Kerja di Lapas Itu Menyeramkan?

Thursday, October 12, 2017



Kerja dilapas itu menyeramkan nggak sih?

Saya sering dapat pertanyaan seperti di atas. Masyarakat yang awam terhadap dunia pemasyarakatan pasti mengiranya Lapas adalah tempat yang menyeramkan karena isinya orang-orang yang melanggar hukum. Ada kasus mencuri, asusila, narkoba, korupsi, pembunuhan, dll.


Jawaban saya kalau sekarang adalah "biasa saja" karena memang sudah biasa. Tapi kalau awal-awal kerja, duh jantung lumayan dangdutan juga. Dalam hati komat kamit ngulang-ngulang ayat kursi.

Tugas pertama saya di lapas tahun 2013 adalah penjaga warga binaan pemasyarakatan (WBP) Wanita. Buat yang nggak tahu WBP itu sebutan untuk tahanan dan narapidana.

Saya inget banget waktu itu ada pindahan WBP wanita dari lapas lain. Badan mereka ada yang kurus kerempeng, ada yang gede, ada yang tattoan, ada yang serem raut wajahnya, ada pula yang alisnya cetar wkwk.
Dan mereka semua turun dari mobil dengan tangan dirantai.

Deg!

Dalam hati saya, duuh ini kasusnya pada seram-seram apa gimana kok sampai dirantai segala. Eh ternyata itu memang prosedur pemindahan WBP. Mau kasus apapun kudu ada pengamanan dengan dirantai atau diborgol.

Kerja jadi penjaga wbp atau anggota pengamanan itu ngapain?

Salah satunya adalah buka tutup pintu kamar (sel). Mana gemboknya segede tapak tangan yang silinder itu lho, kalau ngelempar kepala orang pasti bocor dah. Kadang setelah dimakan waktu, gemboknya agak berkarat jadi nguncinya butuh tenaga ekstra. Belum lagi ada beberapa pintu yang harus didorong dari dalam. Jadi kalau waktunya kunci pintu, warga binaan yang didalam satu atau dua orang bantuin dorong sampai terkunci.

source : merdeka.com

Awalnya saya kira warga binaan di lapas itu sangar - sangar, eh taunya ada yang cengeng juga.

Kalau di dalam lapas kebanyakan mereka nggak bisa berkuasa kayak diluar. Sekalipun dulunya komplotan perampok, membunuh anggota keluarganya sendiri, wanita malam yang narkobaan dan pakai tatto, pejabat yang mentereng, di dalam lapas mereka semua kelihatan biasa saja.

Apalagi memang semua warga binaan itu diperlakukan sama. Misalnya ada jadwal piket kamar masing-masing dan ruang jaga petugas. Mau kasus mencuri atau korupsi ya semuanya harus bersih-bersih, nyapu, dan ngepel.

Cuma di lapas ibu-ibu yang dulunya pejabat dengan sasak rambut yang mewah harus ngepel pakai daster dan rambut dicepol seadanya.


Flashback lagi, dulu saya termasuk petugas yang level mentalnya cemen. Maksudnya saya nggak bisa bentak narapidana, kalau marah malah jadi kayak nasehatin biasa. Padahal untuk situasi tertentu warga binaan perlu dikerasin, tujuannya "mendidik" mereka untuk patuh aturan. Karena kehidupan di lapas suka nggak suka berbeda dengan kehidupan mereka dulu yang bisa bicara dan bersikap seenaknya.

Alhasil kalau saya ada problem, ngadu aja deh sama senior atau rekan kerja.

Seiring berjalannya waktu ketakutan saya mulai luntur dan malah berubah menjadi iba sama mereka. Pada dasarnya fitrah manusia itu kan suci, terlahir tanpa dosa. Lingkungan keluarga atau pergaulan yang menjadikan mereka seperti itu.

Mengawal Kegiatan Mengaji


Hanya satu yang saya takutkan : kerusuhan/ pelarian.

Sekarang dimana-mana lapas sudah over crowd, penambahan warga binaan nggak sebanding dengan petugas.

Contoh nih di lapas tempat saya bekerja warga binaan kurang lebih berjumlah 300 orang dan petugas jaganya 4 orang.  Perbandingannya kurang lebih 1:75, ckck.

Bahkan di lapas lain ada yang perbandingannya 1 : 120

Kalau situasi lagi aman sih ya nggak masalah dijaga segitu juga, tapi kalau lagi rusuh? Bisa bisa jadi ayam penyet dah petugasnya dikeroyokin.

Suami saya saat ini masih di bagian petugas pengamanan. Saya selalu berdo'a semoga Allah membantu penjagaan Lapas, jangan sampai terjadi pelarian dan kerusuhan.


Balik lagi ke pertanyaan awal, apa kerja di lapas itu menyeramkan?

Jawabannya "Nggak,  Karena sudah biasa"

Sama halnya bagi saya sekarang tentu lebih nyeremin mereka yang kerja di Rumah Sakit Jiwa, tapi saya pernah tanya orang yang kerja disana dia jawab biasa saja. 

Intinya memang tergantung kebiasaan kita sih, toh mereka manusia juga. Setiap pekerjaan pasti ada resikonya. 

Sekarang saya sudah tidak di bagian anggota pengamanan, Sekarang sudah di staff pelaporan dan administrasi keamanan & Ketertiban. Kebanyakan berurusan dengan komputer daripada dengan warga binaan. Tapi kalau ada razia kamar, pengawalan warga binaan perempuan, saya tetap mengawal.

Yah, walau warga binaan macam-macam tingkahnya. Sabarin aja saaay, memang petugas lapas digaji untuk mengurus mereka. 

Just love what we do :D



11 comments:

  1. Wah baru tahu Mba kerja di lapas, semoga lancar kerjaannya yaa

    ReplyDelete
  2. Huaa.. Aku kok jd ikut panik ya membayangkan kalau benar ada kerusuhan. 1:75? Ckckck.. Apa ga bisa ditambah lg sumber daya dan sistem pengamanannya? Bisa jd celah tuh

    ReplyDelete
  3. menarik ya mba kerjaannya, justru ga takut malah mba bangga kali yah bisa didik mereka yang udah belok, bisa kasih wejangan :p seru juga y mba tantangan banget :)

    ReplyDelete
  4. Mental jadi kuat ya mba berkat tempaan kerjaan. Insya Allah aman dan selalu dalam perlindungan Allah mba aamiin

    ReplyDelete
  5. Keren banget sih mbak. PAsti akan banyak yang bisa ditulis Mbak. Salut padamu :)

    ReplyDelete
  6. kereenn.. penjaga lapas masuk PNS brarti ya mba?

    ReplyDelete
  7. Mbak klu wrga binaanya kabur ap sanksi utk petugas ??
    Ap di pecat atw pngkatnya d turunin atw gimna ??

    ReplyDelete
  8. Pas mbak mampir di komentar blogku, aku cuma kayak yang 'oh mbak ini PNS' pas buka blognya uwowow, kerjanya di lapas hehe..salut mbak. Emang sih kesannya kayak gimana ya? tapi kalau udah sering bersinggungan sama mereka rasa iba bakal keluar ya mbak?

    Semangat terus mbaak kerjanya :))

    ReplyDelete
  9. Mba kerja di Lapas ya? Saya beberapa kali tugas liputan ke Lapas.. Sama kaya mba sik, awalnya dag dig dug, tapi setelah di dalam, mewawancarai napi yang kasus pembunuhan satu keluarga, saya malah kasihan liat hidupnya. Udahlah ganteng, hanya karena emosi sesaat ia malah membunuh keluarga tantenya.. Saya wawancarai dia, dia menangis terseduu2, menyesal, dan ingin berbuat hidup baik. Siapa yang ga pengen menangis mendengar seperti itu kan? hahaha *eh kok malah curcol?

    Tapi kalau sekarang atau sesudah peliputan itu, dengan mantap saya ga takut liputan ke lapas sik. Tapi tetap selalu berdoa dulu kalau ke sana. hehe

    ReplyDelete
  10. kalo saya yang bejerja di lapas mungkin ngerasa ketakutan tiap hari karena yang dihadipi orang" yang pernah melanggar hukum. dengan kasus yang berbeda", tapi semua orang kan bisa berubah jika dita dapat membinanya dengan baik

    ReplyDelete
  11. Mbk saya lulus pns kunham..dan sudah pemberkasan.stelah saya ingat ingat tanda tangan saya berbeda ktp dengan ijasah...mohon petunjuk untuk tanda tangan SK

    ReplyDelete

Silahkan komentar dengan nada positif, no SARA. Terimakasih ^^

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS