Top Social

Top Social

..........dan simak ceritanya

"Kok Bayinya Nangis Terus?"



Hayooo, mommies siapa yang pernah dapat pertanyaan seperti itu dari orang sekitar? entah dari Ibu/Mertua, atau bahkan dari orang-orang yang berkunjung melihat bayi kita. Saya sendiri pernah dapat pertanyaan seperti itu ditambah dengan kalimat yang berujung membuat ibu baru seperti saya galau. 

"Kok bayinya nangis terus? Mungkin laper, tuh. ASI aja nggak kenyang dia. Coba kasih pisang atau nasi yang dilumat".

"Haaa? Emang begitu ya?"

Bacotan Warganet

Gila ya, nggak habis pikir sama sebagian warganet yang kalau komentar di Instagram publik figur udah kayak buang sampah ke Kali. Semua yang kotor-kotor dan nggak bermanfaat ada. 

Saya lagi esmosi. Lihat ada publik figur yang upload foto bareng teman-temannya isi captionnya lagi siap-siap mau syuting, eh ada aja yang komen begini :

Liburan tanpa instastory



Saya dan suami ambil cuti dari tanggal 15-20 Januari lalu. Sebenarnya nggak liburan yang gimana-gimana, nggak keluar kota atau ke luar negri (kayak banyak duit aje sih ๐Ÿ˜). Kami cuma ke tempat orang tua di Sabak dan kota Jambi. Kalau dari tempat tinggal saya di kabupaten Tebo sekitar 5-7 jam. Kebetulan orang tua saya akan berangkat umroh, jadi kami sengaja datang untuk menghadiri pengajiannya. 

Tipe-Tipe Pengunjung Lapas (Part 2)



Sudah dua bulan terakhir ini saya ditugaskan menjadi petugas pendaftaran layanan kunjungan di Lapas tempat saya bekerja. Awalnya saya pikir asik nih, kalau jadi petugas pendaftaran nggak mikir yang namanya laporan. Kalau jam layanan kunjungan habis, selesai kerja saya. Tapi ternyata nggak semudah itu juga. Namanya melayani masyarakat yang berkunjung itu berarti saya bertemu bermacam-macam orang dengan karakter yang beda-beda. Mulai dari yang ramah sampai yang bikin urut dada.

1. Nggak ada kartu identitas, tapi maksa mau masuk

Syarat utama setiap pengunjung yang mau membesuk narapidana itu harus ada kartu identitas. Satu rombongan cukup 1 ktp saja. Sering nih saya temui orang yang mau berkunjung tapi pas diminta ktpnya jawabannya nggak ada karena ketinggalan, sudah ngurus tapi  belum jadi karena dikorupsi ._.” , ktp hilang pas malam tahun baru, ada aja jawabannya.

Terus saya tanya dong ada kartu identitas yang lain nggak? SIM? STNK boleh juga deh yang penting ada data nama dan alamat lengkap.

Malah dijawab “nggak ada bu, BPJS boleh?”

Eh buset, dia kira disini Puskesmas? Ini LAPAS woi.

Lain hari malah ada yang bilang “ATM aja boleh nggak bu?”

Kalau bersedia ngasih sama PINnya baru saya bolehin.

Ada-ada aja nih kelakuan pengunjung, masak kartu identitas nggak dibawa kemana-mana.

2. Nggak percayaan

Ada hari-hari tertentu selain tanggal merah, kunjungan ditiadakan.  Biasanya kalau di lapas lagi ada acara. Pengumuman sudah ditempel di depan pintu. Tetap aja ada beberapa pengunjung yang nggak percaya.

“nggak bisa besuk ya, bu?”

“nggak bisa, itu ada pengumumannya”

“tolonglah  bu, kami pengen ketemu dari jauh”

“emang dari mana?”

“(nyebut nama tempat)”

“ya ampun, itu cuma sejam dari sini besok aja balik lagi”

Tetap lho mereka nunggu di depan, dikiranya kita petugas layanan kunjungan ini bohong. Zzzzz.

3.   Ngaku keluarga tapi nggak tahu nama lengkapnya

Salah satu prosedur berkunjung saya harus tanya nama warga binaan yang ingin dikunjungi. Harus nama lengkap karena banyak nama warga binaan yang sama atau mirip. Saya juga butuh datanya untuk diinput di aplikasi SDP. 

“yang mau dikunjungi namanya siapa bu?”

“mi”

“hah?”

“mi, namanya mi.

“masak mi doang bu? Mi goreng?”

“haduh saya nggak tahu nama lengkapnya, biasa manggil mi..mi gitu.”

“ibu nih siapanya?” mungkin cuma kenalan jadi maklum kalau nggak tahu.

“saya keluarganya. Bibinya”

“lah, kalau keluarga kok nggak tahu nama lengkapnya?!!*

KZL.




4. Manggil seenaknya

“Yuk, mau besukan”

“daftar besukan, nte (tante)”

“ besukan, kak. “

Padahal jelas-jelas saya pakai seragam dan lagi kerja, kenapa nggak “Ibu” aja sih?

5. Ngasih tanpa diminta

Nah, kalau pengunjung kayak gini nih menyenangkan. Kami petugas lapas dilarang keras untuk pungli (pungutan liar) pada pengunjung. Ada banner nomor pengaduan kok kalau memang ada pungli. Tapi sesekali ada pengunjung yang tanpa diminta ngasih gorengan, rambutan, mangga. Saya sudah bilang “nggak usah bu (tapi sambil nyiapin kresek)” tetap mereka ngasih. Kan nggak enak ya nolak rejeki ๐Ÿค—.

Pernah juga ada yang ngasih uang. Sudah ditolak juga, tapi dia bilang “jangan ditolak ini bukan suap”. Ya udah sih kalau si bapaknya maksa, hehe. Saya jajanin deh uangnya ke Alfamart di depan Lapas.

Ingat ya, berkunjung ke LAPAS itu GRATIS. Kalau ada oknum yang minta jangan mau ngasih.


6.  Bohong

Setiap pengunjung juga ditanya saat pendaftaran bawa hp atau nggak? Kalau bawa jumlahnya berapa? Karena HP nggak boleh dibawa sampai ruang kunjungan, harus dititip di locker yang sudah disediakan.

Ada nih pengunjung yang ditanya jawabnya satu, pas diperiksa ternyata hpnya ada dua. Atau bilangnya nggak bawa hp pas diperiksa kedapatan 1 hp. Biasanya yang model begitu langsung “diusir” karena dari awal sudah kelihatan niat nggak baiknya.  Kalau di Lapas memang harus waspada, soalnya bisa saja barang terlarang masuk lewat pengunjung.

7. Saya kira laki tahunya perempuan

Ini baru aja kejadian kemaren, ada yang mau besukan dan ngasih KTPnya. Saya reflek mau nyapa “mau besuk siapa pak?” eh pas lihat KTPnya jenis kelamin perempuan. Habis gaya si ibu itu kayak laki-laki. Rambut pendek, pakai celana jeans dan jaket.

Karena nggak enak hati saya ulang lagi “mau besuk siapa, mba? ๐Ÿ˜ฌ”

***


Gitu deh suka dukanya kerja di bagian layanan kunjungan, kudu sabar menghadapi aneka ragam jenis sifat orang. Apalagi kalau pengunjungnya lebih galak daripada petugas. Dih, kudu nyetok sabar banyak-banyak๐Ÿ˜“.

Ada juga yang kerja di bagian pelayanan masyarakat dan ngalamin kejadian lucu/aneh/unik? Share di kolom komentar ya.






[RelationTips] Pisah atau Maklumi

Saya bukan ahlinya, pengalaman saya juga masih seujung kuku. Tapi dari saya single dulu, saya sering dijadikan tempat curhat tentang masalah rumah tangga dari orang-orang yang lebih tua dan berpengalaman. Saya masuk kerja mulai dari umur 19 tahun, otomatis di kantor rekan saya beragam umurnya. Entah apa yang bikin mereka percaya cerita sama saya yang bisa dibilang "masih bocah" di antara mereka.