Ditilang?

Tuesday, January 13, 2015

Kemarin, untuk pertama kalinya selama memakai kendaraan bermotor aku kena tilang polisi lalu lintas. Jadi ceritanya aku dan temen mau ke salah satu destinasi wisata di kota Jambi, yaitu Tanggo Radjo untuk menikmati sore disana. Niatnya kita mau foto-foto sambil ngeliat panorama senja di tepian sungai Batanghari ditambah dengan kokohnya bangunan baru jembatan pedestrian & menara Gentala Arasy yang jadi icon baru kota Jambi. Secara sebagai anak setengah gaul Jambi, kayaknya belum hits gitu kalau belum upload foto selfie dengan background jembatan dan menara tersebut.

Tapi rencana tinggallah rencana wahai kakanda, belum juga nyampe di tengah jalan kita dicegat polantas. Salahnya sih karena teman yang bawa motor di depan motor aku salah belok, lebih salah lagi karena aku ngikutin aja. Jadilah kita berdua (kita bawa motornya masing-masing) di-stop-in dua orang polisi.

"Surat-suratnya mana dek?"

Deg!!


Aku baru ingat kalau nggak bawa STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan), karena sebelum pergi memang aku nitipin STNK sama papa karena mau diperpanjang. Karena yang ada cuma SIM (Surat Izin Menikung Mengemudi), ya udah itu aja yang aku serahin. Sayangnya temen aku tuh yang nggak bawa SIM & STNK. Kemudian kami diajak ke pos polisi, disana ternyata ada beberapa orang yang rupanya kena pelanggaran juga. Ada yang nggak pakai helm, nggak pakai spion, untung aja nggak ada yang nggak pakek baju.

Karena emang ngerasa salah, aku bilang ke pak polisinya untuk bikin surat tilang sesuai prosedur. Sebenarnya aku nggak terlalu paham gimana prosedur kalau ditilang kayak gini cuma aku ingat pernah baca artikel kalau kita melakukan pelanggaran ya mintalah surat tilang yang nantinya kita akan bayar denda sesuai ketentuan.

Tapi pak polisinya bilang kalau mau sesuai prosedur berarti motor temen aku ditahan karena dia nggak bawa STNK & SIM. Lah aku protes dong "nggak bisa gitu dong pak, saya kan cuma nggak bawa STNK. Saya minta surat tilang aja, tanggung jawab kan masing-masing"

Rupanya beliau lebih pintar.

"Jadi kamu nggak kasihan sama temen kamu? kalau sesuai prosedur temen kamu ini motornya harus ditahan dan baru menjalani persidangan tanggal 30 Januari"

"tanggal 30? ah nggak mau pak" temen aku langsung protes.

"Makanya kalau sesuai prosedur dua-duanya sesuai prosedur. Kalau mau saya 'bantu' dua-duanya saya bantu"

Si bapak polisi ini memanfaatkan situasi dengan menguji kesetiakawananku. Mungkin dia sudah paham banget sama sikon kayak begini. Dimana-mana kan cewek apa-apa pakai perasaan. Disatu sisi aku nggak suka cara si bapak yang bukannya menjelaskan kami melanggar UU no berapa, apa sanksinya, atau setidaknya menerangkan prosedur ketika ditilang. Disisi lain aku kasihan juga sama temen aku yang motornya bakal ditahan kalau ngikutin prosedur. Sumpah ya, galaunya saat itu kayak galau mau mutusin ngelanjutin hubungan atau berhenti sampai disini #eh.

"Ayo dek cepetan, udah sore ini" si bapak membuyarkan suara hati aku yang sedang dilema.

"Emangnya kalau sesuai prosedur gimana sih pak?"

"Kalau kamu cuma saya kasih surat tilang dan bayar denda karena STNKnya aja yang nggak ada. Kalau temen kamu ini motornya harus ditahan dan ikut sidang. Ribet kan? makanya saya bantu biar mudah. Ini kamu lihat aja, bayar yang mana kamu sanggup aja." Beliau menyodorkan kertas apaan nggak tahu karena nggak dikasih kesempatan baca tapi mungkin itu surat tilangnya. Si bapak itu cepet banget bolak-balikin kertasnya yang sambil nunjuk daftar nominal denda yang harus dibayar. Kalau nggak salah inget yang paling kecil itu nominalnya Rp100,000,- dan paling besar Rp1,250,000,-. Gilaaaak!! pelanggaran macam apa ya kalau harus bayar denda sampai seharga cabe 15 kg gitu? (kenapa harus cabe perumpamaannya? ah tauk deh).

Lagi-lagi mendengar kata-kata "motor ditahan" bikin temen aku takut dan langsung mengeluarkan selembar uang seratus ribuan. "Ini pak, tapi Rp50,000,- aja bisa pak? jadi Rp100,000,- berdua" Eh buseet, ini pos polisi apa pasar sih pakek acara tawar menawar. Tapi mungkin hari itu kita lagi dikasih diskon, bapaknya mengiyakan dan selembar uang seratus ribu rupiah itu berpindah tangan.

Habis itu ya udah, bapaknya pergi menangani korban pelanggar lainnya. Waduuuh ternyata apa yang diceritain sama temen-temen aku yang pernah kena tilang itu bener kalau ternyata semua bisa diselesaikan dengan lembar rupiah yang istilahnya "damai".

Untungnya aku sempat foto si bapak polisi yang menangani kami. Tapi karena grogi, cuma kefoto sampai lehernya doang :[ trus fotonya aku upload ke facebook sekalian curhat, banyak aja yang komen hehe. Ada yang ikut kesal karena sikap oknum tersebut, ada yang nanya-nanya kronologis kejadiannya gimana (nih udah aku tulis), ada juga yang nyuruh ikhlasin. Aku sih ikhlas-ikhlas aja yang keluar duit kan temen, bukan aku :P
helmnya bagus tuh, pak. #salahfokus

Tulisan ini aku buat nggak ada maksud sama sekali menjatuhkan nama baik korps kepolisian. Ini murni sebuah opini dari gadis lugu salah satu warga negara yang punya hak untuk berpendapat. Toh aku rasa banyak kok teman-teman yang mengalami hal yang sama. Jujur sih aku nggak masalah kalau ditilang dan harus bayar denda atau bahkan disidang ya karena memang melanggar lalu lintas atau nggak bawa surat-surat. Kita mesti fair dong, jangan maunya marah-marah aja kalau ditilang padahal emang bandel nggak pakai helm atau surat-surat nggak lengkap. Cuma ya oknum yang nakal ini lho bikin gregetan, kan nggak semua orang ngerti hukum jadi sudah tugas merekalah menegur, mengingatkan, menjelaskan, dan memberi sanksi terkait prosedur jika ada masyarakat yang melanggar lalu lintas.  Setuju? Setuju dong ya!!


Bukannya sok-sok idealis juga sih, cuma ya mikir aja pakai logika. Kalau kita pakai cara "damai" itu uangnya masuk ke kantong pribadi. Sedangkan kalau kita bayar sesuai prosedur itu masuknya ke kas negara, ya setidaknya apa yang kita bayar bakal berguna juga kan untuk pembangunan negara kita tercinta. Lagian kalau nggak mau kena denda ya surat-suratnya dilengkapi, pakai helmnya. Lagian helm itu dipakai bukan untuk menghindari polantas, tapi untuk keselamatan kepala kita juga. Coba deh pegang aspal jalanan, keras kan? kalau kepala yang nggak pakai helm beradu mesra sama aspal gara-gara kecelakaan rasanya pasti pedas-pedas-gurih gitu hiiiy.


Apakah setelah ini aku jadi antipati sama yang namanya polisi? Soalnya ada temen aku yang pernah kena kasus yang sama setelah itu dia jadi benci sama polisi sampai bersumpah nggak mau nikah sama polisi #jiaaaah. Kalau aku? kejadian yang aku alami karena perbuatan "oknum" ini bukan berarti semua polisi itu sama. Ada kok polisi lalu lintas yang benar-benar menegakkan peraturan. Ada kok polisi yang memang benar-benar mengayomi dan cepat tanggap menolong masyarakat. Ada kok polisi yang pantas kita banggakan karena dedikasinya terhadap masyarakat dan negara ini. Ada kok polisi ganteng yang baik hati, kerjanya bener dan masih single #ups #fokusdongein


Semoga ini bisa jadi pelajaran untuk aku dan kalian semua. Karena ketidakadilan itu bukan karena banyaknya orang jahat, tapi karena banyaknya orang-orang baik yang mendiamkan ketidakadilan tersebut. #Eaaa #BukanMaiiin.

Oh ya gara-gara ditilang aku jadi browsing-browsing bagaimana cara yang benar saat ditilang yang bisa kalian baca disini. Begitulah pembaca yang budiman dan budiwoman, semoga tulisan ini dapat menginspirasi. Menginspirasi untuk tetap mau nikah sama polisi. #lho


Terakhir, jangan mau deh jalan damai kalau kejadiannya kayak dibawah ini.

sumber foto : @dagelan

13 comments:

  1. Siap 86. Aku jugga pernah ditilang, tapi untungnya lolos terus. Pernah juga ditilang sama polwan cantik banget tapi lolos juga, badahal wakt itu mau pengen lama2 ditilang sama mbak polwannya. *loh kok malah curhat gini* Keren Enny postingan lo ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha makasih ya udah mampir ^^ tapi polwan cantiknya galak nggak? :p

      Delete
  2. mm, kalau cewek biasanya pengganti uang. minta pin, minta no hape, atau minta jadi pacarnya. hahahahaha
    kalau cowok. uda kayak ngadap bandit aja. sambil megang kumis pak polisi

    ReplyDelete
  3. Kok nggk langsung "Damai" aja? Malah bikin gregetan dulu -_-
    Gue malah pernah damai dijalan diliat orang pula wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. #NowPlaying Sherina - Geregetan :P

      Delete
  4. engga dimana mana deh ya kebanyakan emang begitu, waktu itu untuk yang pertama kalinya gue kena 100rb kedua kalinya kena 150rb *mungkinkarnakenaikanbbmkali dan seterusnya, akhirnya gue memutuskan untuk naik kereta aja deh -_- soalnya selalu dicari kesalahannya kalo lagi posisi itu mah -_- atuhlah da akumah apa atuh cuman warga biasa yang hanya bisa mengalah :') hikss

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau aku semenjak ditilang jadi lebih milih nebeng kemana-mana. Nggak perlu takut ditilang, gratisan pula mhuhaha #nggaktahudiri

      Delete
  5. Gue jua pernah tuh. Penen jua foto si abang polisi, tapi gak jadi. Soalnya sendirian. Kan merinding dangdut jadinya. Salam kenal ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga ^_^ hihi hanmpir semua pernah ngalamin yak ^_^

      Delete
  6. Hahaha itu foto yang terakhir bikin ngakak. Aku juga sering ditilang, katanya kayak anak SMP bawa motor. Hiks. *malah curhat*
    Anyway, baru pertama kali main kesini nih. Salam kenal ya mbak. \:D/

    ReplyDelete
  7. Keren mbakk, liat postingannya bikin ngakak haha. Salam kenal y mbak. Kalau boleh mampir juga y mba ke blog shelmalia.blogspot.com

    ReplyDelete

Silahkan komentar dengan nada positif, no SARA. Terimakasih ^^

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS