah-mudahan nenek Mba sudah tenang dan mendapat tempat yang terbaik, ya.

    Soal LDR sama suami kok bisa samaan sih, saya juga pengen bahas itu di blog 😅 setuju banget dengan pepatah. Makanya saat ada orang tersebut, kita jangan pernah take it for granted, ya. Bisa saling menghargai.

    Makasih, Mba tulisannya (:

    ReplyDelete
  9. Turut berduka cita mba...salut sama nenek, orangnya juga apik banget ya. Aq malah pengennya paksu lebih rajin lagi bantuinnya xixi

    ReplyDelete
  10. Saya kehilangan nenek dari pihak ibu saat berusia 6 tahun dan kehilangan nenek dari pihak ayah sejak usia 11 tahun. Kehilangan ayah sejak 7 bulan dalam kandungan ibu dan kehilangan ibu sejak usia jalan 4 tahun...

    Bagaimana rasanya Kehilangan?
    Ah, sulit untuk diungkapkan :'(

    ReplyDelete
  11. Semoga nenek khusnul khotimah
    Dan kalau belajar dari kehilangan .. Saya jg pernah,kalau sudah tiada baru terasa :(

    ReplyDelete
  12. Innalillah.. turut berduka, Mbak. Semoga keluarga yang ditinggal diberi ketabahan. Setuju banget sama quotenya itu, mbak.. saya juga barusan kehilangan seseorang. Sepertinya kita kehilangan berjamaah ini :(

    ReplyDelete
  13. Turut berduka cita atas meninggalnya neneknya kakak.
    Yang tabah ya,kak

    ReplyDelete
  14. Semoga neneknya ditempatkan dit4 terbaik disisinya yah mba enny. Aamiin...

    Ustad bilang, marahnya perempuan itu sebentar saja. Jd jgn diambil hati. Seperti marahnya bunda Aisyah pada Rasulullah saw dgn mengatakan" engkau bkn nabi, hanya mengaku nabi aja". Hidup penuh romantika yah mba. :)

    ReplyDelete
  15. Pastiii pastii :)

    Ungkapan, 'sesuatu akan berarti setelah tidak ada', itu memang benar sih.

    Kalau kebiasaan ada, ya mana ada artinya. Karena udah ada di sana memang. Barulah aneh kalau tidak ada~

    Kalau saya sih percaya, insyaAllah dibalik itu semua ada artinya. Dibalik semua yang datang dan pergi, ada pelajaran, pasti. Gimana kita legawa lihat kejadian itu kayak gimana aja hehehe.

    ReplyDelete
  16. Ikut berduka cita ya Bun atas kepergian neneknya. Saya jadi rindu nenek saya di Padang T_T

    ReplyDelete

Jalan-jalan ke rumah caca, mampir sebentar beli kedondong, jangan cuma dibaca, kasih komentar juga dong.