Media Sosial Setajam Silet

Tuesday, November 29, 2016




Judulnya mirip-mirip infotainment yak, tapi tenang tulisan ini tidak bermaksud untuk membahas artis A yang sudah berpisah dengan artis B kemudian membuat  rekayasa cinta dengan artis C yang ditanggapi oleh artis D *puyeng deh tuh*. Tapi ini lebih kepada kegelisahan hati calon mamak muda kayak saya.

Saya sudah melek Medsos (Media Sosial) sejak 2008, mulai dari chatting mIRC, friendster, blog, facebook, twitter, bbm, path, instagram saya pernah dan masih punya. Setiap platform memberikan kesan dan keseruan yang berbeda.

Teknologi cepat banget berkembang pesat hanya dalam beberapa tahun. Kalau dulu ngobrol sama kerabat dan teman yang jauh itu caranya cuma nelpon atau sms (itu pun mesti diirit-irit karena tarifnya mahal) sekarang kita bisa chating bahkan video call dengan tarif yang murah karena berbasis kuota. 

Kita juga bisa share apa saja di sosmed. Mau makan diposting, lagi hangout diposting, lagi di sekolah  juga diposting, lagi di WC pun ada yang posting *ewwww*. Media sosial juga sudah menggantikan tempat buku harian bagi orang-orang untuk curhat. “ya Allah... aku suka banget sama dia, tapi kenapa dia lebih milih sahabatku. Aku tau aku nggak sempurna tapi alisku tebal tanpa pakai pensil alis kok, hiiiiks* 

Dulu pun saya termasuk orang yang share apa saja di akun medsos saya tanpa filter. Apalagi ortu saya rada gaptek jadi mereka memang nggak bakal tahu apa saja yang saya posting. Saya juga pernah ada di masa-masa minder untuk bersosialisasi secara langsung dengan orang lain. Mungkin itu yang bikin saya nyaman berjam-jam depan komputer untuk berteman dengan orang-orang yang hanya saya lihat dari foto itupun mungkin sudah diedit dengan susah payah pakai photoshop (oke, bagian yang ngedit foto itu pengalaman pribadi saya #pengakuan).

Sampai dimana saya menemukan jati diri di dunia nyata. Saya nyaman dengan komunitas sosial yang bikin saya belajar banyak hal. Saya mulai mengurangi curhat soal pribadi dan lebih memilih  memanfaatkan medsos untuk mencari donasi, relawan, dan hal-hal bermanfaat lainnya. Saya memang masih suka cerita di akun medsos saya tentang kehidupan pribadi tapi ceritanya sudah saya pilah pilah hanya yang menurut saya bermanfaat atau tentang kebahagiaan saja. Sekalipun curhat tentang kesedihan , gaya bahasanya sudah saya atur untuk tidak blak-blakan dan lebih kepada apa hikmah dari masalah yang membuat saya sedih.
Alhasil kenapa postingan di blog ini sedikit padahal saya sudah ngeblog dari 2009? Karena banyak saya hapusin postingan alay nggak jelas jaman dulu, hahaha. 

Eh kok jadi cerita tentang saya sih? *gagal fokus* 

Sebagai pengguna dan pemerhati medsos bertahun-tahun , saya agak kaget kalau membaca komentar-komentar netizen  jika menanggapi sesuatu yang sedang viral dan heboh. Misal nih ya ada gosip tentang artis tertentu, ramai-ramai orang-orang memberikan komentar di akun si artis dengan kata-kata dukungan namun ada pula dengan kalimat cacian dan hinaan (ketahuan saya suka nge-stalk, eh tapi sering juga muncul di explore sih :p). 

Satu hal yang bikin shock adalah pas baca-baca komentar yang bersifat hinaan itu justru datang dari anak-anak bocah atau orang yang sudah dewasa. Pertanyaannya “kok bisa anak yang masih bocah ngomong kasar begitu? Lantas apa artinya pendidikan yang sedang mereka jalani ? Dan kok bisa orang yang sudah dewasa ngomong begitu? Apa artinya umur, pendidikan yang sudah mereka dapat, dan keyakinan beragama yang mereka pegang? Kalau emang nggak suka sama sosok tersebut kenapa nggak diunfollow, diblokir sekalian, jangan sengaja banget dikomentarin?

Hm........... wajar kadang ada public figure yang stres banget kalau sudah dibully netizen meskipun sebenarnya masalah yang datang karena perilakunya sendiri yang menjadi sorotan banyak mata dan media.

Terus ya, saya heran melihat reaksi netizen menangggapi kasus-kasus yang sedang viral di Indonesia. Contohnya  kasus sidang Jessica, aksi damai 411, dan lainnya. Tentu saja saya mengikuti perkembangan beritanya di media, dan kaget baca komentar orang-orang. Kasus Jessica misalnya, tentu kita sebagai orang awam merasa prihatin ada yang kehilangan nyawa dari niat mereka reuni di coffe shop. Menyesali pula jika memang tersangka terbukti meracuni. Mungkin kita ikutan kesal, tapi nggak perlu kan nulis kata-kata hujatan untuk si tersangka. Pertama, belum tentu si tersangka baca karena dia lagi ditahan nggak bisa pegang handphone kecuali dibawah pengawasan petugas. Kedua, komentar hujatan kita tidak membantu jalannya persidangan. Ketiga, dapat dosa deh karena menulis kata-kata hujatan kayak gitu. 

Lebih sedih lagi saya baca-baca komentar netizen tentang konflik penyebab aksi damai 411. Anggaplah kita belum tahu banyak ilmunya, seluk beluk permasalahannya,  ya jangan komentar macem-macem dan  lebih baik belajar. Sedih rasanya sampai ada yang menghujat para ulama. Ulama memang manusia biasa yang  bisa salah, tapi tahu nggak kalau mereka sudah mendedikasikan hidupnya untuk belajar tentang ilmu agama dan menyiarkannya lewat dakwah supaya kita-kita yang nggak pernah nyantri atau sekolah di universitas Islam ini bisa tahu, bisa belajar, nggak tersesat. *betuull tidaaak?*

Sekalipun kita tahu ilmunya jangan terpancing sama orang yang memang suka memprovokasi. Maksud kita baik tapi disampaikan dengan menyematkan nama-nama hewan ya nggak baik juga jadinya. Haduuh nggak perlu saya jelaskan panjang lebar, silahkan buka facebook atau instagram, cari akun-akun besar , siapkan popcorn untuk membaca perang komentar para netizen itu *dan jangan lupa banyak-banyak isitigfar pas bacanya*.

Memang di jaman demokrasi seperti ini kita bebas menyampaikan pendapat tanpa perlu takut tiba-tiba kita atau anggota keluarga kita diculik dan “dihilangkan” seperti jaman dulu. Tapi kebebasan yang ada nggak serta merta membuat kita bebas menyampaikan apapun tanpa disaring terlebih dahulu, kan?

Disini peran saya sebagai calon orang tua rasanya punya PR yang berat. Di satu sisi di jaman anak saya nanti teknologi tentu makin maju, nggak mungkin membuatnya nggak mengenal teknologi. Nggak usah diajarinpun saya yakin dia akan bisa. Tapi melihat jaman sekarang aja begitu “vulgar” nya teknologi tanpa filter maka saya punya misi besar untuk mengenalkan teknologi yang baik sama anak-anak saya kelak. Sebagai orangtua tentu saja saya dan ayahnya nggak bisa mengawasinya 24 jam penuh. Tapi saya harus bisa menanamkan kepercayaan bahwa ada pengawas yang 24 jam selalu ada. Merekalah malaikat di kanan kiri yang Allah tugaskan untuk mencatatat segala perbuatan. Namun Malaikat hanyalah pesuruh Allah, lebih besar lagi keyakinan yang harus dipupuk bahwa Allah Maha melihat. Jangan sampai fasilitas yang kami berikan nanti digunakan secara negatif. *elus-elus perut*.

Fiiuuuh kesannya serius banget ya. Tapi memang harus serius kalau nggak mau anak terbawa arus yang salah. Coba deh buka instagram dan klik explore. Meski kita nggak follow, kadang akun-akun porno-nyeleneh-penuh sensasi nongol sendiri dan kita bisa terbelalak saat lihat followers dan likersnya bisa sampai ratusan ribu. Coba lirik akun dakwah, bisa-bisa kalah saing. Begitulah potret jaman sekarang dimana hal –hal negatif bisa saja digandrungi sebagian besar kalangan termasuk generasi muda. Saya juga kaget banget misalnya foto bocah-bocah pacaran malah likersnya buanyaaak banget dan comment-comment berdatangan dari bocah-bocah lain seperti “waaa envy” atau “relationship goals banget nih  dan comment lain yang kesannya mendukung. Please deh tuh bocah masih minta jajan sama ortu, nilai masih sering remedial aja udah pamer kemesraan di medsos. Haduuh gimana saya sebagai calon mamak nggak tambah khawatir.

Nah jadi saya ingin anak saya kelak meskipun nggak sengaja melihat hal-hal yang negatif di internet, dia menjadi anak yang tanpa ada siapapun manusia di dekatnya mampu klik tombol close dan membuka situs-situs lain yang lebih bermanfaat. Saya ingin dia menjadi anak yang ketika dengan tidak sengaja muncul akun-akun nyeleneh di medsosnya yang dia lakukan adalah istigfar dan memblokir akun tersebut.
*bantu Amiii-in dooong*

Padahal kalau mau dimanfaatkan dengan baik teknologi bisa membantu mempermudah kehidupan kita bahkan mendapatkan penghasilan. Nggak jarang penggalangan donasi untuk korban bencana dan konflik bisa terkumpul dengan the power of socmed. Cuma yaaa ada masanya media sosial setajam silet, kalau nggak dimanfaatkan dengan baik maka bisa melukai. Mungkin tidak langsung membunuh namun luka sayatan silet tentu sangat perih. 

Nah saya sebagai orang biasa tentu nggak bisa dengan gampangnya membuat orang-orang untuk berkomentar dengan santun, atau membuat para bocah-bocah selebgram itu memposting hal-hal yang bermanfaat saja, saya nggak bisa merubah Indonesia (merubah harga cabe aja nggak bisa). Tapi saya bisa mulai dari diri dan keluarga saya sendiri. Mulai dari mendidik anak saya nantinya.
 
 ***
Sekian curahan hati calon mamak muda, semoga kelak bisa punya anak yang memanfaatkan teknologi agar bisa membantu orang banyak. *kalau sudah bisa baca dan main internet jangan lupa baca tulisan mamak ini ya nak*.

1 comment:

  1. aamiin, semoga anaknya punya 'rem' yang bagus jika suatu hari melihat yang buruk

    ReplyDelete

Silahkan komentar dengan nada positif, no SARA. Terimakasih ^^

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS