Belajar Dari Mereka

Wednesday, July 1, 2015



Setiap anak nggak bisa memilih dari rahim siapa mereka dilahirkan. Kita juga nggak bisa memilih latar belakang keluarga kita. Tuhan sudah menentukan takdirnya tepat saat kita keluar dari rahim ibu, menangis kencang sebagai tanda permulaan hidup kita di dunia. Yah, kita bisa nggak bisa memilih rupa dan status sosial orang tua kita. Bagaimanapun, yang Allah berikan tentulah yang terbaik. 

Aku pribadi bersyukur banget lahir sebagai anak ibu Nur dan pak Syarif, dari kecil aku nggak pernah kekurangan kasih sayang, mungkin mereka bukan orangtua yang kaya raya tapi aku nggak pernah merasakan kelaparan hanya karena di dapur nggak ada makanan dan nggak ada uang untuk sekedar membeli beras. Pendidikanku, mainan, kendaraan, semua dapat mereka penuhi.

Dulu aku pikir semua anak di dunia sama sepertiku, punya orangtua yang baik, hidup berkecukupan. Sampai semakin aku besar, aku tahu ternyata nggak semua anak itu sama. Ada yang lahir dan besar tanpa bisa melihat ibunya, atau ayahnya,  atau bahkan kehilangan keduanya. Ada yang lahir tanpa bantuan dokter/bidan, dan tergeletak di tempat sampah. Baru kutahu, merekalah yang disebut anak yatim piatu.

Panti asuhan adalah rumah untuk mereka. Pertama kali aku berkunjung ke panti asuhan (2011), ada perasaan aneh yang menyusup di dalam hati. “kok bisa sih mereka hidup seperti itu?” mereka harus berbagi banyak hal. Kamar tidur, pakaian, makanan, buku, mainan. Semua hal yang di rumah kumiliki sendiri tanpa berbagi dengan saudaraku karena dia juga punya miliknya sendiri. Dan pertanyaan yang lebih menggangguku “bagaimana bisa mereka tumbuh tanpa orang tua?” orangtua yang membelai rambut anaknya sebelum tidur, orangtua yang menggendong anak dipunggungnya, orangtua yang menghibur ketika kita sedih atau sakit, orangtua yang membujuk ketika kita merajuk, orangtua yang selalu ada kapanpun kita membutuhkannya.

Pulang dari panti asuhan, aku sempet nangis. Aku nggak bisa ngebayangin kalau harus hidup seperti mereka. Tanpa orangtua. Aku yang selalu suka dipelukan papa, aku yang selalu suka dibelai rambutnya oleh mama, aku yang menggantungkan banyak hal kepada mereka. Tuhan Maha tahu, dia memberiku orangtua yang utuh karena aku nggak sekuat anak-anak di panti yang masih bisa menikmati hidupnya dengan riang meski tanpa orangtua.

Sejak itu aku memutuskan bergabung dengan komunitas sosial di Jambi, nggak banyak yang bisa aku bagi kecuali waktu untuk bermain bersama mereka. Aku ikut kegiatan sosial bukanlah karena aku punya jiwa sosial yang tinggi, tapi karena aku butuh sesuatu untuk merendahkan hati yang sering meninggi. 

Berkecukupan harta dan kasih sayang membuatku sering lupa bersyukur. Dengan melihat anak-anak di panti, aku kemudian sadar bahwa setiap masalah yang aku punya harusnya nggak membuatku lemah. Karena aku punya orangtua untuk mengadu, sahabat untuk berbagi, uang untuk membeli apapun yang membuatku senang. Sedangkan mereka, meski kekurangan hal tersebut namun tetap bisa menjalani hidup dengan ikhlas. 

Sering banget malu sendiri ketika ngegalauin mantan hal yang sebenarnya nggak penting. Bersama anak-anak panti itulah aku berasa ketampar. “heloooow Ein, diphpin gebetan aja galau. Padahal lo punya banyak hal yang harus disyukuri. Mau kalau semua yang lo punya diambil lagi sama Allah?” hiyyy nggak mau!!

Manusiawi kalau kita sering tinggi hati disaat Allah kasih banyak kenikmatan di dalam hidup. Sebelum Tuhan murka karena kita sombong padahal itu semua hanyalah titipan, carilah sesuatu yang bisa merendahkan hati. Berkunjunglah ke panti asuhan, bergabunglah dengan komunitas sosial. Beda lho sensasinya dengan sekedar kamu menyumbangkan nominal rupiah dengan kamu datang sendiri ke panti dan bermain bersama mereka.

Naaaaaaaah, untuk itu bagi kalian yang baca tulisan ini ada acara seru yang bisa kamu ikuti untuk merasakan sensasi senangnya berbagi bersama anak yatim/piatu/dhuafa di bulan ramadhan ini. InsyaAllah ada buka bersama 100 orang anak tanggal 4 Juli 2015 di Perpustakaan kota Jambi. Acara ini digagas oleh komunitas-komunitas anak muda Jambi. Info lengkapnya ada di bawah ini :



“untuk yang berdomisili di luar Jambi gimana dong?”
Kalian tetap bisa donasi melalui transfer ke no rekening yang tertera diatas. Setiap update kegiatan mulai dari pengumpulan donasi, kegiatan berlangsung, dan laporan akan diupdate di instagram @beplus_jambi. InshaAllah berkah dan amanah. 
Kalau kalian bisa baca tulisan ini, berarti kalian punya gadget yang canggih. Kalau mampu beli gadget, masak sedekah yang nilainya hanya sekian persen dari harga gadget kalian nggak mampu? #maksa

Oh ya, by the way... aku pribadi juga menampung sedekah lho,


 sedekah perhatian dari kamu. 



#eaaa #tetepmodus #bye

1 comment:

  1. ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
    Tulisan yang bagus. :)
    ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬

    ReplyDelete

Silahkan komentar dengan nada positif, no SARA. Terimakasih ^^

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS