Cerpen : Pertemuan Empat Belas Tahun

Saturday, March 22, 2014



PERTEMUAN EMPAT BELAS TAHUN
Oleh : Enny Luthfiani

Pagi itu Agung melaksanakan pekerjaan rumah seperti biasa. Agung sudah terbiasa bangun jam empat subuh dan bergegas mengangkut air dari sumur belakang untuk memenuhi bak mandi. Tugas Agung bukan hanya mengangkut air tapi juga mencuci baju, mencuci piring, menyapu lantai, merebus air dan memasak. Pekerjaan rumah yang pada umumnya dilakukan ibu rumah tangga harus dilakoni oleh anak yang baru berumur empat belas tahun.
Agung ikhlas melakukan semua pekerjaan rumah tersebut. Karena hanya itu yang bisa dia lakukan untuk meringankan beban bapak. Agung ingin sekali membantu bapak mencari uang, tapi bapak bilang Agung harus fokus terhadap sekolahnya, dia tidak boleh menjadi seperti bapak.
Bapak adalah lelaki berumur tiga puluh delapan tahun namun wajahnya kelihatan jauh lebih tua daripada umurnya. Mungkin karena bapak adalah pekerja keras yang memanfaatkan otot dan tenaganya untuk mengumpulkan rupiah. Bapak adalah seorang kuli angkut di pasar. Dia keluar rumah pagi-pagi sekali dan baru pulang ketika lewat magrib. Kulit bapak hitam karena sehari-hari berteman dengan terik mentari, tangannya kasar dan kapalan. Bapak juga sangat kurus karena bapak tidak pernah makan lebih dari satu piring nasi setiap hari. Meskipun begitu, bagi Agung bapak adalah lelaki tergagah yang paling dia kasihi.
ini sarapannya, Pak” Agung meletakkan segelas kopi hitam dan sepiring kecil singkong rebus di atas meja.
iya, Gung. Ngomong-ngomong gimana sekolahmu nak?” Bapak menatap Agung yang sibuk memasang dasi di lehernya.
Baik, pak. Bulan depan Agung UAS (Ujian Akhir Semester). Do’akan supaya semester ini Agung dapat rangking lagi ya”
“Selalu. Do’a bapak selalu ada untuk Agung”
Agung nyengir dengan menampakkan giginya yang putih dan rapi kemudian ikut mencomot singkong rebus di atas meja. Bapak menatap agung yang sedang mengunyah singkong rebus sembari membolak-balik buku pelajarannya, hal yang setiap pagi dilakukan Agung sebelum berangkat sekolah. Bapak begitu mencintai anak semata wayangnya. Baginya Agung adalah harta paling berharga yang dititipkan Tuhan untuknya. Itulah mengapa meskipun bapak harus bekerja keras membanting tulang menjadi kuli angkut di pasar setiap harinya yang bermandikan peluh, bapak tidak pernah mengeluh. Baginya semua lelah akan hilang ketika menyaksikan Agung tumbuh menjadi anak yang sehat dan  cerdas.
Bapak ingat sekali hari dimana Agung terlahir ke dunia. Tangisan agung bagaikan suara surga yang sampai ke telinga bapak. Pelan-pelan bapak menggendong Agung dan melantunkan adzan ditelinganya. Agung terlahir sehat dan sempurna. Meskipun sewaktu Agung masih dalam kandungan berusia enam bulan, ibunya pernah mencoba membunuh janinnya sendiri dengan meminum jamu khusus untuk menggugurkan kandungan. Syukurlah bapak yang waktu itu baru pulang dari pasar dan terkejut melihat istrinya pingsan langsung membawanya ke rumah sakit. Allah melindungi Agung, janin di dalam perut istrinya baik-baik saja.
Pak, sudah jam setengah tujuh nih ayo kita berangkat” Suara Agung membuyarkan lamunan bapak.
Ah, ayo nak. Periksa sekali lagi perlengkapan sekolahmu. Jangan sampai ada yang terlupa” Bapak mengingatkan sembari beranjak dari tempat duduknya, mengambil topi dan mengeluarkan gerobak kayu dari samping gubuk mereka.
Agung melangkah riang disamping bapaknya yang berjalan sembari menarik gerobak kosong sebagai modal kerja untuk mengangkut barang-barang di pasar. Waktu masih SD agung malah naik di atas gerobak sampai ke sekolah. Agung tidak malu sama sekali, bahkan dia mengajak beberapa teman yang sedang berjalan kaki untuk naik gerobak bersamanya sampai ke sekolah. Bapak yang berkeringat karena menarik gerobak berisi anak-anak tersebut hanya tersenyum senang. Karena bagi bapak keceriaan Agung adalah hal yang utama.
Agung dan bapak berpisah di persimpangan jalan karena pasar dan gedung SMP Agung berlainan arah. Tidak lupa Agung mencium punggung tangan bapaknya dengan khitmat dan bapak mengelus rambut agung dengan lembut sembari berpesan untuk jangan nakal di sekolah dan belajar yang rajin. Agung mengangguk dan kembali melanjutkan langkah menuju sekolah.
Gung, uang jajanmu nak” Bapak kembali memanggil Agung karena dia hampir lupa memberikan uang jajan.
Nggak pak, Agung udah kenyang” Agung malah semakin mempercepat langkahnya hingga setengah berlari.
Agung sudah terbiasa tidak jajan di sekolah. Baginya, singkong rebus di pagi hari sudah cukup menjadi asupan energi untuk menyerap ilmu di sekolah. Bukan karena bapak pelit atau tidak punya uang untuk jajan Agung, tapi lebih karena dia ingin bapak menyimpan uangnya untuk kesenangan bapak sendiri. Agung ingin bapaknya tidak hanya makan nasi putih dan telur goreng, dia ingin sesekali saat istirahat siang bapak membeli nasi bungkus lauk ayam goreng atau rendang di rumah makan di pasar tempat bapak bekerja. Agung begitu mencintai bapak, lebih baik puasa di sekolah dan bapak bisa makan enak di pasar.
Bapak menatap agung yang semakin menjauh. Agung selalu begitu, kalau bukan bapak yang kadang-kadang harus menyelipkan uang ke dalam tas sekolahnya Agung tidak akan membawa uang jajan. Bukan karena bapak pelit atau tidak punya uang, untuk agung bapak akan selalu menyisihkan uang hasil kerja kerasnya, namun Agung sendiri yang kerap menolak diberi uang jajan. Padahal bapak rela setiap hari hanya makan nasi dan telur goreng supaya Agung bisa jajan di sekolah.
Bapak menghela nafas dan kembali menarik gerobaknya menuju pasar.
***
Seperti biasa pasar selalu ramai dengan suara riuh rendah antara penjual dan pembeli yang saling tawar menawar agar kedua belah pihak mendapatkan harga yang pas. Bapak sedari pagi sibuk bolak balik mengangkut barang dari truk ke toko Koh Asyong yang memasok sembako di pasar tersebut. Koh Asyong orang yang baik, setiap dia perlu tenaga untuk mengangkut barang-barang ke tokonya, dia selalu mencari bapak. Bapak orangnya rajin dan ulet begitu kata koh Asyong. Bapak juga menghormati koh Asyong karena selain beliau termasuk salah satu pemilik toko besar di pasar ini, dia juga sering memberikan upah lebih untuk bapak. “untuk jajan anak” begitu kata koh Asyong saat membayarkan upah lebh dari yang semestinya.
Setelah beberapa kali bolak balik mengangkat barang, bapak istirahat sejenak di tepi tumpukan karung gandum di toko koh Asyong. Bapak mengibas-ngibaskan topinya untuk mendapatkan sedikit angin guna mengeringkan peluh yang bercucuran di wajahnya.
Suharman. Kamu Suharman, kan?” Bapak menoleh karena merasa ada yang menyebut namanya. Terkejut bapak ketika melihat siapa yang memanggil namanya.
Tanti, kenapa kamu bisa ada disini?” Bapak langsung mengenali sosok wanita di depannya yang telah empat belas tahun tidak pernah bertemu.
Kemudian bapak dan perempuan yang bernama Tanti tersebut duduk bersama di salah satu rumah makan di pasar. Bapak meneguk es teh yang tersedia di atas meja sambil tetap melihat wanita yang saat ini duduk di depannya. Bapak heran, kenapa takdir kembali mempertemukan bapak dengan wanita ini.
Jadi.. kamu kerja di pasar ini setiap hari?” Wanita yang berparas cantik dengan bibir tipis yang dipoles lipstik merah itu memulai pembicaraan.
Iya, aku jadi kuli angkut disini. Apa kabar kamu? sudah empat belas tahun kita tidak berjumpa” Bapak berbicara sambil menyelipkan nada sinis dalam kalimatnya.
Kabarku baik. Aku baru sebulan tinggal di kota ini karena suamiku harus pindah tugas kesini. Aku juga baru pertama kali ke pasar ini dan aku juga tidak menyangka bertemu denganmu disini. Sekarang kau tinggal dimana?”
“Tidak jauh dari sini”
Dengan siapa kau tinggal?”
“Apa pedulimu?”
Perempuan itu menghela nafas.
Bisakah nada bicaramu tidak usah sinis begitu? Aku tau kehadiranku mungkin mengejutkanmu. Tapi aku sangat bersyukur hari ini kita bertemu disini. Kau tahu, ketika suamiku bilang akan pindah ke kota ini aku sangat senang. Aku bertekad akan memulai pencarianku di kota ini. Aku merindukan dia, Suharman. Anakku. Apa dia tinggal denganmu sekarang? Bagaimana dia? Sudah sebesar apa dia sekarang? Kelas berapa? Dia sekolah kan?”
Bapak tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan perempuan tersebut. Bapak menunduk dan mengepal tangannya kuat-kuat, ingatan bapak kembali ke empat belas tahun silam.
Bapak sewaktu muda menjadi idola para gadis karena gayanya yang perlente, dulu diantara teman-temannya hanya bapak yang mampu memakai motor gede karena memang bapak anak seorang pengusaha sukses. Bapak juga orangnya ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja. Mungkin karena itulah seorang gadis bernama Tanti jatuh hati kepada bapak. Bapak yang terpikat dengan kecantikan gadis tersebut akhirnya memilih dia menjadi istrinya.
Kehidupan rumah tangga bapak berjalan lancar dan bahagia sampai pada suatu hari bapak mendapat kabar kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan mobil saat hendak menuju luar kota untuk urusan bisnis. Bapak benar-benar terpukul, bapak kehilangan pegangan.
Tidak ada yang meneruskan bisnis orangtua Suharman, dia yang waktu itu terbiasa dengan kemewahan yang diberikan orangtuanya benar-benar menyesal kenapa dulu tidak melanjutkan kuliah di jurusan bisnis. Alhasil, hanya dalam hitungan bulan harta kedua orangtuanya habis untuk membayar hutang perusahaan yang kemudian disita oleh bank dan untuk keperluan hidup bapak dan istrinya yang tengah hamil muda.
Tidak ada pekerjaan, harta mulai habis, membuat cinta Tanti luntur kepada Suharman. Namun perutnya yang membuncit karena mengandung buah dari hasil cinta mereka membuat Tanti tidak bisa meninggalkan Suharman begitu saja. Sempat Tanti mencoba menggugurkan kandungannya, karena dia pikir percuma anak ini lahir kalau hanya untuk hidup susah di dunia. Namun takdir menetapkan anak itu harus lahir ke dunia.
Tanti mencintai anakknya, namun kilaunya harta dunia membuat Tanti pergi dengan lelaki lain yang lebih mapan. Anaknya ditinggalkan begitu saja di atas dipan dengan sepucuk surat yang berisi pesan kepada Suharman untuk mengurus anak mereka, sementara dia sudah tidak tahan hidup dalam kemiskinan.
Bapak mengendurkan kepalan tangannya. Semenjak hari itu bapak berjanji kepada diri sendiri untuk bekerja keras merawat dan membesarkan Agung. Meskipun hati bapak sangat hancur karena ditinggal perempuan yang sangat ia cintai namun bapak berjanji untuk terus tegar demi Agung. Pernah beberapa kali Agung menanyakan tentang sosok ibu, terpaksa bapak mengajak agung ke pemakaman, bapak memilih sebuah kuburan dan mengatakan itulah ibu agung yang harus pergi ketika melahirkan dia. Agung kecil menangis tersedu-sedu, dia merasa berdosa karena dirinyalah ibu harus kehilangan nyawa. Semenjak itu Agung berjanji akan menjadi anak baik dan patuh kepada bapak sebagai balas jasa pengorbanan ibu. Bapak terpaksa berbohong, Agung akan lebih terluka hatinya jika tahu kenyataan yang sebenarnya.
Suharman, izinkan aku bertemu anakku” Tanti membuka suara kembali karena sedari tadi lelaki di hadapannya hanya menunduk dan diam.
Agung sudah hidup bahagia selama ini. Meskipun aku hanya seorang kuli angkut di pasar, tapi dia kudidik untuk selalu bersyukur dengan kesederhanaan. Aku mengatakan bahwa ibunya sudah mati ketika melahirkannya ke dunia. Dia akan bingung dan terkejut saat tahu bahwa ada wanita yang mengaku sebagai ibunya. Bukankah dalam suratmu empat belas tahun yang lalu kau sudah mantap meninggalkan kami? Bukankah sekarang sudah kau dapatkan kemewahan yang kau inginkan!” Bapak berbicara sambil menahan sesak di dalam dadanya.
Gantian kini Tanti yang tertunduk dalam. Apa yang dibilang Suharman tidak ada yang salah. Empat belas tahun lamanya dia meninggalkan suami dan anaknya hanya demi mengejar harta dunia. Selama empat belas tahun pula bukan kebahagiaan yang Tanti rasakan namun rasa bersalah. Mungkin suaminya yang sekarang memberikan rumah dan kendaraan yang mewah, namun tetap saja jauh di dalam hatinya Tanti merasakan sakit yang luar biasa. Terutama ketika dia melihat sosok bapak-bapak yang menggendong anak lelaki, dia langsung teringat Suharman dan anaknya yang ternyata diberi nama Agung. Oh, jika ada yang mampu menebus dosanya pasti akan Tanti lakukan.
Dengan berlinang air mata, Tanti meninggalkan Suharman saat itu juga. Bapak memandang kepergian wanita itu dengan berkaca-kaca. Jujur di dalam hatinya, bapak merindukan wanita yang dari dulu sampai detik ini masih dicintainya.
***
Semenjak pertemuan itu, bapak terlihat murung. Ketika Agung menanyakan apa alasan yang membuat bapak terlihat murung, bapak hanya menjawab dengan senyuman dan mengatakan bahwa bapak hanya kecapekan. Bapak tidak ingin Agung tahu bahwa hatinya dilandah gundah gulana semenjak pertemuan dengan Tanti. Di satu sisi, dia ingin Tanti melihat bahwa buah cinta mereka tumbuh sehat, cerdas dan  bagus budi pekertinya. Namun di lain sisi, kekecewaan karena pernah ditinggalkan membuat bapak ingin melupakan sosok wanita tersebut.
Agung sedih melihat bapak murung terus. Sempat Agung terfikir mungkin bapak kesepian. Bapak tidak pernah mau menikah lagi semenjak ibu tiada. Bapak bilang, Bapak tidak butuh siapapun lagi karena sudah ada Agung disisinya. Padahal, diam-diam Agung juga merindukan sosok ibu. Agung sangat senang mengarang, namun Agung meringis sedih saat guru Bahasa Indonesia memberikan tugas mengarang bertemakan kasih sayang ibu. Karena jangankan kasih sayang, melihat sosok ibunya sendiripun dia tidak pernah. Bapak bilang, foto-foto ibu sudah lama hilang saat terjadi musibah banjir dulu.
Pun semenjak pertemuan dengan Suharman waktu itu, Tanti juga banyak melamun di rumahnya yang megah nan indah. Tanti tidak dikaruniai anak dengan suaminya yang kaya raya. Suaminya pun hanya menjadikan Tanti sebagai budak penjaga rumah karena selain mengurus bisnisnya dengan terang-terangan dia menikah dengan wanita lain yang lebih muda dan dapat memberikan keturunan. Tanti tidak pernah meminta cerai karena meski suaminya jelas-jelas mendua, dia tetap diberikan uang dan fasilitas mewah setiap bulan. Sungguh harta telah membutakan mata hatinya.
Namun kalimat Suharman saat pertemuan mereka beberapa waktu lalu membuat tanti banyak berfikir. Setiap Tanti mengingat nama “Agung” ada rasa sesak di dalam dadanya. Naluri seorang ibu perlahan membuka mata hatinya yang selama ini buta hanya demi harta.
Sama seperti empat belas tahun yang lalu, Tanti akhirnya kembali membuat keputusan bulat yang akan dia jalani.
***
Malam itu Agung tengah membaca buku matematika ditemani bapak yang juga asyik membaca koran. Begitulah bapak, meskipun pendidikannya tidak tinggi namun beliau selalu haus akan ilmu dan informasi. Hobi Membaca Agung ditularkan oleh bapak.
Namun Agung tidak sepenuhnya berkonsentrasi dengan rumus-rumus yang ada didalam buku matematikanya, sebentar-sebentar agung melirik ke arah pintu rumah kecil ini. Ada sesuatu yang ditunggunya, rasanya hati Agung meletup-letup tidak karuan menunggu kedatangan seseorang.
Assalamualaikum...” Ada yang mengucapkan salam sambil mengetuk pintu rumah Agung.
Agung melemparkan buku matematikanya begitu saja dan cepat-cepat menuju pintu. Bapak ikut-ikutan melihat ke arah pintu dan alangkah kagetnya bapak ketika melihat sosok yang berdiri ketika agung membuka pintu.
Agung langsung memeluk erat sosok itu. Agung melampiaskan semua kerinduannya selama ini melalui pelukan tersebut. Begitu pula dengan wanita tersebut, dipeluknya kuat sembari dielus dan diciumnya kepala Agung dengan penuh kasih sayang.
Tanti.. kenapa kau bisa tahu rumah ini?” Bapak akhirnya membuka suara setelah menjadi penonton adegan ibu dan anak tersebut.
Pak... Agung sudah tahu semuanya” Agung melepaskan pelukannya dan menjelaskan semuanya “Beberapa hari yang lalu ibu datang ke sekolah Agung. Agung kaget waktu ibu ini mengaku sebagai ibunya Agung. Bukannya bapak pernah bilang kalau ibu sudah meninggal saat melahirkan agung. Tapi kemudian ibu menceritakan semuanya. Ibu bahkan masih ingat bahwa Agung punya tanda lahir di punggung. Ibu bilang untuk menebus semua kesalahannya ibu rela meninggalkan suaminya yang kaya raya itu, Ibu akan tinggal bersama kita di rumah reot ini. Ibu janji nggak akan meninggalkan Agung lagi. Ibu janji juga tidak akan menyia-nyiakan bapak lagi. Pak, Agung tahu mungkin bagi bapak nggak mudah untuk merima ibu kembali. Tapi bukannya bapak yang selalu mengajarkan Agung untuk nggak dendam dan memaafkan orang yang sudah menyakiti kita? Agung juga tahu bahwa bapak masih sangat mencintai ibu. Agung pernah menemukan kertas bertuliskan “Tanti” di dalam sarung bantal bapak. Pak, Agung mohon maafkan ibu.”
Bapak tidak menjawab perkataan Agung. Mata bapak berkaca-kaca. Perlahan dia berjalan menuju Agung dan diraihnya anak itu. Dipeluk dan diciumnya Agung. Sungguh bapak terharu bahwa bocah empat belas tahun ini lebih mampu berbesar hati daripada dirinya sendiri.
Bapak menoleh ke arah Tanti. Bapak menghela nafas dan kemudian tersenyum.
***
Harta mungkin membuat kita jatuh cinta, namun cinta berlandaskan harta akan menguap ketika ia tak lagi bertahta. Namun seberapa jauh sesorang yang kita cintai pergi, cinta yang tulus akan membawanya kembali. Bapak, Agung dan ibunya percaya bahwa cinta tidak pernah gagal dalam menciptakan kebahagiaan.
***

3 comments:

  1. Baca 10 menitan..
    Jadi terharu bacanya..
    Cinta memang buta, tapi suatu saat cinta itu juga yang menyadarkan bahwa cinta itu sebenarnya tidaklah buta. :)

    ReplyDelete
  2. Salam Takzim
    Cinta terhadap anak memang segalanya dan cinta ibu sepanjang waktu, semoga menjadi bahan renungan bagi para pasangan muda yang harus berpisah atau terpisah
    Salam Takzim Batavusqu

    ReplyDelete
  3. Bagus, jadi ingat juga sudah lama gak menulis cerpen. Nulis cerpen tentang warga binaan dong. :))

    ReplyDelete

Silahkan komentar dengan nada positif, no SARA. Terimakasih ^^

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS